Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Sebuah Kekuatan atau Beban Tersembunyi? Ketika Energi Maskulin yang Mendominasi dalam Diri Perempuan

Hakam Alghivari • Selasa, 27 Mei 2025 | 23:26 WIB
Ilustrasi perempuan dengan energi maskulin dalam dirinya
Ilustrasi perempuan dengan energi maskulin dalam dirinya

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Di dalam diri setiap manusia, baik pria maupun wanita, terdapat dua jenis energi utama yang membentuk keseimbangan dalam hidup yaitu energi maskulin dan energi feminin. Kedua energi ini tidak terikat oleh gender, sehingga tidak berarti bahwa laki-laki hanya memiliki energi maskulin, atau perempuan hanya memiliki energi feminin. Pada kenyataannya, setiap individu memiliki keduanya dalam takaran yang berbeda. Ada yang dominan di salah satu sisi, ada pula yang seimbang.

Energi maskulin dan feminin tidak hanya mencerminkan peran gender, tetapi lebih kepada pendekatan hidup, cara berpikir, dan reaksi terhadap situasi tertentu. Energi maskulin mencerminkan karakteristik seperti fokus pada tujuan, kestabilan, logika, kemandirian, dan kompetitif. Sebaliknya, energi feminin lebih cenderung ke arah kelembutan, kreativitas, empati, dan koneksi dengan intuisi. Keduanya sangat penting dalam kehidupan manusia, karena keseimbangan antara keduanya dapat menciptakan kehidupan yang harmonis.

Melansir dari Beautynesia, energi maskulin berorientasi pada tindakan dan pencapaian, sedangkan energi feminin lebih kepada keberadaan dan intuisi kreatif. Energi maskulin memiliki sifat yang stabil dan dapat diprediksi, memiliki kekuatan dalam hal kemauan, kejelasan, dan fokus. Dalam dunia yang serba cepat dan penuh tuntutan, energi maskulin sering kali menjadi andalan untuk bertahan dan berkembang, terlebih dalam dunia profesional.

Menurut Carl Jung, seorang tokoh psikologi terkemuka, energi maskulin dalam diri seseorang ditandai dengan kemampuan berpikir rasional dan logis, kemampuan memimpin, berpikir jernih, dan tidak terikat oleh emosi. Orang dengan dominasi energi maskulin cenderung memiliki solusi kreatif terhadap masalah dan mampu menetapkan tujuan dengan jelas. Namun, ketika energi maskulin terlalu mendominasi, terutama pada perempuan, hal ini bisa menimbulkan ketidakseimbangan.

 Ketika Energi Maskulin Mendominasi Perempuan

Pada dasarnya, tidak ada yang salah dengan perempuan yang memiliki energi maskulin dominan. Bahkan, dalam banyak hal, energi ini membantu mereka menjadi pemimpin yang tegas, individu yang mandiri, serta pekerja keras yang fokus. Namun, dominasi yang berlebihan dapat berdampak negatif, baik terhadap diri sendiri maupun dalam hubungan sosial.

Melansir dari laman Popbela, terdapat beberapa tanda yang menunjukkan jika perempuan memiliki energi maskulin yang terlalu dominan.

1. Sulit Rileks

Perempuan yang mendominasi energi maskulin sulit untuk rileks dan menikmati waktu untuk diri sendiri. Kegiatan seperti meditasi, refleksi diri, atau sekadar menikmati hobi menjadi sulit dilakukan karena merasa selalu harus produktif.

2. Sulit Mengekspresikan Emosi

Mereka cenderung kesulitan mengekspresikan emosi. Energi maskulin yang berlebihan membuat mereka lebih banyak menahan perasaan dan menghindari kerentanan.

3. Sering Terjadi Konflik dengan Pasangan

Hubungan dengan pasangan pun dapat menjadi tantangan karena mereka cenderung mengambil alih peran sebagai pelindung dan pengatur, sehingga mengaburkan batas antara peran pasangan.

4. Lebih Mengedepankan Logika

kecenderungan untuk lebih mengedepankan logika dibandingkan intuisi. Padahal, intuisi merupakan bagian alami dari energi feminin yang membantu perempuan merasa lebih terkoneksi dengan diri sendiri.

5.Rentan Mengalami Stres

Perempuan dengan energi maskulin berlebihan rentan mengalami stres karena merasa harus mengendalikan segala hal dan terus berjuang untuk membuktikan diri.

Selain itu, mereka cenderung sangat mandiri, kurang empati terhadap orang lain, sangat kompetitif, dan memiliki ambisi tinggi. Karakteristik ini memang sering dianggap sebagai kekuatan, tetapi jika tidak diimbangi dengan kelembutan dan penerimaan diri, dapat menyebabkan kelelahan emosional dan kehilangan koneksi dengan sisi feminin.

 Akar dari Energi Maskulin yang Berlebihan pada Perempuan

Fenomena dominasi energi maskulin pada perempuan tidak terjadi begitu saja. Ada berbagai faktor latar belakang yang mempengaruhinya. Berdasarkan laman Girl Beyond, salah satu faktor utamanya adalah trauma generasi. Misalnya, tumbuh dalam lingkungan yang menuntut perempuan untuk mandiri dan kuat, atau menjadi tulang punggung keluarga, membuat mereka secara tidak sadar mengembangkan sisi maskulin untuk bertahan hidup.

Kekecewaan terhadap laki-laki juga menjadi faktor lain. Ketika perempuan merasa dikhianati atau disakiti, mereka cenderung membangun benteng pertahanan dan menjadi “laki-laki” bagi dirinya sendiri. Mereka merasa harus kuat dan tidak lagi mengandalkan orang lain, yang membuat sisi feminin seperti kelembutan dan intuisi perlahan memudar.

Ketiadaan panutan perempuan yang baik juga turut berperan. Perempuan yang tumbuh tanpa figur ibu, atau bahkan memiliki ibu yang keras dan tidak suportif, akan mengembangkan cara bertahan hidup sendiri—yang kerap kali mengandalkan energi maskulin.

Yang paling menyedihkan adalah ketika energi maskulin berlebihan muncul sebagai akibat dari pelecehan atau kekerasan. Perempuan yang pernah mengalami pelecehan, baik fisik maupun emosional, akan merasa perlu melindungi dirinya sendiri. Mereka membangun dinding, menjadi sangat mandiri, dan mematikan sisi rentan dalam dirinya.

 Menemukan Keseimbangan Energi

Meskipun energi maskulin membawa banyak manfaat, penting untuk memahami bahwa keseimbangan adalah kunci. Seseorang—terutama perempuan—perlu terhubung kembali dengan energi feminin untuk menemukan ketenangan, kasih sayang, dan kebijaksanaan batin. Hal ini dapat dicapai melalui berbagai cara, seperti terapi, meditasi, refleksi diri, aktivitas seni, atau bahkan menjalin koneksi yang sehat dengan sesama perempuan.

Mengenali dan menghargai kedua energi ini bukan hanya tentang memahami diri sendiri, tetapi juga menciptakan kehidupan yang lebih harmonis. Energi maskulin membantu kita melangkah dan mencapai tujuan, sementara energi feminin menjaga kita tetap terhubung dengan perasaan, intuisi, dan kedamaian batin.

Energi maskulin dan feminin bukanlah tentang gender, melainkan tentang keseimbangan energi dalam diri manusia. Pada perempuan, dominasi energi maskulin bisa menjadi respons dari pengalaman hidup yang keras dan penuh tuntutan. Namun, penting bagi setiap individu untuk mengenali sumber ketidakseimbangan ini dan belajar kembali untuk merangkul sisi lain dari dirinya. Dengan menyadari dan menerima kedua sisi ini, perempuan tidak hanya akan menjadi pribadi yang kuat, tetapi juga penuh kasih, intuitif, dan seimbang. Sebab, kekuatan sejati tidak hanya terletak pada ketegasan, tetapi juga pada kemampuan untuk merasakan, memahami, dan menyembuhkan diri. (oss/mgg)

 

Editor : Hakam Alghivari
#Perempuan #Dominan #Kemampuan Berpikir #logika #energi #feminin #maskulin #rasional dan logis #Carl Jung