RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Saat si kecil menunjukkan perilaku yang tidak diinginkan atau bersikap nakal, wajar jika orang tua secara spontan menegur. Bahkan, hingga membentak. Membentak atau berteriak pada anak seringkali dianggap sebagai cara menarik perhatian agar anak mendengarkan.
Namun, tahukah Anda (orang tua) yang terlalu sering membentak anak ternyata dapat berdampak negatif yang serius terhadap perkembangan anak?
Bentakan bukan hanya sekadar gelombang suara. Ini disertai gelombang emosi yang berasal dari otak kiri. Menciptakan kombinasi yang berpotensi merusak. Efek ini dapat bersifat destruktif pada sel-sel otak, terutama pada anak yang menjadi sasaran bentakan.
Dampak Negatif Membentak Anak:
Kerusakan pada sel-sel otak: Paparan bentakan berulang dapat memengaruhi struktur dan fungsi otak anak.
Jantung akan melemah: Stres dan ketegangan akibat dibentak dapat berdampak pada kesehatan jantung anak.
Anak akan memiliki sifat pemarah dan egois: Perilaku membentak dapat dicontoh anak dan membentuk karakter negatif.
Anak merasa tidak disayang dan merasa dirinya tidak berharga: Bentakan dapat merusak harga diri dan rasa aman anak.
Konsentrasi menurun: Anak yang sering dibentak cenderung kesulitan fokus.
Muncul rasa depresi dan kecemasan pada anak: Tekanan emosional bisa memicu masalah kesehatan mental.
Mempunyai perilaku minder dan takut mencoba hal-hal baru: Rasa takut berbuat salah bisa menghambat eksplorasi dan kreativitas.
Kecenderungan menarik diri dari orang tua dan akan mudah terpengaruh oleh lingkungan luar: Anak bisa kehilangan kepercayaan pada orang tua dan mencari kenyamanan di tempat lain.
Memiliki sifat keras kepala, penantang, dan suka membantah orang tua: Bentakan bisa memicu resistensi dan pemberontakan.
Memiliki kepribadian yang tertutup/introvert: Anak mungkin memilih untuk tidak mengungkapkan perasaannya.
Tips Menghindari Perilaku Membentak Anak:
Mengingat dampak negatif yang signifikan, penting bagi orang tua untuk mengelola emosi dan mencari alternatif respons selain membentak.
Berikut adalah beberapa tips yang dapat Anda terapkan:
Ingatlah bahwa anak akan meniru setiap kata-kata yang dikeluarkan oleh orang tua kepadanya. Orang tua adalah panutan utama bagi anak.
Saat marah kepada anak, segera ubah posisi tubuh. Misalnya, jika Anda marah saat berdiri, segera ubah menjadi duduk. Perubahan posisi ini dapat membantu menurunkan ketegangan emosi.
Menghindar sejenak dari anak ketika emosi sedang meluap. Beri diri Anda waktu sejenak untuk menenangkan diri sebelum merespons.
Ingatlah, perilaku anak di masa depan merupakan hasil didikan dan bimbingan dari orang tua. Investasi dalam pola asuh yang positif akan membentuk karakter anak.
Tarik napas dan hembuskan secara perlahan. Teknik pernapasan ini dapat membantu meredakan dada yang sesak dan menenangkan pikiran. (eri/cho)
Editor : M. Nurcholis