Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Lembar Budaya: Sabda di Atas Bukit

Bhagas Dani Purwoko • Sabtu, 6 Desember 2025 | 16:00 WIB
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

 

Oleh:
SUHARSONO A.Q.S.
Guru Bahasa Indonesia MAN 1 Lamongan

 

 

Pagi merayap perlahan di bibir bumi, ketika Mbah Kalam menapaki lereng bukit yang telah menjadi sahabat setianya sejak masih muda. Embun menggantung di ujung-ujung rumput, bagai manik-manik mutiara yang tak pernah kusam. Dalam langkahnya yang pelan, ada nada ketabahan yang tak terdengar, seolah tanah yang diinjaknya paham bahwa ia sedang membawa beban waktu yang panjang. Bukit itu menyambutnya dengan angin tipis, seperti tangan tua yang menepuk bahu seorang kawan lama.

Di puncak bukit, berdirilah pohon-pohon yang telah dirawatnya puluhan tahun—pohon ketapang, akasia, hingga randu yang batangnya sebesar pelukan tiga orang dewasa. Bagi sebagian orang, itu hanyalah pepohonan. Namun bagi Mbah Kalam, mereka adalah keluarga yang tumbuh dari belaian kasih dan tetesan peluh kesetiaannya. Ia sering berkata bahwa setiap daun punya rahasia, dan setiap akar menyimpan sejarah yang tak tertulis. Maka setiap kali ia datang, pohon-pohon itu seakan tegak lebih anggun, seperti menegakkan sopan santun alam kepada penjaganya.

“Pagi, Nak Randu,” sapa Mbah Kalam sambil mengusap batang pohon yang kulitnya pecah-pecah seperti garis-garis usia di wajahnya sendiri. Pohon itu berderak pelan, serupa gumaman orang tua yang terbangun dari tidur panjang. “Bagaimana tidurmu semalam? Banyak angin dari utara?” Ia terkekeh kecil, dan angin menyelinap di antara daun-daun, membuatnya seperti tertawa bersama. Di sana, percakapan tak butuh suara; cukup hati yang bening untuk memahami bahasa yang tak dilahirkan manusia.

Ada kalanya, ketika matahari belum sepenuhnya bangun, Mbah Kalam mendengar sabda halus yang melayang dari dahan-dahan tertinggi. Sebuah bahasa yang tak pernah diajarkan guru mana pun, namun bisa dimengerti oleh mereka yang mau menunggu dengan sabar. “Rawat kami, Kalam,” begitu kira-kira pesannya. “Rawat kami seperti engkau merawat luka-lukamu sendiri.” Sabda itu datang seperti bisikan malaikat yang malu-malu turun ke bumi, membuat dadanya selalu basah oleh rasa haru yang tak bisa dijelaskan.

Bagi warga desa Manoreh di kaki bukit, Mbah Kalam hanyalah lelaki tua eksentrik yang lebih suka bercengkerama dengan pepohonan ketimbang manusia. Namun di atas bukit itu, ia bukan sekadar penjaga; ia adalah pendengar kesunyian. Tanah yang pecah retak, akar yang mencium bumi, dan burung-burung kecil yang singgah di dahan—segalanya mengajaknya berbincang dalam bahasa isyarat yang hanya dimengerti oleh hati yang pernah tersayat kehilangan. Mbah Kalam menerima semuanya dengan ketenangan seorang penyusun hikmah.

Di suatu pagi, ketika kabut turun setebal kelambu, bukit terasa seperti dunia yang terpisah dari segala hiruk pikuk manusia. Mbah Kalam memejamkan mata, menyilangkan jemari di depan dada, lalu berkata lirih, “Jika manusia lupa pada bumi, kalian jangan lupa pada manusia.” Suaranya tenggelam dalam kabut, namun pohon-pohon itu mendengarnya. Dedaunan bergetar seperti halaman kitab tua yang baru dibuka, dan di antara gemerisik itu seakan terdengar satu sabda kuno: bahwa siapa yang merawat alam, sedang merawat dirinya sendiri.

Baca Juga: Lembar Budaya: Lelakon di Kota Bengawan

Matahari perlahan menyelinap dari daun-daun yang rindang, ketika suara mesin meraung dari kaki bukit, memecah kesunyian bagai pisau yang mengoyak tirai jiwa. Mbah Kalam yang tengah memberi air pada akar-akar tua menegakkan badan, jantungnya berdegup seperti gong yang dipukul berturut-turut. Asap putih mengepul dari alat-alat berat yang mulai merayap naik, dan tanah bergetar seolah sedang menahan rasa sakit yang belum pernah ia kenal. Pohon-pohon di sekitarnya meliuk gelisah, daun-daun berjatuhan seperti bulu-bulu burung yang panik dan rontok satu per satu ke pangkuan bumi.

“Maafkan aku kalau hari ini angin membawa kabar buruk,” bisik Mbah Kalam sambil menepuk batang pohon randu. Namun pohon itu hanya diam, kulitnya terasa dingin seperti tubuh orang yang menahan ketakutan. Dari kejauhan terdengar teriakan para pekerja—singkat, tajam, dan tak peduli. Mereka berkata tanah ini akan dibuka untuk jalan baru; bukit akan diratakan, pepohonan ditebang, akar-akar dicabut dari rumahnya. Kata-kata itu menampar dada Mbah Kalam seperti cambuk petir di langit kemarau.

Ia mendekap batang pohon jambu yang pernah ia tanam dari biji kecil hampir empat puluh tahun lalu. “Tenanglah… tenanglah, Nak Jambu,” ucapnya. Namun dedaunannya gemetar seperti seorang anak yang melihat bahaya mendekat. Angin melesat kencang di antara dahan, menciptakan suara lirih—sebuah tangis alam yang hanya bisa didengar oleh mereka yang masih peduli. Mbah Kalam merasa seakan setiap helai daun memanggil namanya, memohon perlindungan yang ia mungkin tak lagi mampu berikan.

Sore itu, kabut tidak turun seperti biasanya; langit justru memerah muram, seakan alam sedang menuliskan pesan duka di cakrawala. Para pekerja mulai menancapkan patok-patok besi di tepi bukit, dan setiap hentakan palu terdengar seperti pukulan yang diarahkan ke dada Mbah Kalam sendiri. Pohon-pohon merunduk, batang-batangnya mengeluarkan suara recah halus, seperti rintihan makhluk yang sedang dipaksa menyerah. “Kalian tidak sendiri,” gumam Mbah Kalam dengan suara bergetar, meski ia sendiri merasa jauh lebih rapuh daripada sebelumnya.

Malamnya, ia tak pulang. Ia duduk di antara pohon-pohon itu, menyalakan lampu minyak kecil yang cahayanya menari-nari seperti ular. Angin malam berhembus membawa aroma tanah basah dan kecemasan yang tak kasatmata. Dalam gelap, ia mendengar suara lirih—bukan dari angin, bukan pula dari hewan malam—tetapi dari dalam akar bukit itu sendiri: “Kalam, kami akan pergi jika kau tak lagi sanggup mempertahankan kami.” Suara itu menusuk hatinya seperti duri yang ditanamkan langsung ke dalam jiwa.

Di antara gulungan malam, Mbah Kalam menangis untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun. Air matanya jatuh ke tanah, meresap ke akar-akar tua yang mengelilinginya. “Jangan pergi,” katanya, “jangan tinggalkan aku.” Namun angin menjawab getir, menyapu pucuk-pucuk daun dengan suara serak yang tak pernah ia dengar sebelumnya. Itulah saat ia menyadari bahwa yang akan menghadapi kehancuran bukan hanya pohon-pohon itu… tetapi juga bagian dari dirinya yang selama ini hidup dalam sabda-sabda alam.

Esok harinya, langit pecah oleh hujan yang turun tanpa jeda, seperti air mata langit yang akhirnya tak mampu ditahan. Petir membelah langit, memercikkan kilau keperakan pada pucuk-pucuk daun yang basah. Mbah Kalam berdiri di tepi puncak bukit, tubuhnya diguyur deras, namun langkahnya tidak bergeser. Di bawah sana, para pekerja berlarian meninggalkan alat-alat berat yang sudah terperangkap lumpur. Hujan turun begitu deras hingga bukit bergetar, dan sabda halus yang dulu hanya berupa bisikan kini menjelma menjadi suara yang menggema dari seluruh penjuru: “Kalam… waktunya kami pergi.”

Saat itulah longsoran tanah pertama meluncur dari sisi bukit yang telah diganggu oleh patok-patok besi. Akar-akar yang tercabut menyeret batang-batang besar, membentuk gelombang gelap yang turun tanpa ampun. Mbah Kalam hanya bisa menyaksikan—dengan napas tercekat dan dada mengeras—ketika pepohonan yang dirawatnya selama puluhan tahun bergerak bukan lagi karena angin, tetapi karena tanah yang pecah, roboh, dan mengalir seperti arus sungai yang hilang kendali. Setiap pohon tumbang terdengar seperti jeritan sejarah yang dipaksa berakhir lebih cepat.

Dalam hitungan menit, bukit berubah menjadi naga lumpur yang meluncur ke arah desa Manoreh. Arus itu membawa batang-batang pohon, bebatuan, tanah basah, dan akar-akar yang bergulung seperti kawanan ular raksasa. Desa kecil itu tersapu begitu cepat, seakan bumi menutup satu halaman cerita manusia dengan sapuan kuas yang kasar. Rumah-rumah terangkat seperti mainan, tembok pecah, dan suara tangisan tertelan oleh gemuruh air yang tak mengenal belas kasih. Alam sedang menagih apa yang telah dirusak manusia.

Baca Juga: Lembar Budaya: Jodoh yang Diatur Pak Lek

Mbah Kalam terseret lumpur hingga hampir tak mampu berdiri, namun sebuah batang randu yang dikenalnya sejak masih kecil melintang di hadapannya, menjadi pegangan terakhir. Pohon itu, meski tercabut dari akarnya, seperti masih mengingat lelaki yang merawatnya sejak muda. “Pergilah, Kalam…” suara itu bergema dari dalam batang, sayup namun tegas, “…engkau sudah mengerjakan bagianmu. Biarkan kami menyelesaikan bagian kami.” Suara itu membuat Mbah Kalam menggigil bukan karena dingin, melainkan karena kesedihan yang terlalu dalam.

Ketika banjir bandang menerjang desa Manoreh, Mbah Kalam memanjat ke sebuah batu besar yang tersisa di puncak bukit. Dari sana ia melihat lumpur menelan rumah-rumah, sawah, jalan-jalan, bahkan pepohonan yang dulu ia rawat. Dunia di bawahnya berubah menjadi lautan coklat yang menggila. Namun di tengah kehancuran itu, ia melihat sesuatu yang tak pernah ia sangka: pohon-pohon yang tumbang justru membentuk benteng alami—batang-batang besar itu menghalangi arus agar tidak menghancurkan semua rumah sekaligus. Banyak warga yang selamat karena tertahan oleh “jenazah” pohon-pohon itu.

Saat hujan mulai mereda, matahari muncul dengan cahaya pucat, seperti malu melihat kehancuran yang baru saja terjadi. Mbah Kalam turun perlahan, tubuhnya lemah namun langkahnya teguh. Di kaki bukit, para warga yang selamat menangisinya, memanggil namanya, memohon maaf tanpa kata-kata. Mereka baru mengerti: pohon-pohon yang dipaksa pergi itu telah memberikan perlindungan terakhir dengan tubuh-tubuh mereka. Mbah Kalam memandang bekas banjir bandang itu, dan dalam hatinya terdengar kembali sabda lembut: “Kami tak marah, Kalam. Kami hanya pulang.”

Malam itu, Mbah Kalam menancapkan sebatang ranting kecil di tanah basah, tepat di tempat di mana akar-akar tua dulu mencengkeram bumi dengan gagah. Ia menunduk, membiarkan air matanya jatuh ke tanah seperti benih yang ingin tumbuh. “Aku akan menanam kalian kembali,” bisiknya, “meski harus dimulai dari satu ranting yang rapuh.” Dan angin—yang membawa sisa aroma lumpur dan daun yang patah—berhembus pelan, seolah mengangguk. Sabda alam telah menjadi nyata, dan dari kehancuran itulah, Mbah Kalam tahu: setiap kisah yang diruntuhkan bumi akan tumbuh kembali jika manusia setia merawatnya. (*)

 

 

Bumi Utara, 30.11.2025

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Alam #cerpen #kisah #pohon #Sabda #bumi #Pagi #Cerita