Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Fenomena Job Hugging dan Quiet Quitting: Dua Sisi Keresahan Pekerja Modern

Hakam Alghivari • Kamis, 18 September 2025 | 03:00 WIB

 

Ilustrasi perempuan bekerja multitasking.
Ilustrasi perempuan bekerja multitasking.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Di tengah kerasnya persaingan dunia kerja, para pekerja—khususnya generasi muda—semakin berani bersuara tentang keresahan mereka. Banyak yang merasa terjebak antara dua pilihan sulit: bertahan di pekerjaan meski tak lagi bahagia, atau tetap bekerja sekadar memenuhi kewajiban tanpa menaruh hati sepenuhnya. Dari situlah muncul dua istilah yang ramai diperbincangkan: job hugging dan quiet quitting.

Fenomena ini berangkat dari kondisi nyata di lapangan. Budaya kerja yang menuntut loyalitas tinggi dan target berlebihan, kerap tidak diimbangi dengan kesejahteraan yang setara. Akibatnya, banyak karyawan mulai mencari cara untuk bertahan, baik dengan “memeluk erat” pekerjaan yang mereka benci, maupun dengan membatasi energi agar tidak terkuras habis oleh tuntutan kantor.

Job Hugging: Bertahan Demi Rasa Aman

Job hugging menggambarkan situasi ketika karyawan tetap bertahan meski tidak bahagia dengan pekerjaannya. Mereka merasa jenuh dengan rutinitas, tidak cocok dengan atasan, atau stagnan dalam karier, tetapi tetap memilih bertahan.

Alasannya sederhana: rasa aman. Pekerjaan tetap menjamin gaji bulanan, status sosial, dan kestabilan hidup. Banyak yang merasa terlalu berisiko untuk meninggalkan pekerjaan tanpa kepastian lain. Meski begitu, kondisi ini bisa menjadi bumerang. Bertahan tanpa kepuasan berpotensi memicu stres, burnout, hingga menurunkan motivasi kerja dalam jangka panjang.

Quiet Quitting: Bekerja Sesuai Batasan

Sementara itu, istilah quiet quitting mulai populer sejak pandemi COVID-19 dan viral di media sosial. Meski disebut quitting atau berhenti, maknanya bukan resign. Fenomena ini lebih kepada sikap bekerja secukupnya sesuai kontrak, tanpa memberikan upaya ekstra.

Karyawan yang menerapkan quiet quitting biasanya enggan lembur tanpa bayaran, menolak mengerjakan tugas di luar deskripsi pekerjaan, dan memilih menjaga batasan agar kehidupan pribadi tetap seimbang. Mereka masih produktif, tetapi tidak lagi rela berkorban demi budaya kerja yang dianggap toxic.

Perbedaan yang Mendasar

Meski sama-sama berakar dari ketidakpuasan, keduanya memiliki fokus yang berbeda.

Aspek Job Hugging Quiet Quitting
Fokus Bertahan meski tak bahagia Bekerja sesuai batas jobdesk
Motivasi Takut kehilangan stabilitas, gaji, atau status Menjaga keseimbangan hidup & kesehatan mental
Risiko Terjebak dalam rutinitas tanpa kepuasan Dinilai kurang loyal atau ambisius
Bentuk Sikap Stay di pekerjaan walau penuh tekanan Kurangi effort, hindari kerja berlebih

Fenomena di Indonesia

Di Indonesia, fenomena ini juga terasa nyata. Generasi Z dan milenial kerap menjadi sorotan karena dinilai lebih berani menyuarakan batasan. Survei dari beberapa platform karier menunjukkan, anak muda kini lebih memilih perusahaan yang mendukung keseimbangan hidup dibanding sekadar gaji besar.

Kasus resign massal di sejumlah startup dalam beberapa tahun terakhir juga menjadi contoh nyata. Banyak karyawan yang mundur karena kelelahan, gaji tidak sebanding dengan beban kerja, hingga merasa kurang dihargai. Bahkan, banyak pengguna media sosial bercerita rela resign dari pekerjaan bergaji puluhan juta, namun kurang waktu untuk keluarga.

Baca Juga: Kenapa Orang dengan Kepribadian Introver Justru Sering Jadi Pemimpin yang Disegani?

Di sisi lain, sebagian besar pekerja tetap bertahan meski tidak bahagia, karena khawatir sulit mencari pekerjaan baru di tengah ketatnya persaingan.

Baik job hugging maupun quiet quitting adalah sinyal penting bagi dunia usaha. Ketidakpuasan karyawan bisa menurunkan produktivitas, memperbesar risiko turnover, dan merusak iklim organisasi. Perusahaan yang ingin bertahan di era modern harus mampu membangun lingkungan kerja yang sehat, transparan, dan memberi apresiasi setimpal pada pekerja.

Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran paradigma dalam dunia kerja. Pekerja kini tidak lagi sekadar mencari stabilitas finansial, tetapi juga keseimbangan mental dan emosional.

Pertanyaannya, apakah perusahaan di Indonesia siap menyesuaikan diri dengan harapan generasi pekerja baru, ataukah para karyawan akan terus berada di persimpangan antara memeluk erat pekerjaan yang tak membahagiakan, atau sekadar bekerja secukupnya tanpa ikatan emosional? (kam/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
#job hugging #Pekerja #Quiet quitting #fenomena