RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Potensi wisata memang sangat menjanjikan dalam menghasilkan pendapatan. Baik untuk desa maupun pribadi. Namun, wisata yang sekarang kian banyak menjamur di Bojonegoro ini menjadikan tiap-tiap pengelola diharuskan untuk melakukan inovasi.
Sehingga, dapat menarik para wisatawan berkunjung. Hal ini seperti Wahana Kampoeng Drenges, sebuah wisata yang menyajikan konsep kesegaran alami dengan rindangnya pepohonan ini berada di tengah pemukiman warga di Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro.
Wahana Kampoeng Drenges sendiri adalah sebuah wisata yang dibangun sekitar tahun 2018 secara pribadi oleh satu keluarga. Bermula dari budidaya jamur tiram sekaligus pelatihan pembuatan jamur tiram yang kemudian bertahap dan berhasil membangun Wahana Kampoeng Drenges.
Manurut Dhio Brian selaku salah satu pengelola Wahana Kampoeng Drenges (WKD) mengatakan bahwa, wisata ini menyajikan berbagai macam wisata edukasi pembuatan jamur tiram dan terkenal dengan sate jamurnya.
’’Dulu diawali oleh pembuatan jamur tiram dan dijual, dan biasanya dibuka pelatihan seperti study tour, outbound buat pembuatan budidaya jamur tiram itu. Dan, kami bertahap mulai lah bangun wahana,” ungkapnya.
Para wisawatan juga bisa menikmati berbagai macam pelatihan edukasi seperti cara pembuatan sate jamur, cara budidaya jamur, hingga pembuatan baglog jamur. Selain menjadi tempat wahana dengan berbagai fasilitas seperti spot foto, kolam renang, villa, panggung hiburan hingga kebun, wisata WKD ini juga terkenal dengan berbagai macam kuliner yang terbuat dari jamur.
Di antaranya sate jamur, bakso jamur, dan juga olahan yang terbuat dari singkong atau biasa disebut balung kuwuk. Kuliner sate jamurnya sendiri merupakan hasil pengelolaan pihak WKD yang terkadang mengambil dari luar dikarenakan banyaknya orderan. Dalam pengelolaan jamurnya sendiri pihak WKD memperdayakan masyarakat Desa Drenges itu sendiri.
’’Dari jamur yang sudah diambil warga sini menusuki sate sama motongi. Jadi, jamur utuh itu kami bagikan ke warga sekitar. Kemudian, warga itu yang memproses jadi satenya, balung kuwuk juga dari warga sekitar kemudian kita yang ikut mem-branding,” ungkapnya.
WKD sendiri masih menerapkan tiket masuk gratis hingga pendapatan yang dihasilkan hanya melalui penjualan jamur dan kafe. Juga penyewaan fasilitas seperti kolam renang dan event-event outbound.
Hal ini pengelola beranggapan, bahwa dengan tiket gratis membuat para wisatawan bisa menikmati segarnya alam tanpa adanya pungutan biaya. ’’Untuk ke depan sepertinya kan wisata alam semakin banyak dicari dan semakin sulit udara segar dan lain-lain. Tapi, kami tetap mempertahankan itu karena ini yang bakal susah dicari orang-orang yang mencari udara yang segar dengan pepohonan itu,” pungkasnya. (naw/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana