Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

7 Tanda Hubungan Pertemanan Sudah Tidak Sehat dan Cara Menyembuhkannya

Bhagas Dani Purwoko • Selasa, 4 November 2025 | 00:44 WIB

Cara sehat menghadapi orang atau teman yang sedang menceritakan tentang kekayaan atau pencapaiannya.
Cara sehat menghadapi orang atau teman yang sedang menceritakan tentang kekayaan atau pencapaiannya.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pertemanan merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia sosial.

Teman sejati seharusnya memberikan rasa nyaman, dukungan, dan kebahagiaan. Namun, tidak semua pertemanan berjalan dengan baik.

Terkadang, tanpa disadari, hubungan pertemanan justru memberikan dampak negatif bagi kesehatan mental dan emosional.

Mengenali tanda-tanda pertemanan yang tidak sehat merupakan langkah pertama untuk memperbaiki atau bahkan mengakhiri hubungan tersebut demi kebaikan diri sendiri. Berikut adalah 7 tanda pertemanan tidak sehat:

Baca Juga: Resep dan Cara Membuat Bandrek, Minuman Hangat Tradisional Teman Malam Tanah Sunda

1. Selalu Merasa Lelah setelah Bertemu

Pertemanan seharusnya memberikan energi positif, bukan sebaliknya. Apabila seseorang selalu merasa lelah secara emosional setiap kali usai bertemu atau berbicara dengan teman, hal ini dapat menjadi indikasi bahwa hubungan tersebut tidak sehat.

Kelelahan ini dapat muncul karena harus terus-menerus berpura-pura, mendengarkan keluhan tanpa henti, atau menghadapi drama yang tidak perlu.

Pertemanan yang sehat seharusnya membuat seseorang merasa senang dan bersemangat, bukan justru terkuras tenaga.

2. Komunikasi Hanya Satu Arah

Teman sejati akan mendengarkan cerita dengan baik sebagaimana mereka juga didengarkan.

Jika dalam pertemanan tersebut seseorang selalu menjadi pendengar setia sementara temannya tidak pernah tertarik untuk mendengar keluh kesahnya, hal ini merupakan tanda ketidakseimbangan.

Baca Juga: Souvenir Nikahan Amanda Manopo dan Kenny Austin Bikin Heboh, Sahabat: Di Luar Ekspektasi Aku Sih

Hubungan pertemanan membutuhkan timbal balik dan kepedulian dari kedua belah pihak. Ketika hanya satu pihak yang terus berbicara tanpa memberi kesempatan pihak lain untuk berbagi, hubungan tersebut menjadi tidak adil dan melelahkan.

3. Sering Mendapat Komentar Negatif

Candaan ringan dalam pertemanan merupakan hal wajar, tetapi ada batasannya. Apabila teman sering melontarkan komentar yang merendahkan, menghina penampilan, mengkritik pilihan secara berlebihan, atau membuat lelucon yang menyakitkan, hal ini merupakan bentuk perundungan terselubung.

Teman sejati akan membangun kepercayaan diri, bukan meruntuhkannya. Komentar negatif yang terus-menerus dapat merusak harga diri dan kesehatan mental dalam jangka panjang.

4. Tidak Ada Dukungan di Saat Sulit

Pertemanan diuji ketika seseorang menghadapi masa-masa sulit. Teman yang baik akan berada di sisi temannya saat membutuhkan dukungan, baik ketika menghadapi masalah keluarga, kehilangan, maupun kegagalan.

Sebaliknya, teman yang tidak sehat cenderung menghilang saat temannya sedang terpuruk dan baru muncul kembali ketika hidupnya membaik.

Baca Juga: 5 Cara Psikologis Mengungkap Sifat Asli Seorang Teman

Pola seperti ini menunjukkan bahwa mereka hanya ingin bersama di saat-saat menyenangkan saja, tanpa mau berbagi beban di masa sulit.

5. Merasa Harus Bersaing Terus-Menerus

Pertemanan bukanlah ajang kompetisi. Jika teman selalu berusaha mengungguli pencapaian, meremehkan kesuksesan, atau tidak dapat merasa senang atas kebahagiaan yang diraih temannya, hal ini menunjukkan adanya iri hati dan persaingan tidak sehat.

Teman sejati akan merayakan keberhasilan temannya sebagaimana keberhasilan mereka sendiri. Persaingan terus-menerus dalam pertemanan hanya akan menciptakan ketegangan dan membuat hubungan menjadi tidak nyaman.

6. Sering Dimanipulasi atau Merasa Bersalah

Manipulasi dalam pertemanan dapat terjadi dalam berbagai bentuk, seperti membuat seseorang merasa bersalah ketika tidak dapat memenuhi permintaan, menggunakan rahasia pribadi sebagai senjata, atau mengancam akan mengakhiri pertemanan jika tidak melakukan apa yang diinginkan.

Taktik manipulasi seperti ini sangat tidak sehat dan menunjukkan bahwa teman tersebut tidak menghormati batasan serta perasaan. Pertemanan seharusnya dibangun atas dasar saling menghormati dan kejujuran, bukan manipulasi emosional.

7. Tidak Bisa Menjadi Diri Sendiri

Salah satu keuntungan terbesar dari pertemanan adalah dapat menjadi diri sendiri tanpa takut dihakimi.

Baca Juga: Inspirasi Tema Halalbihalal yang Bermakna untuk Keluarga, Sahabat, dan Lingkungan Kerja

Apabila seseorang merasa harus terus berpura-pura, menyembunyikan perasaan sebenarnya, atau mengubah kepribadian agar diterima oleh teman tertentu, hal ini merupakan tanda bahwa pertemanan tersebut tidak sehat.

Teman sejati akan menerima seseorang apa adanya, dengan semua kelebihan dan kekurangannya. Ketika tidak dapat bersikap natural dan harus selalu menjaga citra, pertemanan tersebut justru menjadi beban, bukan tempat berlindung.

Cara Menyembuhkan Pertemanan yang Tidak Sehat

Setelah mengenali tanda-tanda pertemanan yang tidak sehat, langkah selanjutnya adalah memperbaiki situasi tersebut.

Komunikasi terbuka dan jujur merupakan kunci utama dalam menyelesaikan masalah pertemanan.

Sampaikan perasaan dan ketidaknyamanan dengan bahasa yang tidak menyerang, fokus pada perasaan sendiri alih-alih menyalahkan pihak lain.

Baca Juga: Kamu atau Teman Kamu Sedang Panik? Begini Tanda-Tandanya dan Cara Menenangkannya Menurut Psikolog

Selain itu, penting untuk menetapkan batasan yang jelas mengenai perilaku yang dapat diterima dan tidak dapat ditoleransi.

Batasan ini membantu melindungi kesehatan mental dan menunjukkan bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.

Setelah melakukan upaya komunikasi dan penetapan batasan, perlu dilakukan evaluasi apakah pertemanan tersebut layak dipertahankan.

Tidak semua pertemanan harus diselamatkan, terutama jika hubungan tersebut terus memberikan dampak negatif meskipun telah dilakukan berbagai upaya perbaikan.

Mengakhiri pertemanan yang tidak sehat bukanlah tindakan egois, melainkan bentuk kasih sayang terhadap diri sendiri.

Baca Juga: Mom, Ajarkan Ini pada Anak Saat Mereka Melihat Teman Dibully di Sekolah

Proses ini memang tidak mudah dan dapat menguras emosi, sehingga penting untuk meluangkan waktu untuk diri sendiri, melakukan aktivitas yang disukai, dan jika diperlukan, mencari bantuan profesional.

Melepaskan pertemanan lama yang tidak sehat juga membuka ruang untuk hubungan baru yang lebih positif dan bermakna.

Kesimpulan

Pertemanan merupakan hubungan penting yang seharusnya memperkaya kehidupan, bukan sebaliknya.

Mengenali tanda-tanda pertemanan yang tidak sehat merupakan langkah penting untuk melindungi kesehatan mental dan emosional.

Setiap orang berhak mendapatkan pertemanan yang saling menghormati, mendukung, dan memberikan kebahagiaan.

Baca Juga: Nayla Ramadhani, Winner Putri Muslimah Nusantara Jawa Timur 2025: Tak Diizinkan Kuliah di Luar Negeri Oleh Ortu, Tetap Didukung Teman dan Ponpes

Karena itu, tidak perlu ragu untuk memperbaiki atau bahkan mengakhiri pertemanan yang memberikan dampak negatif. Pada akhirnya, kualitas pertemanan jauh lebih penting daripada kuantitasnya. (jes/bgs)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#sahabat #sejati #komunikasi #teman #cara menyembuhkan #batasan #tidak sehat