Oleh:
Slamet Widodo
Guru MTs Negeri 3 Bojonegoro
SAWAH itu masih sama—petaknya, pematangnya, juga arah mata anginnya. Namun ada sesuatu yang terasa tanggal dari sana, seperti doa yang tak lagi diucapkan dengan khusyuk. Aku berdiri di tepi pematang, menatap hamparan padi yang baru saja dirontokkan. Mesin perontok meraung, menenggelamkan desir angin dan suara burung-burung kecil yang dulu kerap hinggap di tangkai padi.
Dulu, sebelum suara mesin menjadi penentu, panen adalah perjalanan sunyi.
Sesepuh desa—kami memanggilnya Mbah—memakai sarung, kemeja putih, dan kopyah hitam yang warnanya mulai memudar. Ia berangkat dari rumah dengan tangan kanan menenteng tas kerendeng. Isinya sederhana: nasi putih, secuil ingkung ayam, telur rebus, gereh dodog, sayur daun mengkudu, sayur keluweh, kulup pepaya, serta empat takir kecil berisi telur matang, kembang boreh, kenanga, dan minyak wangi. Janur kuning dilengkungkan, ujungnya lancip, siap ditancapkan di empat pojok sawah.
Sejak melangkah keluar rumah, ujung bawah sarungnya dikempitkan di tangan kiri agar tak menghalangi langkah. Mbah tak bicara. Bila berpapasan dengan tetangga, ia hanya tersenyum tipis dan memberi isyarat. Diamnya bukan dingin, melainkan penuh—seolah setiap langkah menyimpan kata yang dijaga agar tak jatuh ke tanah.
Aku dan dua temanku mengikutinya dari kejauhan, bocah-bocah kurus dengan kaki berdebu. Kami sudah membayangkan berebut makanan—terutama telur rebus—yang dibawa Mbah, setelah doa-doa selesai dibacakan. Di pojok lor-etan sawah, Mbah berhenti. Di sanalah ia meninggalkan pengilon, sisir, dan seikat daun padi yang diikat rapi. Menghias Mbok Sri, begitu orang-orang tua berbisik.
Aku tak paham sepenuhnya. Namun aku ingat: padi kami awet. Disimpan di lumbung, bertahan musim ke musim. Kami jarang kekurangan.
Kini, lumbung itu tinggal rangka. Papan-papannya lapuk, pintunya menganga. Tak ada gabah di dalamnya—tak ada lagi yang perlu disimpan.
Panen selesai sebelum siang. Truk sudah menunggu di ujung sawah. Gabah ditimbang, dicatat, lalu pergi. Uang berpindah tangan cepat—terlalu cepat. Sore harinya, beberapa orang melangkah ke koperasi harian. Esok harinya ada yang ke bank. Ada yang menunduk menghitung kebutuhan, lalu menghela napas panjang.
“Zaman saiki beda,” kata seorang tetangga, saat kami duduk di teras rumah menjelang Maghrib. “Kebutuhan akeh.”
Aku mengangguk, meski ada desir tak nyaman di dada. Beda, ya. Tetapi mengapa beda itu terasa seperti kehilangan jeda?
Di rumah, ibu menanak nasi—bukan dari beras simpanan sendiri, melainkan beras beli. “Rasanya sama,” katanya. Aku tahu, yang hilang bukan rasanya. Yang hilang adalah rasa aman yang dulu tinggal di lumbung.
Malamnya aku menemui Mbah. Usianya telah lanjut, matanya redup, tetapi suaranya tetap tenang. Ia duduk di teras rumah, memandangi halaman yang diterangi rembulan tanggal dua puluh dua.
“Mbah,” kataku pelan, “apa wiwitan itu masih perlu?”
Mbah tersenyum lama, seolah memilih kata dari ruang yang sunyi. “Wiwitan iku ora mung dudu kanggo sawah, Le,” ujarnya. “Nanging kanggo manungsa.”
Aku terdiam.
“Dulu,” lanjutnya, “orang belajar menunggu. Panen itu bukan akhir, melainkan awal menjaga. Padi disimpan, bukan karena takut lapar, tetapi agar tidak tergesa menjual harapan.”
Bayangan lumbung kosong melintas di kepalaku. Disusul angka-angka hutang yang tertulis rapi di lembaran kertas.
“Sekarang?” tanyaku.
“Sekarang orang mengejar aman dengan uang,” kata Mbah. “Padahal aman itu dulu tinggal di rumah—di padi yang disimpan, di doa yang ditahan, di diam yang dijaga.”
Angin malam berembus. Aku membayangkan Mbah berjalan sunyi menuju sawah, menancapkan janur di empat pojok, berkeliling di pematang, merapal doa-doa yang tak pernah kami hafal sepenuhnya. Di lor-etan, pengilon itu diletakkan—bukan untuk disembah, melainkan agar manusia berkaca sebelum merasa memiliki.
“Apakah meninggalkan wiwitan membuat orang jadi susah?” tanyaku.
Mbah menggeleng. “Ora ngunu.” Tatapannya tajam namun lembut.
“Tapi saat orang berhenti menyapa rezekinya dengan kesadaran, rezeki berubah jadi sesuatu yang dikejar, bukan dijaga.”
Kata-kata itu mengendap lama.
Beberapa hari kemudian aku kembali ke sawah. Jejak pematang masih basah. Di pojok lor-etan, tak ada pengilon. Tak ada sisir. Hanya tanah yang mengering. Aku menunduk, menggenggam segumpal tanah, meremasnya pelan. Di kejauhan, truk lain datang menjemput gabah.
Saat itu aku paham: yang dulu dijaga para sesepuh bukanlah Mbok Sri sebagai tempat bergantung, melainkan rasa takut dan harap manusia agar tidak salah sandaran. Mereka merawat padi dengan adab, supaya hati tak lupa bahwa yang menumbuhkan bukan tangan manusia, melainkan kehendak-Nya.
Aku menunduk dan berbisik—bukan mantra, bukan rapalan—hanya doa yang kupelajari sejak kecil: Allahumma bārik lanā fīmā razaqtanā…
Di sanalah aku mengerti: wiwitan sejatinya adalah permulaan tauhid, bukan pengakhirannya. Ia mengajarkan manusia untuk berhenti sejenak, menyadari bahwa rezeki tidak lahir dari sawah, lumbung, atau uang, melainkan dari Allah Yang Maha Memberi.
Jika hari ini lumbung-lumbung kosong, mungkin bukan karena tradisi ditinggalkan, tetapi karena hati terlalu sibuk menghitung hingga lupa bersyukur dan menyimpan. Rezeki yang tak dijaga dengan iman akan selalu terasa kurang, betapa pun banyaknya.
Aku melangkah pulang. Di halaman rumah, lumbung tua berdiri diam. Aku menutup pintunya yang menganga. Tak ada gabah di dalamnya, tetapi ada niat kecil yang kutinggalkan: menjaga rezeki dengan iman, bukan sekadar menjualnya dengan nafsu.
Di langit lor-etan, cahaya pagi merekah. Aku menengadah, mengucap alhamdulillah. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa cukup. (*)
Laraswangi, 19 Desember 2025
Editor : Yuan Edo Ramadhana