RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pohon kelor (Moringa oleifera) selama ini dikenal masyarakat Indonesia bukan hanya sebagai tanaman biasa.
Sejak dulu, kelor identik dengan cerita mistis klenik yang diwariskan secara turun-temurun. Daun dan rantingnya kerap dipakai dalam ritual adat, dipercaya mampu menangkal energi gaib, hingga sering dijadikan perlengkapan saat prosesi pemakaman di sejumlah daerah.
Pandangan ini membuat kelor lebih sering dipandang dengan kacamata spiritual ketimbang sebagai tanaman yang memiliki nilai manfaat.
Baca Juga: Anita Wahyu Deviani Sulap Daun Kelor Jadi Bahan Herbal, Bahan Baku dari Kebun Kelor Sendiri
Namun, seiring berkembangnya penelitian dan informasi, persepsi itu mulai berubah. Berbagai kajian ilmiah menunjukkan bahwa kelor menyimpan segudang manfaat kesehatan dan bahkan bisa mendukung perekonomian masyarakat.
Daun Kelor Penuh Khasiat, Sering Disebut Superfood
Daun kelor disebut sebagai "superfood" karena mengandung vitamin C tujuh kali lebih banyak dibanding jeruk, vitamin A empat kali lebih tinggi dari wortel, serta kalsium dan zat besi yang melimpah.
Kandungan antioksidannya mampu membantu menangkal radikal bebas, menjaga daya tahan tubuh, hingga memperlambat proses penuaan dini.
Tak heran, banyak penelitian menyebut daun kelor sangat bermanfaat bagi penderita kurang gizi, terutama anak-anak di daerah pedesaan.
Baca Juga: Inilah 13 Manfaat Daun Kelor untuk Kesehatan, Ternyata Banyak yang Belum Tahu
Bahkan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) pernah menganjurkan kelor sebagai salah satu tanaman alternatif untuk melawan malnutrisi di berbagai negara berkembang.
Selain memperbaiki asupan gizi, kelor juga diyakini mampu membantu menurunkan kadar gula darah, menyeimbangkan kolesterol, melancarkan sistem pencernaan, hingga menjaga kesehatan jantung.
Ekstrak kelor bahkan mulai digunakan dalam bentuk kapsul herbal, teh, dan minuman kesehatan.
Minyak Biji Kelor Bermanfaat untuk Dunia Kecantikan
Tak hanya daun, biji kelor pun memiliki manfaat penting. Kandungan senyawa alaminya terbukti bisa digunakan sebagai penyaring air karena mampu mengikat partikel kotoran.
Baca Juga: Potensi Kelor, Dikonsep Geliat Ekonomi Desa
Minyak biji kelor juga memiliki nilai tinggi di dunia kecantikan, digunakan sebagai pelembap kulit alami, perawatan rambut, hingga bahan dasar kosmetik.
Permintaan Tinggi, Kelor Jadi Komoditas Ekspor
Di sejumlah daerah di Indonesia, pohon kelor mulai dibudidayakan secara serius. Permintaan pasar terhadap daun kelor kering, bubuk, hingga teh kelor terus meningkat.
Produk olahan ini dipasarkan tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga diekspor ke luar negeri, terutama ke negara-negara yang telah lama mengakui kelor sebagai tanaman kaya manfaat.
Dengan pengelolaan yang baik, kelor bisa menjadi sumber pendapatan baru bagi petani. Tanaman ini relatif mudah tumbuh di iklim tropis, tidak memerlukan perawatan rumit, dan bisa dipanen berkali-kali dalam setahun.
Baca Juga: Ternyata Nasi Dingin Lebih Sehat dari Nasi Panas, Ini Penjelasannya
Meski masih ada masyarakat yang memandang kelor dari sisi mistis, kini semakin banyak yang menyadari manfaat ilmiahnya.
Peralihan pandangan ini menjadi bukti bahwa tradisi dan pengetahuan modern bisa berjalan berdampingan.
Jika dahulu kelor hanya dianggap sebagai simbol spiritual, kini ia menjelma sebagai "pohon ajaib" yang menyehatkan dan mendatangkan keuntungan ekonomi.
Baca Juga: Air Rebus Vs Air Saring: Apa Perbedaan Kandungan Mineralnya? Lebih Sehat yang Mana?
Dengan segudang khasiat yang terbukti, kelor kini tak lagi sekadar bagian dari mitos. Tanaman sederhana yang sering tumbuh di pekarangan ini telah menjadi bukti nyata bahwa warisan alam bisa menjadi solusi untuk kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. (lul)
Editor : Bhagas Dani Purwoko