Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Apa Kepribadian Bisa Berubah Karena Lingkungan? Begini Menurut Psikologi

Hakam Alghivari • Senin, 18 Agustus 2025 | 22:56 WIB
Sirkel pertemanan.
Sirkel pertemanan.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Banyak orang beranggapan bahwa kepribadian adalah sesuatu yang tetap. Sejak kecil, sifat seseorang dianggap akan terus menempel hingga dewasa tanpa banyak perbedaan. Pandangan ini membuat sebagian orang merasa kepribadian adalah “takdir” yang tidak bisa diubah.

Namun, dunia psikologi justru menghadirkan perdebatan panjang tentang hal ini. Apakah sifat bawaan seseorang memang benar-benar konsisten, ataukah perilaku manusia lebih banyak dibentuk oleh situasi di sekitarnya? Pertanyaan inilah yang menjadi inti dari perdebatan klasik dalam psikologi yang dikenal sebagai person–situation debate.

Isu ini bukan sekadar teori. Pemahaman tentang hubungan antara kepribadian dan lingkungan memiliki implikasi penting bagi kehidupan sehari-hari. Apakah seseorang bisa berkembang menjadi lebih sabar, lebih terbuka, atau lebih percaya diri karena pengalaman hidupnya? Atau apakah sifat dasar tetap dominan terlepas dari apa pun yang terjadi?

Kepribadian, Stabil tapi Tidak Kaku

Psikologi kepribadian sejak lama memandang sifat individu sebagai sesuatu yang relatif stabil. Para pionir seperti Gordon Allport menekankan pentingnya trait—ciri khas psikologis yang konsisten dalam diri seseorang. Penelitian modern mendukung pandangan ini dengan menunjukkan bahwa kepribadian memang memiliki pola yang bertahan dari waktu ke waktu.

Meski demikian, stabil bukan berarti kaku. Studi longitudinal menemukan bahwa kepribadian dapat mengalami perubahan perlahan seiring perkembangan usia.

Misalnya, tingkat kedewasaan emosional, pengendalian diri, dan tanggung jawab cenderung meningkat ketika seseorang memasuki masa dewasa awal. Hal ini menunjukkan bahwa kepribadian memiliki dasar yang kuat, tetapi tetap terbuka untuk penyesuaian sepanjang hidup.

Pengaruh Lingkungan Sosial

Di sisi lain, muncul pandangan bahwa perilaku manusia lebih banyak dipengaruhi situasi ketimbang sifat bawaan. Perdebatan ini semakin memanas ketika Walter Mischel menerbitkan buku Personality and Assessment pada 1968. Dalam karyanya, Mischel menekankan bahwa korelasi antara trait dan perilaku nyata sering kali rendah. Artinya, orang bisa saja memiliki ciri kepribadian tertentu, tetapi tidak selalu menampilkannya dalam setiap kondisi.

Lingkungan sosial, norma kelompok, dan tekanan situasional terbukti memiliki dampak besar terhadap cara seseorang bertindak. Banyak penelitian menunjukkan bahwa individu dapat berperilaku sangat berbeda ketika berada dalam konteks sosial tertentu.

Hal ini membuka pemahaman bahwa situasi eksternal memiliki kekuatan yang tidak bisa diabaikan dalam membentuk perilaku sehari-hari.

Interaksi antara Sifat dan Situasi

Setelah perdebatan panjang antara kubu “person” dan “situation,” psikologi modern cenderung mengadopsi pandangan interaksionis. Artinya, kepribadian dan situasi tidak berdiri sendiri, tetapi saling memengaruhi. Seseorang mungkin memiliki kecenderungan tertentu, namun ekspresi sifat tersebut sangat bergantung pada konteks di mana ia berada.

Pendekatan ini mengakui bahwa kepribadian adalah kombinasi antara bawaan dan pengalaman. Lingkungan dapat memperkuat atau menekan kecenderungan tertentu.

Dengan kata lain, seseorang tetap membawa pola khas dirinya, tetapi dunia di sekitarnya dapat menentukan seberapa kuat pola itu muncul. Inilah yang membuat dinamika kepribadian menjadi lebih kompleks sekaligus lebih fleksibel.

Bisakah Kepribadian Berubah dengan Sengaja?

Pertanyaan berikutnya adalah apakah perubahan kepribadian bisa diarahkan secara sadar. Penelitian modern menjawab bahwa perubahan memang mungkin terjadi.

Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology tahun 2017 oleh Brent W. Roberts dan koleganya menunjukkan bahwa intervensi psikologis, termasuk terapi kognitif-perilaku, dapat menghasilkan perubahan signifikan dalam trait kepribadian.

Selain itu, pengalaman hidup besar—seperti memasuki dunia kerja, membangun keluarga, atau menghadapi krisis—terbukti dapat menggeser pola kepribadian seseorang.

Misalnya, peran baru sebagai orang tua sering kali diikuti dengan peningkatan dalam aspek kedisiplinan dan pengendalian emosi. Bukti-bukti ini menegaskan bahwa kepribadian tidak hanya bisa berubah, tetapi juga bisa diarahkan melalui pengalaman dan usaha.

Perdebatan tentang kepribadian dan lingkungan menunjukkan bahwa sifat manusia tidak sepenuhnya kaku maupun sepenuhnya cair.

Kepribadian memang memiliki fondasi yang stabil, tetapi situasi dan pengalaman hidup mampu memberi warna baru yang mengubah arah perkembangan individu.

Dengan memahami hal ini, kita bisa lebih optimis dalam menghadapi perubahan diri. Lingkungan, pilihan hidup, dan pengalaman sehari-hari dapat menjadi katalis yang membantu seseorang bertumbuh menjadi pribadi yang lebih matang.

Kepribadian bukanlah batu yang tidak bisa diubah, melainkan tanah liat yang bisa dibentuk seiring waktu. (kam) 

Editor : Hakam Alghivari
#lingkungan #psikologi #kepribadian