Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Mengapa Perempuan Lebih Butuh Didengarkan daripada Diberi Solusi? Ini 5 Penjelasan Psikologisnya

Hakam Alghivari • Jumat, 9 Mei 2025 | 23:57 WIB
Ilustrasi perempuan yang sedang bercerita dan lebih senang didengarkan dahulu daripada diberi solusi
Ilustrasi perempuan yang sedang bercerita dan lebih senang didengarkan dahulu daripada diberi solusi

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai situasi di mana perempuan bercerita tentang masalahnya dan merasa tidak puas ketika langsung diberi solusi. Banyak pria, baik sebagai pasangan, teman, atau keluarga, terbiasa merespons masalah dengan "menyelesaikannya", padahal yang diharapkan bukanlah perbaikan cepat, melainkan empati dan pendengaran yang tulus.

Fenomena ini bukan hanya soal perbedaan gaya komunikasi, tetapi juga memiliki akar psikologis yang dalam. Berbagai studi menyebut bahwa perempuan secara umum memiliki kebutuhan emosional yang lebih kuat terhadap koneksi dan validasi. Sering kali, mereka mencari proses berbagi emosi sebagai bentuk dukungan, bukan semata-mata hasil akhir.

Menurut Deborah Tannen dalam bukunya You Just Don’t Understand, perempuan menggunakan komunikasi untuk membangun kedekatan, bukan mencari solusi. Begitu juga dengan psikolog Dr. Guy Winch yang menekankan bahwa emotional validation lebih berdampak dalam mengurangi beban psikologis daripada saran praktis. Ketika respons yang mereka terima hanyalah "solusi", proses emosional mereka terhenti dan rasa tidak dimengerti pun muncul.

1. Perempuan Memproses Emosi Lewat Bahasa

Dalam ilmu psikologi komunikasi, disebutkan bahwa perempuan cenderung memproses stres dan emosi dengan cara berbicara. Ini bukan hanya kebiasaan sosial, tapi juga respons biologis yang tertanam sejak kecil melalui pola asuh dan ekspektasi budaya. Ketika perempuan bercerita, sebenarnya mereka sedang menyusun kembali pengalaman emosional secara verbal.

Deborah Tannen, seorang pakar linguistik, menyebut bahwa laki-laki cenderung berkomunikasi untuk memecahkan masalah, sedangkan perempuan lebih banyak menggunakan komunikasi untuk menjalin hubungan. Oleh karena itu, mereka merasa lebih nyaman ketika didengar secara aktif, tanpa disela dengan solusi.

Jika proses ini dipotong dengan saran atau penilaian, perempuan sering merasa koneksi emosionalnya terganggu. Ini bukan berarti mereka menolak solusi, melainkan butuh waktu untuk menyampaikan isi hati mereka sebagai bentuk self-regulation terlebih dahulu.

2. Mendengarkan adalah Bentuk Validasi Emosional

Emotional validation adalah proses mengakui dan memahami emosi seseorang tanpa menghakimi atau mencoba memperbaikinya secara langsung. Dalam praktik psikoterapi, ini merupakan teknik dasar untuk membangun kepercayaan dan keterbukaan emosional.

Dr. Guy Winch dalam bukunya Emotional First Aid menekankan bahwa banyak orang merasa jauh lebih lega ketika emosinya diakui, daripada sekadar diberi arahan. Hal ini sangat relevan pada perempuan, yang secara emosional lebih responsif terhadap empati dibandingkan solusi mekanis.

Dengan menunjukkan bahwa kita mendengar dan memahami, kita membantu mengurangi tekanan psikologis yang mereka rasakan. Sebaliknya, jika emosi mereka dianggap berlebihan atau tidak rasional, mereka bisa merasa diabaikan dan tak dipahami.

3. Memberi Solusi Terlalu Cepat Bisa Dianggap Meremehkan

Meskipun dimaksudkan untuk membantu, solusi yang diberikan terlalu cepat sering kali terasa seperti bentuk pengabaian terhadap emosi yang sedang dibagikan. Ini menciptakan persepsi bahwa yang penting adalah “memperbaiki” masalahnya, bukan “memahami” orangnya.

Hal ini ditegaskan dalam artikel dan studi komunikasi interpersonal, di mana terlalu fokus pada solusi bisa memicu perasaan inferior atau tidak kompeten. Dalam banyak kasus, ini justru memperburuk perasaan perempuan karena mereka merasa masalahnya diperlakukan secara dangkal.

Alih-alih merasa didukung, mereka bisa merasa dihakimi atau bahkan disalahkan. Itulah sebabnya, banyak perempuan lebih memilih ruang aman untuk berbagi dan divalidasi, sebelum akhirnya masuk ke tahap mencari solusi bersama.

4. Kebutuhan Akan Koneksi Lebih Diutamakan daripada Penyelesaian

Perempuan secara biologis memiliki kadar oksitosin yang lebih tinggi, terutama saat berinteraksi secara emosional. Oksitosin ini dikenal sebagai hormon bonding, yang membuat mereka merasa lebih terhubung saat berinteraksi hangat dan penuh empati.

Studi dari UCLA pada tahun 2000 oleh Taylor dan rekan-rekan, menemukan bahwa perempuan merespons stres dengan pola tend and befriend, yakni mencari perlindungan dan koneksi sosial, bukan melawan atau lari dari masalah seperti pada laki-laki. Ini menjelaskan mengapa didengarkan memberi efek psikologis yang besar bagi mereka.

Ketika koneksi ini tercipta melalui proses mendengarkan, perempuan merasa jauh lebih tenang dan kuat untuk menghadapi masalah. Sebaliknya, tanpa koneksi ini, bahkan solusi terbaik bisa terasa hambar dan tidak bermakna.

5. Pendengaran Aktif Membangun Kepercayaan Jangka Panjang

Active listening adalah salah satu teknik komunikasi yang paling disarankan dalam konseling maupun hubungan interpersonal. Pendengaran aktif bukan hanya soal mendengar kata-kata, tetapi juga memahami emosi dan intensi di balik ucapan.

Perempuan yang merasa didengar akan lebih terbuka secara emosional dan membangun rasa percaya yang mendalam. Ini menjadi dasar hubungan yang sehat, baik antara pasangan, sahabat, maupun dalam relasi kerja. Rasa “dimengerti” menciptakan ikatan batin yang tidak bisa digantikan oleh sekadar logika atau solusi teknis.

Ketika mendengarkan menjadi kebiasaan, perempuan akan merasa dihargai sebagai pribadi utuh. Dan dari sanalah hubungan yang saling menguatkan bisa tumbuh. Karena pada akhirnya, bukan solusi instan yang membuat seseorang merasa lebih baik, tapi rasa bahwa dirinya penting untuk didengarkan. (nnd/mgg)

Editor : Hakam Alghivari
#Perempuan #psikologi #komunikasi #Didengarkan #berbicara