RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Memiliki rasa percaya diri adalah hal yang positif. Namun, jika kepercayaan diri tersebut berlebihan hingga memicu rasa haus akan pujian dan hilangnya empati terhadap orang lain, kondisi ini bisa menjadi masalah serius.
Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai Gangguan Kepribadian Narsistik (Narcissistic Personality Disorder atau NPD).
Dikutip dari Halodoc, kondisi ini diklasifikasikan sebagai gangguan mental. Penderita NPD cenderung merasa jauh lebih penting daripada orang lain, memiliki kebutuhan tinggi akan pujian atau kekaguman, dan memiliki sedikit empati terhadap lingkungan.
Ironisnya, di balik tingkat percaya diri yang tampak tinggi ini, orang dengan NPD sebenarnya memiliki harga diri yang sangat rapuh dan mudah terguncang hanya dengan sedikit kritikan.
Ciri-Ciri Kepribadian Narsistik yang Khas
Ciri-ciri kepribadian narsistik biasanya mulai terlihat sejak masa kanak-kanak atau remaja. Ciri-ciri ini merupakan pola perilaku dan pemikiran jangka panjang yang kaku.
Berikut adalah 12 karakteristik utama yang ditunjukkan oleh individu dengan Gangguan Kepribadian Narsistik:
Rasa Superioritas dan Grandiosity
1. Melebih-lebihkan Diri Sendiri dibandingkan orang lain.
2. Menganggap diri superior meskipun tidak didukung oleh pencapaian yang sesuai atau memadai.
3. Membesar-besarkan prestasi dan bakat yang dimiliki.
Disibukkan dengan Fantasi dan Status
4. Meyakini diri spesial dan percaya bahwa hanya orang-orang yang juga spesial atau berstatus tinggi yang dapat benar-benar memahami mereka.
5. Disibukkan oleh fantasi mengenai kesuksesan, kekuasaan, kecerdasan, kecantikan/ketampanan, atau pasangan yang sempurna dan ideal.
Kebutuhan akan Kekaguman dan Perlakuan Khusus
6. Memiliki kebutuhan untuk selalu dipuji atau dikagumi secara berlebihan.
7. Merasa diri istimewa dan berhak atas perlakuan khusus.
8. Menganggap diri layak menerima perlakuan spesial, dan ini adalah sesuatu yang normal di mata orang lain (entitlement).
Interaksi Sosial yang Negatif
9. Memanfaatkan orang lain untuk mendapatkan apa yang diinginkan (bersifat eksploitatif).
10. Ketidakmampuan merasakan atau menyadari perasaan atau kebutuhan orang lain (kurangnya empati).
11. Merasa iri terhadap orang lain dan sebaliknya, merasa bahwa orang lain juga cemburu terhadap diri mereka.
12. Menunjukkan perilaku atau sikap yang arogan.
Mengapa Seseorang Mengalami Gangguan Ini?
Hingga saat ini, penyebab pasti mengapa seseorang mengembangkan Gangguan Kepribadian Narsistik belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini diperkirakan muncul dari kombinasi beberapa faktor, terutama pengalaman masa lalu dan faktor genetik:
• Pola Asuh yang Buruk: Kondisi ini sering kali diduga berasal dari pola asuh yang kurang baik atau pengalaman buruk sebelumnya, seperti kekerasan (abusif), penelantaran, atau sebaliknya, terlalu dimanja atau pujian berlebihan tanpa batas.
• Ekspektasi Orang Tua: Anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua yang terlalu menekankan kualitas spesial mereka sendiri, namun sekaligus terlalu kritis terhadap ketakutan dan kegagalan anak, berisiko tinggi mengembangkan NPD.
• Faktor Lain: Faktor genetik atau masalah fisik dan psikologis juga diketahui dapat memicu gangguan kepribadian ini.
Upaya Penanganan dan Pencegahan
Dalam sebagian besar kasus, saran dari psikolog dan dukungan dari orang terdekat merupakan bagian dari pilihan pengobatan yang tersedia bagi penderita Gangguan Kepribadian Narsistik.
Selain intervensi medis, terdapat beberapa langkah sederhana yang dapat dikembangkan menjadi kebiasaan untuk mengurangi dan mencegah munculnya sifat narsistik:
1. Terbuka dan Bersosialisasi: Selalu berusaha terbuka dan bersosialisasi secara tulus dengan orang lain.
2. Belajar Mengenai Ilmu Kesehatan Mental: Pelajari ilmu kesehatan mental ini agar Anda dapat segera mengenali gejala dan ciri-ciri yang ada, sehingga penanganan yang tepat bisa diberikan.
3. Cari Bantuan Profesional: Segera kunjungi fasilitas kesehatan mental jika Anda memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain.
4. Kelola Stres: Coba kurangi stres dengan teknik relaksasi seperti meditasi atau yoga. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko