Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Tidak Risih dengan Lingkungan Kotor: Apa Kata Psikologi tentang Kepribadian Seseorang?

Hakam Alghivari • Selasa, 30 Desember 2025 | 04:00 WIB

 

Ilustrasi tempat kotor.
Ilustrasi tempat kotor.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Bagi sebagian orang, lantai berdebu, meja penuh noda, atau kamar mandi yang tidak terawat memicu rasa tidak nyaman. Namun bagi sebagian lainnya, kondisi serupa tidak menimbulkan reaksi berarti.

Perbedaan respons ini kerap dianggap sebagai persoalan kebiasaan atau didikan. Padahal, psikologi melihatnya sebagai hasil interaksi kompleks antara kepribadian, persepsi sensorik, dan proses adaptasi kognitif.

Riset ilmiah menunjukkan bahwa toleransi terhadap lingkungan kotor tidak selalu mencerminkan sikap acuh tak acuh atau malas. Dalam konteks tertentu, ia berkaitan dengan karakter psikologis yang spesifik.

1. Sensitivitas terhadap Rasa Jijik yang Lebih Rendah

Psikologi evolusioner menempatkan rasa jijik (disgust sensitivity) sebagai mekanisme perlindungan dari penyakit.

Namun, penelitian dalam Personality and Individual Differences menemukan bahwa tingkat sensitivitas jijik berbeda antarindividu.

Orang yang tidak merasa risih terhadap lingkungan kotor cenderung memiliki disgust sensitivity lebih rendah.

Mereka tidak secara otomatis mengasosiasikan kotoran dengan ancaman, sehingga respons emosionalnya lebih datar. Ini bukan gangguan, melainkan variasi normal dalam sistem emosi manusia.

2. Keterkaitan dengan Dimensi Conscientiousness

Dalam kerangka Big Five Personality Traits, menjaga kebersihan berkaitan erat dengan dimensi conscientiousness, khususnya aspek keteraturan dan disiplin.

Studi longitudinal yang dimuat dalam Journal of Personality menunjukkan bahwa individu dengan skor conscientiousness rendah lebih toleran terhadap lingkungan yang tidak bersih atau tidak teratur.

Namun, rendahnya conscientiousness tidak otomatis bermakna kepribadian bermasalah. Individu ini sering kali lebih fleksibel, kurang perfeksionis, dan tidak mudah terganggu oleh detail lingkungan.

3. Adaptasi Lingkungan dan Normalisasi Kondisi Kotor

Psikologi lingkungan menjelaskan fenomena habituation, yakni kecenderungan otak menurunkan respons terhadap stimulus yang sering ditemui.

Penelitian dalam Journal of Environmental Psychology menunjukkan bahwa orang yang lama terpapar lingkungan kotor atau tidak higienis cenderung menganggap kondisi tersebut sebagai “normal”.

Dalam konteks ini, ketidakrisihan bukan pilihan sadar, melainkan hasil adaptasi psikologis. Otak belajar menghemat energi dengan tidak terus-menerus memicu respons negatif.

4. Fokus Kognitif pada Hal Abstrak, Bukan Kondisi Fisik

Beberapa studi kognitif menemukan bahwa individu dengan orientasi tinggi pada tugas abstrak atau intelektual sering kali kurang peka terhadap kondisi fisik sekitarnya.

Penelitian di Cognitive Science menyebutkan bahwa perhatian mereka lebih terserap pada pemikiran, ide, atau masalah konseptual.

Akibatnya, kebersihan lingkungan bukan prioritas utama, bukan karena tidak peduli, tetapi karena sumber daya atensi dialihkan ke hal lain yang dianggap lebih penting.

5. Perbedaan Nilai Budaya dan Standar Sosial

Psikologi lintas budaya menegaskan bahwa persepsi “kotor” bersifat relatif. Apa yang dianggap tidak layak di satu kelompok bisa dianggap wajar di kelompok lain.

Studi dalam Cross-Cultural Research menunjukkan bahwa standar kebersihan sangat dipengaruhi norma sosial dan pengalaman masa kecil.

Seseorang yang tampak abai terhadap kebersihan belum tentu menyimpang secara psikologis, melainkan beroperasi dengan standar internal yang berbeda.

6. Kapan Perlu Diwaspadai Secara Klinis?

Psikologi klinis membedakan toleransi terhadap kotoran dengan pengabaian kebersihan yang ekstrem.

Jika ketidakpedulian terhadap kebersihan disertai penurunan fungsi sosial, isolasi, atau ketidakmampuan merawat diri, hal ini bisa menjadi gejala kondisi tertentu, seperti depresi berat atau gangguan penimbunan.

Namun pada populasi umum, sikap tidak risih terhadap lingkungan kotor jauh lebih sering merupakan variasi kepribadian, bukan indikator gangguan mental.

Psikologi menegaskan bahwa ketidakrisihan terhadap tempat kotor tidak bisa disederhanakan sebagai sifat malas atau tidak peduli. Ia sering berkaitan dengan sensitivitas emosi yang lebih rendah, gaya kepribadian tertentu, serta proses adaptasi lingkungan.

Yang menjadi persoalan bukan semata kebersihan itu sendiri, melainkan kesesuaian antara standar personal dan tuntutan sosial. Dalam konteks bersama, kemampuan menyesuaikan diri tetap menjadi faktor kunci. (kam/bgs)

 

Editor : Hakam Alghivari
#lingkungan #psikologi #kepribadian #kotor