BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Kepulan asap kayu bakar dari tungku tradisional menandakan lontong siap dimasak. Bumbu kare siap diolah. Tampak seorang ibu-ibu meniup tungku agar api tetap terjaga. Lokasinya tidak jauh dari pusat keramaian kota Alun-Alun Bojonegoro. Berjarak sekitar 14 kilometer dari pusat Kota Bojonegoro. Tepatnya di Desa Karangsono, Kecamatan Dander.
Warung Lontong Kare Bu Tarti sudah buka sejak 1987. Bermula jualan di pasar hingga mendirikan warung di depan rumah pada 1997. ‘’Sebelumnya jualan di Pasar Desa Sumberagung, Kecamatan Dander dengan jalan kaki. Terus buka warung ini sekitar 1997,’’ cerita Tarti pemilik warung.
Tidak hanya dinikmati warga sekitar, lontong kare ayam kampung menjadi langganan pegawai kecamatan, rumah sakit, hingga masyarakat luar kecamatan setempat. Karena rasanya yang nikmat.
Meski butuh waktu untuk menikmatinya, tapi terbayarkan dengan rasanya yang gurih dan khas rempah-rempah.
Tarti memastikan hanya menggunakan ayam kampung untuk karenya. Serta, bumbu khas racikannya.
Dalam sehari menghabiskan empat hingga lima ekor ayam. Sedangkan, untuk lontong mencapai sekitar 6 kilogram beras. ‘’Mulai menyiapkan masakan sekitar pukul 05.00 pagi. Siang mulai buka sampai terjual habis,’’ terangnya.
Untuk minum tersedia es teh atau teh anget dan miniman serbuk rasa-rasa dengan harga Rp 3.000 per porsi.
Danaya Prabawati, salah satu pengunjung menilai lontong kare Bu Tarti kaya rempah dalam sayurnya. Sehingga memiliki cita rasa unik dan lezat. Terlebih, cara memasak masih menggunakan tungku tradisonal.
Menurut perempuan asal Kecamatan Trucuk tersebut, dengan harga Rp 25 ribu per porsi masih tergolong ekonomis dengan rasa dan besarnya ukuran lontong serta daging ayam. ‘’Cara memasak yang masih tradisional menggunakan kayu bakar dan kaya rempah-rempah membuat cota rasanya semakin lezat,’’ jelasnya. (yna/msu)
Editor : Hakam Alghivari