Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Pusat Pemasaran Jeruk Bali di Jalan Bojonegoro-Cepu, Jadi Jujugan Warga yang Membuat Rujak Tingkeban

Yuan Edo Ramadhana • Sabtu, 1 Juni 2024 | 21:11 WIB
KHUSUS JERUK BALI: Lapak jeruk bali di tepi jalan BojonegoroCepu menjadi jujugan warga Tionghoa dan warga yang butuh bumbu rujak tingkeban. (DHANI WAHYU ALFIANSYAH/RADAR BOJONEGORO)
KHUSUS JERUK BALI: Lapak jeruk bali di tepi jalan BojonegoroCepu menjadi jujugan warga Tionghoa dan warga yang butuh bumbu rujak tingkeban. (DHANI WAHYU ALFIANSYAH/RADAR BOJONEGORO)

 

Bagi pecinta jeruk bali, datang saja di Jalan Bojonegoro Cepu, tepatnya di Desa Ngraho, Kecamatan Gayam. Ada banyak pilihan mulai jenis Tambangan, Srinyonya, Magetan, dan Madu.


DHANI WAHYU ALFIANSYAH, BOJONEGORO


MELINTASI Jalan BojonegoroCepu terlihat para pedagang jeruk bali bermunculan, dan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, rerata lapak tidak dibuat ala kadarnya, namun tertata rapi hingga menggunung, dengan sebagian jeruk terlihat digantung.

Asih, satu di antara pedagang jeruk Bali saat ditemui Jawa Pos Radar Bojonegoro membenarkan jika kian ramainya pedagang jeruk di kawasan tersebut. Sebab sebelumnya, sejak 15 tahun terakhir, pedagang jeruk di kawasan tersebut hanya berawal dari satu orang saja, yakni ibunya.

‘’Dulu hanya satu pedagang saja, tapi tahun ini memang mulai banyak,” ungkapnya.

Namun, kian ramainya pedagang jeruk di kawasan tersebut, justru membuat jeruk kian diminati. Bahkan, Asih berharap kawasan tersebut kelak menjadi sentra pedagang jeruk di Bojonegoro. Terlebih, kian banyaknya pedagangpedagang jeruk yang memasuk toko-toko buah di Bojonegoro. 

Selain itu, seluruh pedagang di kawasan tersebut, hanya menjual satu jenis buah, yakni jeruk bali dengan beragam jenis, yakni Tambangan, Srinyonya, Magetan, dan Madu.

‘’Kebanyakan lebih suka yang jenis madu yang tanpa biji. Tapi semua padagang di sini hanya menjual buah jeruk bali saja,” ungkapnya.

Baca Juga: No Hard Feeling, Band Post-Hardcore asal Bojonegoro Ekspresikan Indahnya Luka Lewat Single Berjudul November

Rerata buah jeruk yang dijual berdiameter 15 hingga 25 sentimeter dan dengan berat 1 sampai 2 kilogram. Namun, harga jeruk bali yang dijual pun bervariatif, ukuran jeruk hingga rasa menjadi penentu harga. “Untuk ukuran paling kecil, saya jual mulai sepuluh ribu rupiah,” ujarnya.

Perempuan asli Desa Ngraho, Kecamatan Gayam itu juga menceritakan, jeruk bali memang lebih identik dengan musiman, khususnya saat Hari Raya Imlek, karena menjadi buah keberuntungan bagi etnis Thionghoa.

Tak heran, bila rerata penjualan meningkat saat menjelang Imlek. ‘’Ramai kalau jelang Imlek, lebih banyak yang mampir,” ceritanya.

Selain momen Hari Raya Imlek, jeruk bali juga banyak dicari saat ting keban atau syukuran saat waktu kehamilan bayi bagi tradisi jawa. Sebab, jeruk bali juga ada bumbu rujak karena memang pas untuk digunakan rujak. (*/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Jeruk Bali #cepu #jeruk #rujak #ngraho #bojonegoro #gayam #Pedagang