RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Di era media sosial ini, definisi orang kaya sering kali dikaburkan oleh postingan "flexing": pamer jam tangan mewah, mobil sport, atau liburan di kapal pesiar. Namun, jika Anda perhatikan tokoh-tokoh terkaya dunia seperti Mark Zuckerberg atau mendiang Steve Jobs, mereka justru identik dengan kaos polos dan gaya hidup yang terlihat biasa saja.
Apakah mereka pelit? Atau mereka tidak peduli dengan penampilan?
Ternyata, dunia psikologi ekonomi memiliki penjelasan menarik mengenai fenomena ini. Perilaku menyembunyikan kekayaan atau tampil sederhana bagi orang kaya sejati (high-net-worth individuals) bukanlah kebetulan, melainkan sebuah pola psikologis yang disebut "Inconspicuous Consumption" atau konsumsi yang tidak mencolok.
Berikut adalah alasan psikologis mengapa semakin kaya seseorang, sering kali mereka justru semakin terlihat sederhana.
1. Fenomena "Status Signaling" yang Terbalik
Dalam psikologi konsumen, ada teori bahwa orang yang merasa belum aman secara finansial cenderung menggunakan barang bermerek (luxury goods) sebagai sinyal status (status signaling) untuk mendapatkan pengakuan sosial.
Baca Juga: Psikologi Mengungkap Empat Sikap yang Diam-Diam Dimiliki Orang Kaya
Sebaliknya, orang kaya yang sudah mapan secara mental tidak lagi membutuhkan validasi eksternal tersebut.
-
Kepercayaan Diri Internal: Mereka tahu berapa isi rekening mereka, sehingga tidak perlu membuktikannya kepada orang asing lewat logo baju yang besar.
-
Pergeseran Nilai: Menurut buku The Sum of Small Things karya Elizabeth Currid-Halkett, kaum elite modern lebih suka menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak kasat mata (intangible) namun bernilai tinggi, seperti pendidikan anak, kesehatan, privasi, dan dana pensiun, daripada tas branded.
2. Menghindari "Social Friction" (Gesekan Sosial)
Menjadi orang kaya sering kali membawa beban sosial tersendiri, mulai dari rasa iri orang sekitar, permintaan pinjaman uang, hingga risiko keamanan.
Baca Juga: Psikologi Menyebut Orang Kaya Lebih Konsisten pada Hal-Hal Kecil Ini
Secara psikologis, tampil sederhana adalah mekanisme pertahanan diri untuk:
-
Membaur (Blending In): Mereka ingin dihargai karena kepribadian atau ide mereka, bukan karena uang mereka.
-
Menghindari Judgment: Tampil sederhana mengurangi risiko dinilai negatif atau dimanfaatkan oleh lingkungan sosial. Ini memberi mereka ketenangan pikiran yang tidak bisa dibeli dengan barang mewah.
3. Fokus pada "Freedom" Bukan "Stuff"
Penulis buku The Psychology of Money, Morgan Housel, memberikan wawasan brilian mengenai hal ini. Ia menyebutkan bahwa bentuk tertinggi dari kekayaan adalah kemampuan untuk bangun setiap pagi dan berkata, "Saya bisa melakukan apa saja yang saya mau hari ini."
Baca Juga: Psikologi Melihat Pola Menarik pada Cara Orang Kaya Membicarakan Uang
Bagi orang kaya tipe ini, uang adalah alat untuk membeli kebebasan waktu dan otonomi, bukan barang.
-
Mentalitas: Mengurus mobil mewah butuh waktu dan perhatian. Memikirkan outfit mahal butuh energi. Mereka memilih menyederhanakan hidup (minimalis) agar energi mental mereka bisa digunakan untuk keputusan bisnis atau investasi yang lebih krusial.
Perbedaan Orang Kaya Lama (Old Money) vs OKB
Psikologi juga mencatat perbedaan perilaku antara Old Money (kekayaan turun-temurun) dengan Nouveau Riche (Orang Kaya Baru).
-
Orang Kaya Baru: Sering mengalami euforia finansial, sehingga dorongan impulsif untuk memamerkan pencapaian sangat tinggi. Hormon dopamin meletup saat mereka mendapat pujian atas barang barunya.
-
Orang Kaya Lama: Tumbuh dengan kekayaan membuat mereka terbiasa. Bagi mereka, kemewahan adalah kenyamanan pribadi, bukan pertunjukan publik. Inilah mengapa mereka sering terlihat memakai barang berkualitas tinggi tapi tanpa logo yang mencolok (Quiet Luxury).
Kesimpulan
Jadi, jika Anda melihat seseorang dengan penampilan kaos oblong dan celana jeans di sebuah kafe, jangan buru-buru menilai. Bisa jadi, dia adalah orang kaya yang sebenarnya.
Baca Juga: 7 Ciri Orang Kaya Sejati yang Pilih Hidup Sederhana dan Tidak Suka Pamer
Mereka telah mencapai tahap di mana kemewahan bukan lagi tentang apa yang dipamerkan di luar, melainkan ketenangan dan kebebasan yang dirasakan di dalam. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko