Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Kenapa Kita Sering Membeli Buku Baru Meski yang Lama Belum Dibaca? Ini 5 Sifat yang Bisa Menjadi Alasannya

Hakam Alghivari • Minggu, 27 April 2025 | 01:22 WIB
ilustrasi orang yang suka menumpuk buku baru
ilustrasi orang yang suka menumpuk buku baru

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pernahkah kamu merasa rak bukumu penuh, bahkan meja nakas di samping tempat tidur sudah menjulang tinggi seperti menara Jenga, namun tetap saja tergoda membeli satu buku lagi? Tenang, kamu tidak sendiri. Fenomena ini ternyata cukup umum, terutama di kalangan pecinta literasi. Membeli buku baru meski tumpukan bacaan lama belum tersentuh seringkali bukan soal manajemen waktu yang buruk, melainkan cerminan dari sifat-sifat tertentu dalam diri kita.

 

Ada pola yang cukup konsisten pada mereka yang gemar membeli buku secara impulsif ini. Pola tersebut tidak hanya menunjukkan ketertarikan pada dunia literasi, tetapi juga mengungkap karakter yang mungkin selama ini tidak disadari. Dirangkum dari beberapa sumber, berikut ini adalah tujuh sifat yang biasanya dimiliki oleh mereka yang rak bukunya terus bertambah meski waktu membacanya tidak seimbang:

1. Rasa Ingin Tahu yang Tinggi
Orang yang selalu ingin membeli buku baru biasanya memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Mereka tidak puas hanya dengan satu sumber atau satu topik, melainkan selalu mencari perspektif baru untuk memperluas pengetahuan. Setiap buku terasa seperti pintu menuju dunia baru yang sayang untuk dilewatkan.

 

2. Suka Adanya Buku itu 
Tidak sedikit orang yang jatuh cinta pada wujud fisik buku — aroma kertas, desain sampul, hingga sensasi membalik halaman. Kehadiran buku memberikan kenyamanan emosional, hampir seperti kehadiran teman lama yang setia. Bahkan tanpa dibaca, buku-buku itu terasa seperti bagian dari rumah yang menghangatkan suasana.

 

3. Suka Hal Baru dan Tidak Mudah Bosan
Sifat dinamis ini membuat seseorang selalu ingin mengeksplorasi hal-hal baru. Membeli buku baru menjadi cara untuk memuaskan kebutuhan akan variasi dan pembaruan. Dunia yang berbeda di setiap buku menawarkan petualangan baru yang membuat pembaca tidak cepat bosan.

4. Melihat Buku sebagai Investasi Pengetahuan
Bagi sebagian orang, memiliki banyak buku adalah bentuk investasi. Mereka percaya bahwa kapan pun dibutuhkan, buku-buku itu akan tersedia untuk dirujuk. Ini mirip dengan menyiapkan 'perpustakaan pribadi' untuk kebutuhan belajar jangka panjang.

 

5. Mudah Tertarik dengan Buku Baru
Pasar buku yang selalu menawarkan judul-judul segar membuat pecinta buku sulit menahan godaan. Dari rekomendasi media sosial hingga ulasan di podcast literasi, selalu ada saja satu buku baru yang tampak wajib untuk dimiliki.

 

Fenomena ini bahkan punya istilah sendiri, yaitu tsundoku, istilah Jepang untuk kebiasaan membeli buku dan membiarkannya menumpuk tanpa dibaca. Menurut Andrew Gerstle, profesor budaya Jepang di University of London, tsundoku mencerminkan rasa hormat terhadap ilmu pengetahuan, walaupun sering berbenturan dengan kenyataan keterbatasan waktu.


Membeli banyak buku meski belum sempat membacanya bukanlah sebuah kebiasaan buruk selama disertai kesadaran. Justru, itu bisa menjadi tanda bahwa kita memiliki semangat belajar yang tinggi, rasa apresiasi terhadap literasi, dan ketertarikan yang luas terhadap dunia. Tidak ada salahnya terus menambah koleksi, selama tetap berusaha meluangkan waktu untuk menyelami isi setiap halaman. Lagipula, bukankah memiliki tsundoku yang indah lebih baik daripada tidak memiliki buku sama sekali? (oss/mgg)

Editor : Hakam Alghivari
#sifat #investasi pendidikan #tsundoku #membeli buku #literasi