Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Bojonegoro Kaya Minyak, Tapi “Kering” Lifestyle: Tanda Kota Tanpa Arah?

Bachtiar Febrianto • Kamis, 31 Juli 2025 | 18:29 WIB
BAJU BARU: Pengunjung KDS swalayan cukup ramai, terutama baju baru. Sementara, pengunjung Pasar Kota Bojonegoro juga ada peningkatan. (DHANI WAHYU ALFIANSYAH/RDR.BJN)
BAJU BARU: Pengunjung KDS swalayan cukup ramai, terutama baju baru. Sementara, pengunjung Pasar Kota Bojonegoro juga ada peningkatan. (DHANI WAHYU ALFIANSYAH/RDR.BJN)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kaya minyak, miskin destinasi gaya hidup. Inilah gambaran ironis yang masih melekat pada Kota Bojonegoro hari ini. Meski dikenal sebagai penghasil migas terbesar di Jawa Timur, kota ini justru tertinggal dalam perkembangan retail modern dan pusat gaya hidup kekinian.

Sebut saja, hingga pertengahan 2025, di Bojonegoro belum ada KFC, Mall, Departemen Store seperti Matahari, McDonald's, apalagi XXI atau Starbucks.

Gerai cepat saji satu-satunya yang bertaraf nasional hanya Pizza Hut, disusul masuknya Mie Gacoan yang baru-baru ini hadir. Padahal, kota tetangga seperti Lamongan dan Tuban, yang bukan daerah migas utama, justru lebih dulu memiliki fasilitas gaya hidup modern tersebut.

Kenapa Ini Jadi Masalah?

Karena ketidakhadiran ekosistem gaya hidup modern bisa jadi sinyal bahwa pengelolaan pertumbuhan ekonomi belum menyentuh kebutuhan dasar masyarakat urban—yakni akses pada hiburan, kenyamanan, dan ekspresi sosial.

Dengan pendapatan daerah yang disokong sektor migas, pertanyaan penting muncul: ke mana semua dana itu mengalir? Dan kenapa hasilnya belum terlihat dalam wajah kota dan pilihan hidup warganya?

Ini bukan sekadar perkara ingin makan ayam goreng KFC. Ini soal standar hidup dan daya tarik kota bagi generasi muda. Tanpa ruang-ruang sosial modern, banyak talenta muda Bojonegoro memilih "eksodus" ke kota lain. Dalam jangka panjang, kota ini bisa mengalami brain drain (perpindahan tenaga kerja terdidik) dan stagnasi budaya.

Di Balik Kekosongan Itu, Produk Lokal Tumbuh

Namun situasi ini bukan tanpa sisi cerah. Justru karena belum ada dominasi brand besar, beberapa produk lokal mampu tumbuh subur. Sebut saja:

Ekosistem lokal ini menunjukkan bahwa warga Bojonegoro tidak pasif. Mereka haus akan kemajuan, hanya saja peluangnya masih sempit.

Arah Bojonegoro Mau ke Mana?

Yang menjadi pertanyaan mendasar adalah: Apakah Bojonegoro ingin menjadi kota industri energi semata? Atau kota modern yang seimbang antara ekonomi dan kualitas hidup?

Yang pasti, kehadiran brand-brand gaya hidup bukan sekadar simbolisme. Hal itu menunjukkan ada demand nyata dari warga, sekaligus menarik investor lain masuk. Dan bisa diartikan, bila KFC atau mall belum masuk, itu bisa berarti pasar dianggap belum layak atau pemerintah belum memberi ruang.

Hal ini juga menyangkut daya saing daerah. Dalam laporan Kementerian Investasi 2024, daya saing Bojonegoro hanya berada di peringkat ke-22 dari 38 kabupaten/kota di Jatim dalam kategori “ekonomi kreatif dan kemudahan investasi”.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Pemkab Bojonegoro memiliki PR besar: membuka ruang investasi lifestyle modern, tanpa mematikan pelaku lokal. Sinergi bisa dibangun, misalnya:

Karena jika tidak, kekayaan migas hanya akan menghasilkan angka, bukan peradaban. Bojonegoro memang sedang berubah. Tapi jika tidak berani mengadopsi gaya hidup kekinian yang sehat dan modern, kota ini bisa kehilangan masa depan. Kaya energi, tapi stagnan dalam dinamika hidup. (feb)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Jawa Timur #cepat saji #Gaya Hidup #Generasi Muda #Ekonomi #tuban #bojonegoro #gerai #lamongan #Mie Gacoan #Hiburan #minyak #migas