Sebanyak 400-600 wisatawan berkunjung di Gua Terawang Ecopark pada musim libur nataru. Destinasi wisata yang dikelola Perhutani itu menawarkan keindahan eksotis gua dan banyak spot foto
OBJEK wisata Gua Terawang Ecopark di Desa Kedungwungu, Kecamatan Todanan menjadi salah satu destinasi wisata yang banyak dikunjungi wisatawan untuk bersantai dan berlibur di tahun baru ini.
Meski berjarak kurang lebih 32 kilometer ke arah barat dari pusat kota Blora, gua ini terletak di tengah hutan jati. Gua terawang menawarkan keindahan bagi anda yang mengunjunginya. Di Gua Terawang, pemandangan dalamnya cukup memesona pada cuaca cerah.
Karena lubang-lubang bebatuan kapur yang terdapat di stalaktit atau langit-langit gua membuat cahaya matahari yang masuk akan menimbulkan bayangan siluet indah. Waktu yang tepat untuk berkunjung di gua ini adalah saat siang hari.
Karena keindahan gua ini akan semakin terlihat saat sinar matahari mulai masuk ke dalam gua melalui lubang-lubang kecil yang ada di langit-langitnya. Gua Terawang Ecopark saat ini sudah mulai berbenah.
Tentunya menarik perhatian para pengunjung. Bahkan, saat ini, di dalam gua juga bisa bersantai dan menikmati keindahan stalaktit ratusan tahun yang ada di dalam gua ini.
Administratur Perum Perhutani KPH Blora Yeni Ernaningsih mengatakan, Gua Terawang Ecopark ini adalah salah satu objek wisata yang dimiliki Perum Perhutani yang terletak di wilayah pangkuan perum Perhutani KPH Blora yang terletak di RPH Kalonan BKPH Kalonan.
’’Selain keindahan gua, di sini juga ada satwa liar yang memang kami biarkan untuk menjadi salah satu daya tarik dan mereka juga berkembang biak sesuai dengan baik,” jelas Yeni. Menurutnya, gua terawang memiliki daya tarik tersendiri.
Yaitu, adanya cahaya yang masuk dari atas begitu indah menambah eksotis wisata ini, sekaligus bisa dinikmati wisatawan di jam-jam tertentu.
’’Karena memang di sini ada cahaya yang masuk dari atas. Yang bisa kita nikmati di beberapa waktu ini nanti cahaya bisa masuk dan cukup indah. Beberapa kali fotografer datang ke sini untuk mengambil gambar dan mengambil video sangat bagus terutama di jam 09.00 WIB sampai 12.00 WIB seperti ini,” ucapnya.
Yeni menambahkan, saat ini KPH Blora terus berupaya dan berusaha untuk mengembangkan objek wisata ini melalui promosi maupun pengembangan beberapa spot-spot yang ada di Gua Terawang.
’’Saat ini, untuk pengembangan wisata di dalam gua tetap terjaga keasliannya. Hanya saja memang dilakukan pengerasan jalan dan itu tidak tebal agar pengunjung ke dalam gua tidak tidak licin dan tentunya terjaga keamananya. Namun, untuk dinding dan stalaktit, ekosistem yang sudah ada dan dinding di dalam gua tetap terjaga keasliannya,” terangnya.
Yeni menambahkan, harga tiket masuk tentunya tidak ada perubahan dan masih di harga Rp 10.000 dan parkir motor Rp 2.000. Sedangkan, parkir mobil Rp 5. 000. ’’Untuk HTM memang tidak berubah. Kami memang memberikan kesempatan pada pengunjung untuk bisa menikmati suasana alam yang ada di Gua Terawang ini,” tuturnya.
Untuk liburan ini, pengunjung atau wisatawannya kurang lebih 400-600 wisatawan. Baik lokal Blora maupun sekitar Blora. Dan, ini tentunya akan meningkat seiring liburan sekolah yang masih berlangsung.
’’Rencananya ke depan kami akan terus berkoordinasi dengan Pemkab Blora, untuk mengembangkan wisata Gua Terawang Ecopark ini, yang pasti jika pecinta fotografi ingin mencari spot foto seperti dahulu tetap bisa, dan tetap bisa membuat foto sebaik mungkin dalam gua,” bebernya.
Bupati Blora Arief Rohman mengapresiasi langkah Perhutani mengembangkan wisata Gua Terawang. ’’Dari pihak Perhutani sudah menggandeng investor untuk menata Gua Terawang ini, sebuah potensi wisata alam di Blora ini. Tentunya ini hal positif, tapi kami tetap berpesan agar ekosistem yang ada tetap dijaga, keasliannya dijaga, dan pengunjung bisa tertib tidak merusak wisata alam yang sangat bagus ini,” pesan Bupati.
Arief menjelaskan, melihat adanya perubahan ini, banyak laporan ia diterima masyarakat Blora maupun luar Blora banyak respons positif.
’’Masyarakat banyak yang mengapresiasi langkah Perhutani ini ya, yang semula tidak terurus. Dulunya masuk sini licin. Sekarang sudah bagus. Jalannya cukup baik dan untuk pegiat fotografer tetap bisa kesempatan dan tidak ada yang diubah, hanya diberi lighting, tentunya ada kemajuan juga dengan tetap mengedepankan keasliannya,” terang Bupati.
Karena, lanjut dia, Gua Terawang merupakan aset milik perhutani. Tentunya punya aturan aturan sendiri. ’’Alhamdulillah juga mulai menyerap tenaga kerja, dari warga sekitar sini dan sekitar 30 orang,” tambahnya. (hul/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana