Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Orang yang Disegani Tidak Selalu Dominan, Psikologi Menyebut Ada Pola Perilaku Tertentu

Hakam Alghivari • Rabu, 14 Januari 2026 | 22:00 WIB

 

Cuplikan scene drakor King The Land.
Cuplikan scene drakor King The Land.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Tidak semua orang yang disegani hadir dengan suara paling lantang atau posisi paling tinggi. Dalam banyak situasi sosial, rasa hormat justru tumbuh dari interaksi kecil yang konsisten dan sering kali tidak disadari.

Ada orang yang kehadirannya terasa tenang, tidak mendominasi, tetapi pendapatnya didengar. Ada pula yang tidak banyak bicara, namun kata-katanya jarang diabaikan. Psikologi memandang fenomena ini bukan sebagai kebetulan.

Rasa respek tidak muncul secara instan, melainkan terbentuk dari pola perilaku yang berulang dan stabil. Ia bukan sesuatu yang diwariskan oleh jabatan, melainkan dibangun melalui cara seseorang memperlakukan orang lain.

Sejumlah penelitian dalam psikologi sosial menunjukkan bahwa respek adalah kualitas relasional. Artinya, ia hidup dan berkembang dalam interaksi sehari-hari.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Applied Psychology (2014) menyebutkan bahwa persepsi terhadap respek tidak semata ditentukan oleh pencapaian atau prestasi, tetapi juga oleh perilaku interpersonal yang konsisten, seperti menjaga janji, tidak menyela pembicaraan, dan menghormati batasan personal.

Psikolog organisasi Dr. Kristie Rogers dari Marquette University menjelaskan bahwa respek terbagi menjadi dua bentuk, yakni respek sebagai individu dan respek sebagai bagian dari komunitas. Keduanya sama-sama penting dalam membangun posisi sosial yang sehat.

Menjadi orang yang disegani bukan berarti menuntut penghormatan, tetapi menciptakan ruang di mana orang lain juga merasa dihargai.

Berikut sejumlah perilaku yang, menurut psikologi, sering kali membuat seseorang dihormati tanpa harus memintanya.

1. Mampu Mendengarkan Tanpa Menyela

Mendengarkan secara aktif adalah salah satu bentuk penghormatan paling mendasar, namun juga paling jarang dilakukan dengan benar.

Laporan Harvard Business Review (2016) menunjukkan bahwa individu yang dihargai dalam lingkungan kerja dan sosial umumnya bukan mereka yang paling banyak berbicara, melainkan mereka yang mampu mendengarkan dengan penuh perhatian.

Mendengarkan aktif berarti tidak sekadar menunggu giliran bicara, tetapi benar-benar memproses informasi, memberi respons yang relevan, dan tidak memotong pembicaraan.

Secara neurologis, perilaku ini berkaitan dengan aktivasi area otak yang berperan dalam empati, seperti anterior insula dan medial prefrontal cortex. Riset dalam Social Cognitive and Affective Neuroscience (Zaki & Ochsner, 2012) menunjukkan bahwa pendengar yang baik cenderung dianggap aman secara emosional dan layak dipercaya.

2. Konsisten antara Ucapan dan Tindakan

Konsistensi adalah fondasi dari kredibilitas. Ketika ucapan dan tindakan tidak selaras, lingkungan sosial secara naluriah akan menjaga jarak.

Psikolog sosial Leon Festinger melalui teori cognitive dissonance menjelaskan bahwa ketidaksesuaian tersebut menimbulkan ketidaknyamanan psikologis, tidak hanya bagi pelaku, tetapi juga bagi orang di sekitarnya.

Sebaliknya, individu yang konsisten dalam hal-hal kecil—seperti menepati waktu, menyelesaikan tugas, atau memenuhi janji sederhana—cenderung dipersepsikan lebih dapat diandalkan.

Studi Finkelstein & Fishbach (2012) menunjukkan bahwa konsistensi mikro justru memiliki dampak besar dalam membentuk citra diri yang dipercaya dan disegani.

3. Menahan Diri dari Kebiasaan Bergosip

Dalam dinamika sosial, bergosip sering dianggap wajar. Namun, psikologi memandangnya sebagai sinyal yang jauh lebih serius.

Riset yang dipublikasikan dalam Psychological Science (2015) menemukan bahwa reputasi seseorang lebih sering rusak bukan karena isi gosipnya, melainkan karena ia dianggap tidak mampu menjaga integritas sosial.

Orang yang menahan diri dari membicarakan orang lain secara negatif menciptakan rasa aman di lingkungannya. Mereka dinilai lebih dewasa secara emosional dan tidak reaktif.

Psikolog klinis Dr. Ramani Durvasula menyebut sikap ini sebagai character signal, tanda bahwa seseorang memiliki kontrol diri dan etika komunikasi yang kuat.

4. Berani Mengakui Kesalahan dan Meminta Maaf

Mengakui kesalahan sering disalahartikan sebagai kelemahan. Padahal, psikologi menunjukkan hal sebaliknya.

Studi dari University of Waterloo yang dimuat dalam Social Psychological and Personality Science (2010) menemukan bahwa individu yang meminta maaf secara tulus justru dipandang lebih kuat secara moral dan memperoleh respek lebih besar dibanding mereka yang bersikap defensif.

Permintaan maaf yang tulus menunjukkan bahwa seseorang tidak terjebak pada perlindungan ego. Ia bersedia bertanggung jawab atas tindakannya dan memperbaiki relasi yang terganggu.

Dalam jangka panjang, sikap ini memperkuat citra integritas, bukan merusaknya.

5. Menghargai Waktu dan Batasan Orang Lain

Menghargai waktu dan batasan personal adalah bentuk kepekaan sosial yang sering kali luput diperhatikan.

Sikap sederhana seperti menepati janji, tidak memaksakan komunikasi, atau menghormati kebutuhan me time menunjukkan bahwa seseorang memahami ruang pribadi orang lain.

Prof. Sandra J. Sucher dari Harvard Business School dalam bukunya The Power of Trust (2021) menekankan bahwa penghargaan terhadap batasan adalah fondasi hubungan yang sehat dan saling menghormati.

Orang yang mampu menjaga batas ini biasanya lebih dihargai karena kehadirannya tidak terasa menguras, melainkan menenangkan.

6. Disegani Tidak Selalu Berarti Disukai

Psikologi membedakan antara disukai dan dihormati. Keduanya tidak selalu berjalan beriringan.

Seseorang bisa saja populer, tetapi tidak disegani. Sebaliknya, ada individu yang tidak selalu menyenangkan semua orang, namun pendapatnya diperhitungkan.

Respek lahir dari kejelasan nilai, kestabilan emosi, dan konsistensi perilaku—bukan dari upaya menyenangkan semua pihak.

7. Respek Dibangun dari Interaksi Sehari-hari

Psikologi modern melihat respek sebagai sesuatu yang tumbuh dari bawah ke atas. Ia dibentuk dari interaksi kecil yang berulang, bukan dari pencitraan sesaat.

Mendengarkan dengan tulus, menjaga integritas ucapan, tidak bergosip, mengakui kesalahan, serta menghargai waktu dan batasan orang lain adalah ekspresi dari kekuatan emosional dan sosial.

Dalam jangka panjang, perilaku-perilaku ini jauh lebih berdampak dibanding kesan instan yang hanya bersandar pada penampilan luar.

Respek bukan tentang menjadi paling menonjol, melainkan tentang menjadi konsisten dan dapat dipercaya. Dan sering kali, itulah bentuk kekuatan yang paling sunyi—namun paling bertahan lama. (kam/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
#Dominan #bos besar #psikologi #perilaku #disegani #orang