RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Bagi banyak perempuan, menulis di jurnal bukan sekadar mencurahkan isi hati. Aktivitas ini menjadi ritual harian yang membantu menenangkan pikiran, menganalisis perasaan, dan menjaga kewarasan di tengah kesibukan.
Tapi apa sebenarnya kata psikologi tentang kebiasaan journaling, khususnya pada perempuan? Apakah ini pertanda kepribadian tertentu? Apakah memang bermanfaat secara ilmiah?
Journaling sebagai Bentuk Ekspresi Emosi
Secara psikologis, kebiasaan menulis jurnal tergolong dalam emotional expression atau ekspresi emosi. Berdasarkan studi oleh Dr. James Pennebaker, psikolog sosial dari University of Texas, journaling atau ekspresif writing terbukti mampu menurunkan tekanan darah, meningkatkan sistem imun, dan meredakan stres emosional.
Hal ini sangat relevan bagi perempuan yang cenderung mengalami fluktuasi emosi lebih intens akibat peran ganda dan tekanan sosial.
Perempuan lebih sering mengakses bagian otak yang berkaitan dengan pemrosesan emosi dan bahasa, seperti korteks prefrontal kiri, menurut riset dari University of Pennsylvania. Hal ini membuat mereka lebih nyaman mengekspresikan perasaan lewat kata-kata, termasuk lewat tulisan.
Journaling dan Self-Regulation
Kebiasaan journaling juga sangat berkaitan dengan kemampuan self-regulation atau pengendalian diri. Berdasarkan studi dari Harvard Business School, journaling membantu individu mengevaluasi ulang pengalaman negatif dan menemukan makna baru dari kejadian yang dialami.
Bagi perempuan, ini sangat membantu dalam menghadapi stres relasi, krisis identitas, atau kekecewaan pribadi.
Dalam konteks ini, journaling bukan cuma tempat 'curhat', tapi alat terapi mandiri yang membantu menata ulang narasi hidup. Ini juga mendukung konsep cognitive reappraisal — kemampuan untuk mengubah persepsi terhadap situasi agar tidak terlalu membebani mental.
Siapa yang Cenderung Suka Journaling?
Orang yang suka journaling biasanya memiliki tingkat reflektif tinggi, yaitu kemampuan untuk merenung dan mengevaluasi diri. Ini sering ditemukan pada individu dengan kepribadian openness to experience (terbuka pada pengalaman baru) dan neuroticism yang seimbang — menurut teori Big Five Personality.
Dalam banyak kasus, perempuan yang menyukai journaling juga memiliki kecenderungan introspektif dan empatik.
Menurut riset dalam Journal of Research in Personality, menulis jurnal secara rutin berkorelasi positif dengan tingkat self-awareness, empati, dan pengelolaan stres yang lebih baik.
Journaling sebagai Ruang Aman dan Kontrol
Bagi sebagian besar perempuan, journaling juga berfungsi sebagai ruang aman psikologis. Di dunia yang sering kali menuntut mereka untuk tampil kuat dan terorganisir, jurnal menjadi tempat di mana mereka boleh rapuh, jujur, dan bebas mengekspresikan pikiran tanpa takut dihakimi.
Bahkan, studi dari APA (American Psychological Association) menunjukkan bahwa journaling selama 15–20 menit per hari dapat menurunkan tingkat kecemasan pada perempuan usia 20–30 tahun yang mengalami tekanan sosial dan ekspektasi keluarga.
Apakah Journaling Bisa Digunakan Sebagai Terapi?
Ya. Journaling adalah salah satu metode yang direkomendasikan dalam terapi psikologi, terutama dalam pendekatan Cognitive Behavioral Therapy (CBT).
Terapis kerap menyarankan pasien untuk menulis pikiran otomatis, mencatat perasaan yang muncul, serta merefleksikan peristiwa harian untuk membangun kesadaran dan pemahaman diri.
Di Indonesia, pendekatan ini juga mulai diadopsi dalam layanan psikolog daring dan kampus. Salah satu penelitian oleh tim Fakultas Psikologi Universitas Airlangga tahun 2021 menyimpulkan bahwa journaling membantu mahasiswa perempuan mengelola burnout akademik dan meningkatkan well-being.
Kesimpulannya:
Suka journaling bukan sekadar kebiasaan manis atau hobi ala estetik. Dari sudut pandang psikologi, ini adalah mekanisme koping yang sehat, yang mendukung kesadaran diri, kestabilan emosi, hingga penguatan kepribadian. Kalau kamu salah satu perempuan yang rutin journaling, itu tanda kamu punya kedalaman berpikir dan keinginan kuat untuk mengenali dirimu sendiri.
Jadi, teruskan saja. Sebab jurnalmu bisa menjadi jendela pemahaman terbaik terhadap hidupmu sendiri. (kam)
Editor : Hakam Alghivari