RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Malam pertama Ramadan 1446 Hijriyah pada ujung bulan Februari menjadi malam yang menarik bagi pecinta astronomi. Selain penampakan hilal tanda memasuki bulan Ramadan, beberapa planet di tata surya juga berderet sejajar.
Planet Bumi yang kita tinggali beberapa kali berjajar langsung dengan planet Merkurius, Mars, Venus, Saturnus, Jupiter, Uranus dan Neptunus. Menurut para ahli, fenomena ini juga dikenal sebagai parade planet, dan cukup agak jarang terjadi.
Sebagian astrolog dan pelaku spiritual memercayai bahwa sesuai dengan gambaran visualnya, parade planet menggambarkan harmoni dan penyelarasan energi secara massal. Sehingga banyak dari mereka yang menyarankan bermeditasi atau menjalankan ritual serupa untuk membersihkan pikiran.
Keutamaan meditasi pada parade planet ini terletak pada aspek menyatukan diri dengan alam demi keseimbangan diri secara emosional. Jika meditasi berhasil dilakukan, dipercaya pelaku meditasi dapat memperkuat koneksi spiritual dan kesadaran antara diri dengan alam, serta mempermudah mewujudkan impian yang ingin digapai.
Tentu, mencapai hal tersebut tidak perlu muluk-muluk bermeditasi di tengah gelap. Banyak pula yang menyarankan untuk cukup menulis jurnal atau diary, atau memanjatkan doa sesuai keeprcayaan masing-masing.
Berpuasa juga merupakan salah satu metode yang dapat dijalin untuk membersihkan pikiran dan meningkatkan harmoni diri, sebagaimana telah terbukti secara ilmiah. “Berpuasa dapat menghasilkan perubahan struktural pada kinerja otak, sehingga mendorong perilaku positif dan melindungi otak dari potensi depresi,” jelas psikiater Hamad Medical Center asal Qatar, Suhaila Ghuloum.
Dari kacamata ilmu pengetahuan alam, menurut Humas Badan Aeronautika dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Preston Dyches, parade planet terjadi ketika dua atau lebih planet di galaksi bertemu sejajar saat berkeliling orbit masing-masing. “Seluruh planet dapat nampak sejajar dalam satu garis atau lengkungan, karena orbit seluruh planet, atau disebut ekliptika, berbentuk bundar dan datar,” jelasnya.
Karena Bumi merupakan salah satu planet tersebut, ketika parade planet terjadi, maka seluruh planet lain dapat terlihat secara bersamaan di langit. “Namun agar terlihat kasat mata, seluruh planet harus berjajar di ufuk dengan ketinggian rendah,dan planet Urnaus dan Neptunus tidak dapat terlihat tanpa alat bantu,” terang Dyches.
Karena seluruh planet memiliki jangka revolusi (perputaran satu ekliptika) yang berbeda-beda, seluruh planet butuh waktu untuk dapat sejajar kembali, namun umumnya waktu yang dibutuhkan tidak terlalu lama. Diperkirakan parade planet bakal terjadi lagi pada Agustus 2025 dan Oktober 2028.
Serupa dengan Dyches, menurut Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Fisika (BMKG), Oky Sukma Hakim, bentuk ekliptika menyebabkan seluruh planet tidak benar-benar sejajar dalam satu garis. “Sebagian planet ada yang miring sedikit, tapi sebagian besar sama,” terangnya kepada awak media.
Menurut Oky, parade planet dapat terjadi beberapa tahun sekali, dan pada parade kali ini Bumi tidak sejajar dengan planet-planet yang masuk dalam parade planet. Untuk seluruh planet berjajar membutuhkan waktu 10 hingga 50 tahun sekali. Selain itu, tidak seperti beberapa fenomena antariksa semacam badai matahari, dari sisi ilmu pengetahuan alam, parade planet tidak memiliki dampak apapun pada Bumi.
“Fenomena ini tidak memiliki dampak negatif apapun terhadap Bumi. Keindahannya dapat kita saksikan lewat teleskop,” ujar Oky. (edo/cho)
Editor : Yuan Edo Ramadhana