RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Objek wisata Grogolan di Desa Ngunut, Kecamatan Dander saat musim liburan tak pernah sepi pengunjung. Namun, terkendala banjir bandang yang selalu mengancam saat turun hujan.
Nyai’in, Pengelola Wisata Grogolan mengatakan, wisata ini pertama kali dibuka pada 2015, namun sempat berhenti beroperasi pada 2016. Pada 2017, aktivitas wisata kembali berlangsung dan terus berkembang hingga kini. Meski sempat terdampak pandemi Covid-19, Grogolan berhasil bangkit dan tetap dikelola oleh masyarakat desa.
“Awalnya wisata ini di bentuk tahun 2015 dan sempat berhenti di 2016 lalu 2017 mulai kembali, ya sempat berhenti karena covid tapi alhamdulillah bisa jalan lagi sampai sekarang” katanya.
Pada masa awal berdiri, wisata ini masih berupa wisata alam yang sederhana. Fasilitas terbatas dan jumlah pedagang hanya satu warung. Kini, kawasan wisata berkembang pesat dengan fasilitas yang lebih lengkap, serta puluhan warung yang berjajar dan dikelola warga sekitar. Wisata ini dikelola oleh badan usaha milik desa (Bumdes), warga, dan juga perhutani karena sebagian daerah ada milik perhutani.
Menurut Nyai’in, keberadaan Grogolan tidak hanya menjadi destinasi rekreasi, tetapi juga membuka kesempatan kerja bagi masyarakat Desa Ngunut, warga yang ingin membuka warung diprioritaskan, tanpa adanya biaya sewa lahan.
“Yang penting bayar kebersihan saja untuk tempatnya. Kalau soal posisi warung, siapa cepat ya dia yang dapat tempat, tapi tetap kita arahkan biar rapi,” tegasnya.
Grogolan kini menjadi ikon Desa Ngunut, karena mampu menggerakkan ekonomi lokal sekaligus menarik banyak pengunjung pada musim kemarau.
Meski demikian, tantangan tetap muncul saat memasuki musim penghujan seperti bulan November ini. Pengunjung cenderung berkurang karena khawatir datangnya air bah, mengingat wisata ini mengandalkan sumber air yang biasa digunakan anak-anak untuk berenang.
“Kalau hujan deras ya sepi. Orang-orang takut air besar. Kadang kalau cuacanya benar-benar nggak bersahabat, ya kami ajukan tutup sementara demi keamanan,” ungkapnya.
Walau demikian, pengelola berharap wisata ini tetap bisa berjalan stabil dan menjadi kebanggaan warga setempat, terutama saat cuaca kembali cerah. (len/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana