RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Dalam banyak keluarga, pemandangan atau suara ibu yang meninggikan suara saat mendidik anak mungkin bukan hal asing. Seolah menjadi stereotipe, "teriakan ibu" seringkali lebih akrab di telinga anak dibandingkan "amarah ayah" yang mungkin lebih jarang namun sekali muncul bisa lebih menakutkan.
Fenomena ini, tentu saja, tidak berarti semua ibu adalah pemarah atau semua ayah tidak pernah berteriak. Namun, ada pola umum dan alasan kompleks di balik mengapa peran ibu seringkali lebih lekat dengan teriakan dalam proses mendidik anak.
Lantas, apa saja faktor-faktor yang mungkin menjelaskan mengapa ibu lebih sering berteriak ketimbang ayah dalam mendidik anak?
1. Beban Emosional dan Mental yang Lebih Tinggi
Secara umum, dalam banyak budaya, ibu seringkali memikul beban emosional dan mental yang lebih besar dalam pengasuhan anak. Ini mencakup:
Manajer Rumah Tangga dan Pengasuh Utama: Ibu kerap menjadi pihak yang paling bertanggung jawab atas detail-detail harian pengasuhan, mulai dari makan, mandi, belajar, hingga urusan rumah tangga lainnya. Keterlibatan intens ini berarti ibu lebih sering berinteraksi dengan anak dalam berbagai situasi, termasuk saat anak rewel, tantrum, atau tidak patuh.
Tekanan Multitasking: Banyak ibu juga memiliki pekerjaan di luar rumah, menambah tekanan multitasking yang luar biasa. Perasaan kewalahan, kelelahan, dan stres akumulatif dapat membuat emosi lebih mudah meledak.
Ekspektasi Sosial: Ada ekspektasi sosial yang kuat bahwa ibu harus selalu sabar, penyayang, dan mampu mengelola anak dengan sempurna. Ketika ekspektasi ini tidak terpenuhi (dan memang sulit untuk selalu sempurna), ibu bisa merasa frustrasi dan meluapkan kekesalannya.
2. Peran sebagai "Penjaga Batas" dan "Disipliner Harian"
Dalam dinamika keluarga, peran ibu seringkali menjadi "penjaga batas" (boundary enforcer) atau "disipliner harian".
Aturan Harian: Ibu adalah pihak yang paling sering mengingatkan anak tentang aturan kecil sehari-hari: "jangan lari di dalam rumah," "habiskan makananmu," "kerjakan PR sekarang." Repetisi dan penolakan dari anak dapat memicu peningkatan volume suara.
Konsistensi vs. Intermiten: Karena ibu lebih sering hadir dalam interaksi harian, reaksi mereka cenderung lebih konsisten (meskipun bisa berakhir dengan teriakan). Ayah, di sisi lain, mungkin memiliki interaksi yang lebih intermiten atau saat momen "serius" saja, sehingga kemarahan mereka mungkin lebih jarang namun terasa lebih berdampak saat terjadi.
3. Perbedaan Gaya Komunikasi dan Respons Stres
Ada perbedaan umum dalam cara pria dan wanita merespons stres atau konflik, meskipun ini tidak berlaku untuk semua individu.
Wanita Cenderung Lebih Ekspresif Secara Verbal: Beberapa penelitian menunjukkan bahwa wanita cenderung lebih ekspresif secara verbal dalam menghadapi emosi atau konflik. Teriakan bisa menjadi bentuk ekspresi frustrasi yang langsung.
Pria Cenderung Menarik Diri atau Menggunakan Otoritas Non-Verbal: Ayah mungkin lebih cenderung menggunakan bahasa tubuh, nada suara yang dalam, atau sekadar tatapan tajam untuk menunjukkan ketidaksetujuan, atau bahkan menarik diri dari konflik. Saat mereka berteriak, frekuensinya mungkin lebih rendah tetapi intensitasnya bisa lebih tinggi dan menakutkan.
4. Efek "Kebiasaan" dan Kurva Belajar Anak
Jika teriakan ibu sering terjadi, anak bisa menjadi terbiasa dan kurang merespons. Ini justru bisa menciptakan siklus yang tidak sehat.
Anak Belajar Kebiasaan: Anak mungkin belajar bahwa "ibu akan serius jika sudah teriak," sehingga mereka baru akan menuruti perintah setelah suara ibu meninggi. Ini memaksa ibu untuk terus meningkatkan volume suaranya.
Merasa Tidak Didengar: Ketika merasa tidak didengar setelah berkali-kali berbicara dengan nada normal, teriakan menjadi upaya terakhir untuk mendapatkan perhatian dan kepatuhan.
5. Kurangnya Dukungan atau Beban yang Tidak Merata
Dalam beberapa kasus, ibu mungkin merasa kurang mendapatkan dukungan yang cukup dari pasangan atau lingkungan sekitar dalam mengasuh anak.
Pembagian Peran yang Tidak Seimbang: Jika beban pengasuhan dan pekerjaan rumah tangga tidak dibagi secara adil, ibu akan lebih cepat merasa kelelahan dan stres.
Tidak Adanya "Ventilasi" Emosi: Kurangnya waktu untuk diri sendiri, hobi, atau dukungan emosional dari pasangan bisa membuat emosi terpendam dan akhirnya meledak.
Pentingnya Kesadaran dan Perubahan
Memahami alasan-alasan ini bukan berarti membenarkan teriakan. Teriakan dapat berdampak negatif pada anak, seperti membuat anak takut, menarik diri, atau justru menjadi agresif. Yang terpenting adalah menyadari pola ini dan mencari cara yang lebih efektif untuk mendidik dan mengelola emosi.
Baik ibu maupun ayah memiliki peran penting dalam mendidik anak. Komunikasi yang terbuka, pembagian tugas yang adil, dukungan emosional, dan strategi disiplin yang konsisten namun tidak menyakitkan adalah kunci untuk menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis dan mendukung perkembangan anak yang positif. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko