Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Lembar Budaya: Rabu Wekasan

Bhagas Dani Purwoko • Sabtu, 1 November 2025 | 16:00 WIB
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

 

Oleh:
SLAMET WIDODO
Guru MTsN 3 
Bojonegoro


Hujan mengguyur sejak dini hari hingga pagi menjelang. Udara dingin menusuk tulang, bau tanah basah masih lekat di udara. Sebagian orang enggan meninggalkan kehangatan selimut, sementara yang lain memilih berjamaah Subuh di masjid lalu kembali merebah. Namun, tak sedikit pula yang tetap berangkat kerja meski tubuh menggigil, demi asap dapur tak berhenti mengepul.

Jarum jam sudah menunjuk angka sembilan, tapi matahari masih bersembunyi di balik gumpalan awan kelabu. Langit tampak murung, seolah ikut menyimpan rasa malas dan rahasia yang tak ingin diungkapkan.

Usai Subuh, warung Mbak Yem mendadak ramai. Deretan ibu-ibu mengantre di depan etalase kaca yang dipenuhi kebutuhan harian.

“Aku pesen jajanan pasar, Mbak,” ujar Mbok Yah, perempuan berwajah teduh yang rumahnya menghadap ke timur.

“Aku klepon karo kucur, sepuluh ewunan, Mbak,” serobot Mbak Sri tanpa peduli antrean.

“Eh, Mbak Sri kok nyerobot, tho? Antri lah!” celetuk Bude Sarminah dengan nada separuh jengkel, separuh bercanda.

Mbak Yem tersenyum kecut. Tangannya cekatan membuka buku kas lusuh, mencatat satu per satu pesanan.

“Sabar nggih, Bu. Tak catet siji-siji, ben ora kéliru,” ujarnya dengan suara menenangkan.

“Cepetan, Mbak. Aku ninggal dandang di pawon, arep masak sarapan. Anakku piket sekolah,” sahut seorang ibu dari belakang.

Suara mereka berpadu dengan aroma terasi, ikan asin, dan lombok yang menggantung di udara lembap. Warung Mbak Yem seperti tak henti diserbu—semua ingin memastikan pesanannya beres. Sore nanti, mereka akan mengadakan selamatan Rabu Wekasan. Selain menjual kebutuhan harian, warung kecil di pojok kampung itu juga dikenal sebagai tempat pesan jajanan pasar.

Keramaian pagi itu bukan tanpa sebab. Malam sebelumnya, selepas Magrib, Ustaz Salman berceramah di masjid kampung. Suaranya lembut, tapi sarat makna.

“Sebagian orang arif berkata,” ujarnya, “setiap tahun turun tiga ratus dua puluh ribu bencana, dan semuanya terjadi pada hari Rabu terakhir bulan Safar. Karena itu, hari itu dianggap paling berat sepanjang tahun.”

Masjid mendadak hening. Hanya suara jangkrik yang terdengar dari sela dinding papan.

“Sebagian ulama mengajarkan amalan tolak balak,” lanjutnya. “Rumah yang menghadap timur membawa jajanan pasar dan gerontol jagung; yang ke barat membawa ketan; yang ke utara membawa lontong dan serabi; yang ke selatan membawa klepon dan kucur. Monggo, besok malam Rabu kita berkumpul di serambi masjid, istighatsah dan berdoa bersama.”

Ia menatap jamaah dengan mata teduh yang menyiratkan keyakinan.

“Tradisi ini warisan leluhur. Kita hanya berusaha, Allahlah yang menentukan. Panjenengan boleh percaya, boleh tidak. Tapi ingatlah, kita hidup di tanah Jawa—tanah yang wingit. Maka, patuhilah adat yang diwariskan di tanah ini.”

*

Suara sound system yang sejak bakda Asar menggetarkan dada tiba-tiba terhenti. Tak disangka, diesel penggeraknya mati tanpa sebab. Operator panik, segera memeriksa dinamo dan kabel sumber daya listrik itu. Berbagai upaya ringan sudah dilakukan, namun hasilnya nihil.

Hujan rintik yang mengguyur Dusun Laraswangi tak mereka hiraukan. Dari corong surau dan masjid, azan bersahutan menandakan senja telah tiba. Waktu Magrib datang, tapi diesel tak kunjung menyala.

Tiba-tiba, tangisan histeris pecah dari dalam rumah Pak Wito.

“Bapak…!” jerit istrinya bersama anak sulungnya, yang esok pagi akan melangsungkan akad nikah.

“Bapak, bangun, Bapak…!”

Istrinya mendekap tubuh suaminya yang terkulai lemas di lantai ruang tamu. Dengan tangan gemetar, ia menyeka keringat di wajah pucat lelaki yang menemaninya bertahun-tahun. Lalu meraih segelas air putih yang telah didoakan seseorang, entah siapa.

“Coba air ini diminumkan, Dek. Sisanya usapkan ke wajah Pak Wito,” ujar Pak Sugeng, kakak kandungnya, dengan nada cemas.

Dari kejauhan, kumandang iqamah terdengar. Namun, Pak Wito tetap tak menunjukkan tanda-tanda siuman.

“Sudah, ayo kita bawa ke rumah sakit!” tegas Haryono, keponakannya.

Kepanikan pun pecah. Para keluarga berhamburan, tamu-tamu yang duduk di kursi juga berdiri panik. Mereka berdesakan menuju ruang tamu tamu rumah Pak Wito, mencari tahu apa yang terjadi. Suara tangis dan seruan bercampur menjadi satu.

“Pak Wito pingsan!” teriak seseorang dari dalam rumah.

Tubuh lemas Pak Wito dibopong keluar, melewati barisan tamu yang memenuhi halaman. Hujan masih turun pelan ketika mobil yang sudah disiapkan di depan tenda pengantin melaju menuju rumah sakit, meninggalkan tenda pesta yang kini terasa hambar.

Bakda Magrib, tamu semakin banyak berdatangan. Namun, suasana tak lagi sama. Penerima tamu kini diambil alih oleh Pak Sugeng.

“Matur nuwun sanget rawuhipun, nggih... maaf, adik saya Wito ndak bisa menemui panjenengan,” ucapnya ramah, menyalami satu per satu tamu yang datang

*

Suasana yang semula penuh harap dan kebahagiaan seketika berubah menjadi duka.

Salah satu keluarga dekat berbisik pelan, “Apa jangan-jangan ini pertanda buruk? Akankah akad nikah besok berselimut duka?”

“Kalau soal wali nikah masih ada Pak De-nya,” sahut seorang ibu lirih. “Tapi... semoga tidak terjadi apa-apa.”

Dekorasi resepsi bernuansa putih tampak anggun. Bunga-bunga melati menghiasi kursi pelaminan, sementara lampu warna-warni memantulkan cahaya lembut, seolah ikut menyimpan harapan yang telah disiapkan dengan penuh cinta.

Namun malam itu, cahaya lampu terasa redup. Seakan menunggu kabar dari rumah sakit — kabar yang akan menentukan, apakah esok menjadi hari bahagia... atau hari duka.

*

Malam kian larut. Udara dingin menusuk setelah hujan benar-benar reda. Sisa embun menetes dari daun pisang dan atap seng ke tanah yang masih basah.

Tamu-tamu mulai pulang. Hanya tersisa beberapa bapak dari keluarga dan tetangga dekat yang masih duduk di kursi tamu, berbincang pelan menunggu kabar dari rumah sakit.

Di dapur, beberapa ibu sibuk menyiapkan masakan untuk jamuan esok pagi. Suara wajan dan sendok sayur beradu lembut, berpadu dengan aroma bawang goreng dan santan yang mendidih.

Shalawat pelan kembali terdengar dari pengeras suara. Lampu-lampu tenda menyala terang, mengusir gelap yang sempat menelan halaman rumah. Diesel akhirnya hidup kembali, setelah dipindah dari tempat semula dan dinamonya diganti.

“Itu tempat wingit,” bisik seorang lelaki sepuh sambil menunjuk rerimbunan pohon pisang tempat diesel tadi diletakkan.

Para lelaki di kursi saling berpandangan. Tak ada yang menjawab, tapi udara malam terasa kian berat, membawa aroma tanah lembap dan kesunyian yang sulit dijelaskan.

*

Di sudut tenda, duduk seorang lelaki sepuh bernama Mbah Joyo. Wajahnya keriput namun memancarkan cahaya lembut. Rambutnya memutih, tubuhnya dibalut baju serba hitam, kopiah usang menempel di kepalanya. Di sela jarinya terselip cerutu kelobot yang sesekali diisap pelan, menguarkan aroma tembakau khas.

“Nak Wito tekadnya luar biasa,” ujarnya berat namun teduh. “Ia berani mengambil risiko, mengorbankan dirinya demi kebahagiaan putrinya.”

“Pripun, Mbah?” tanya Khozin, tetangga yang duduk di dekatnya.

“Lha piye, malam ini Rabu Wekasan,” jawabnya sambil menatap bara cerutu.

“Tapi dia nekat menikahkan anaknya. Padahal malam seperti ini... bukan malam sembarangan.”

Semua terdiam. Tak ada suara selain dengung diesel di kejauhan dan rintik sisa hujan di ujung tenda.

“Untunge, Nak Wito iku wong ahli tirakat,” lanjutnya pelan. “Dheweke nduwé amalan wirid. Mugo-mugo kuwi sing njagani.”

Tak seorang pun menanggapi. Mereka hanya menunduk, menyimak penuh takzim.

“Ya... muga-muga wae,” gumam Mbah Joyo. “Nak Wito enggal sehat, bisa ndampingi putrine akad nikah.”

Tiba-tiba seorang pemuda keponakan Pak Wito datang tergesa dari arah jalan, napasnya tersengal.

“Alhamdulillah, Lek Wito wis siuman. Kondisine wis membaik,” katanya lega.

Sejenak hening, lalu terdengar seruan syukur, “Alhamdulillah…”

Mbah Joyo mengangguk pelan. Cerutunya masih mengepul tipis. Ia menatap langit yang mulai cerah setelah hujan.

“Makane,” katanya dalam, “pesenku kanggo kowe kabeh — sak wayah-wayah, yen arep duwe gawe, aja pas dina Rebu Wekasan.”

Angin malam berembus pelan, menggoyang daun pisang di ujung halaman. Di kejauhan, suara burung hantu terdengar samar. Laraswangi kembali hening, seolah baru menyimpan satu kisah yang akan diceritakan turun-temurun.

 

Laraswangi, 18 Oktober 2025

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#malam #Diesel #akad nikah #cerpen #warung #kisah #jamaah #Selamatan #pernikahan #bulan Safar #jajanan #tamu #wali nikah #Cerita