Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Avoidant Attachment: Pola Emosional yang Bikin Gen Z Takut Jatuh Cinta Terlalu Dalam

Bhagas Dani Purwoko • Senin, 27 Oktober 2025 | 01:31 WIB
ilustrasi seorang capricorn sedang jatuh cinta
ilustrasi seorang capricorn sedang jatuh cinta

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Di tengah era digital yang serba cepat, generasi muda kini menghadapi tantangan emosional yang tak kalah kompleks.

Salah satunya adalah fenomena “avoidant”, sebuah kecenderungan untuk menjauh secara emosional meski sebenarnya mendambakan kedekatan.

Sikap ini banyak ditemukan pada kalangan Gen Z, generasi yang tumbuh bersama media sosial dan tekanan eksistensial dunia maya.

Apa Itu Avoidant?

Dalam psikologi, avoidant attachment atau kelekatan menghindar merupakan salah satu pola hubungan yang terbentuk sejak masa kanak-kanak.

Pola ini muncul ketika seseorang belajar bahwa menunjukkan emosi atau ketergantungan bisa berujung penolakan.

Akibatnya, mereka tumbuh dengan kecenderungan menjaga jarak, enggan membuka diri, dan sulit mempercayai orang lain sepenuhnya.

Menurut Verywell Mind (2023), individu dengan gaya kelekatan avoidant sering kali terlihat mandiri dan rasional, namun sebenarnya mereka menekan kebutuhan emosionalnya.

Bagi mereka, menjaga jarak dianggap sebagai cara aman untuk melindungi diri dari rasa sakit hati.

Gen Z dan Tekanan Emosional di Era Digital

Fenomena avoidant kian menonjol di kalangan Gen Z. Generasi ini hidup dalam dunia yang penuh perbandingan, dari pencapaian akademik hingga kisah cinta di media sosial.

Paparan terus-menerus terhadap “kesempurnaan” hidup orang lain bisa memicu rasa cemas, rendah diri, bahkan takut gagal dalam hubungan.

Beberapa studi psikologi menunjukkan bahwa media sosial dapat memperkuat mekanisme pertahanan diri, termasuk kecenderungan menghindar.

Menurut Journal of Social and Personal Relationships (2022), penggunaan media sosial yang berlebihan dapat meningkatkan rasa keterasingan dan menurunkan kemampuan seseorang untuk membangun hubungan emosional yang stabil.

Ingin Dekat, tapi Takut Terluka

Ciri utama dari individu avoidant adalah dilema antara keinginan untuk dekat dan rasa takut terhadap kerentanan.

Mereka mungkin terlihat hangat di awal hubungan, tetapi perlahan menarik diri ketika mulai merasa emosinya terlibat terlalu dalam.

Kondisi ini tidak selalu berarti seseorang tidak peduli. Sebaliknya, banyak individu avoidant justru sangat peduli, hanya saja mereka takut kehilangan kendali atas perasaan mereka.

Pola ini sering kali membuat hubungan menjadi tarik-ulurnya tak berujung: semakin dikejar, semakin menjauh.

Akar Masalah dan Pola dari Masa Lalu

Psikolog keluarga menjelaskan bahwa pola avoidant sering kali berakar dari pengalaman masa kecil, seperti kurangnya respons emosional dari orang tua atau pengalaman ditolak saat mencari perhatian.

Pola ini terbawa hingga dewasa dan memengaruhi cara seseorang merespons kedekatan.
Menurut Attachment Theory oleh John Bowlby, hubungan awal dengan pengasuh utama membentuk dasar bagi kemampuan seseorang menjalin hubungan di masa depan.

Ketika kebutuhan afeksi tidak terpenuhi secara konsisten, anak dapat mengembangkan pola kelekatan yang menghindar.

Bagaimana Cara Mengatasinya?

Menghadapi pola avoidant bukanlah hal mudah, tetapi bukan pula mustahil. Langkah pertama adalah menyadari dan menerima bahwa perilaku menghindar berasal dari mekanisme perlindungan diri.

Proses penyembuhan bisa dimulai dengan terapi, journaling, atau komunikasi terbuka dengan pasangan atau sahabat tepercaya.

Terapi berbasis Cognitive Behavioral Therapy (CBT) maupun Emotionally Focused Therapy (EFT) terbukti efektif membantu individu memahami akar emosinya dan belajar membangun kelekatan yang lebih aman.

Selain itu, membatasi paparan media sosial juga dapat membantu seseorang lebih fokus pada hubungan nyata dan koneksi emosional yang sehat.

Menemukan Keseimbangan

Fenomena avoidant di kalangan Gen Z menjadi cerminan bahwa generasi ini tidak sekadar “dingin” atau “cuek”.

Mereka justru sangat sadar diri dan berusaha melindungi perasaan di tengah dunia yang penuh tekanan emosional.

Tantangannya adalah menemukan keseimbangan antara menjaga diri dan berani membuka hati.

Pada akhirnya, tidak ada hubungan yang benar-benar bebas risiko. Kedekatan sejati justru lahir dari keberanian untuk tetap hadir, meski kemungkinan terluka selalu ada. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#jatuh cinta #avoidant attachment #Gen Z