Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Lembar Budaya: Uang Panas

Yuan Edo Ramadhana • Sabtu, 9 Agustus 2025 | 22:00 WIB
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

 

Oleh:
ANGGALIH BAYU MUH KAMIM

 

 

Klotak-klotak……. main peralatan di pawon. Piring-piring ditunjuk-tunjuk. Nasi, lauk pauk, pisang diandaikan jumlah yang dibutuhkan. Baru ada hajatan besar. Sumringah….. 

Hatinya berbungabunga dengan adanya pagelaran yang dibuat oleh penggede desa. Usaha makanannya bisa bergairah kembali. Wajar beberapa waktu ini, jasanya jarang digunakan oleh orang desa. Warga tidak punya uang untuk memakai usaha makanannya. Warga mengantungkan sumber makanan dari kebunnya sendiri dan bantuan kerabatnya, bilamana mengadakan hajatan.


Bu Sophia biasa mematok harga selangit, kala menjual jasanya kepada para pelanggan. Makannya diklaim kelas hotel bintang lima. Sasaran pasarnya memang dari kalangan penggede, pengusaha, dan orang kaya lainnya. Bu Sophia tetap bisa mendapat untung dari usahanya dengan harga yang tidak sedikit. Sering kali, dia mendapat durian runtuh dari hajatan-hajatan yang digelar oleh pihak kalurahan.

Bu Sophia menawarkan pembagian persenan kepada kuwu dan pamongnya, apabila mau menggunakan usahanya untuk menyuplai kebutuhan konsumsi bagi hajatan-hajatan desa. Hubungan yang saling menguntungkan. Bu Sophia sendiri juga masih kerabat dekat dari kuwu, jadi semakin mudah untuk didahulukan dalam setiap pengadaan makanan bagi acara-acara desa. Setiap ada forum rembugan desa pun, pihak kalurahan memakai jasa Bu Sophia untuk menyediakan konsumsi.

Kebetulan Bu Sophia mendapatkan bestelan besar dari salah satu penggede yang sedang punya hajat. Pak Carik desa itu akan mengadakan pagelaran perjodohan putrinya dengan anak Pak Kuwu. Bu Sophia ditunjuk untuk mempersiapkan makanan dan seserahan pada acara pagelaran anak Pak Carik.

Bu Sophia menyanggupi pesanan yang datang dengan senang hati. Dia perintahkan anaknya, Si Subur untuk mempersiapkan segalanya. Subur diperintahkan ibunya untuk membeli semua bahan pangan yang diperlukan ke pasar. Ibunya fokus menyiapkan bumbu-bumbu dan peralatan yang dibutuhkan untuk memasak.

Bu Sophia diperintahkan oleh Pak Carik untuk menyiapkan setiap dus snack harus senilai lima puluh ribu rupiah. Bu Sophia telah mendapatkan panjer dari Pak Carik untuk menyiapkan kebutuhan konsumsi dan sisanya akan dibayar setelah pagelaran selesai. Panjer itu menjadi penanda komitmen sekaligus modal untuk membeli bahan-bahan masakan. Bu Sophia mengatur siasat untuk mendapatkan keuntungan besar dari hajatan yang diselenggarakan oleh Pak Carik.

Baca Juga: Lembar Budaya: Kepenggak Weton Hitungan Jawa

Bu Sophia berputar belit untuk memangkas nilai dari setiap snack yang seharusnya lima puluh ribu menjadi hanya tiga puluh lima ribu rupiah. Selisih dari pemotongan nilai pada setiap snack menjadi keuntungan besar yang dia dapat. Bu Sophia berusaha memastikan bahwa akal geladaknya tidak akan diketahui oleh keluarga Pak Carik. Dia tidak akan memberitahukan kepada siapapun mengenai permainan yang dilakukannya. Segala risiko sudah siap dia tanggung sendiri.

Catatan amal dari malaikat Atid seolah tidak dipedulikannya. Dia berseloroh dalam hati dan berbisik bahwa apa yang dilakukannya dianggap tidak salah, karena dilakukan untuk kepentingan keluarganya. Bu Sophia berdalih semua tindakan dilakukan tak lain, demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Kemelut di dalam sanubarinya tak dipedulikannya sama sekali. Bu Sophia bahkan sengaja memakai sisa kardus snack dari pesanan pelanggan sebelumnya. Dia bersiasat pula dengan memakai wadah lauk yang menggunakan plastik, agar tampilannya seolah-olah mewah. Bu Sophia mendorong Subur untuk membeli sayur-sayuran yang sudah hampir tidak laku dari pedagang. Bu Sophia mencoba membujuk anaknya untuk mau menuruti siasatnya.

’’Ngene yo, Le, ini uangnya. Nanti kamu itu enggak usah beli kardus untuk wadah makanan lagi, yang kemarin masih ada. Nanti beli cabainya yang itu aja yang mau busuk itu, sayurnya yang mulai layu aja gapapa…”

’’Lho, Mak, kok duitnya cuma segini. Apa cukup, Mak? Bukannya pesannya Pak Carik kemarin, satu snack dihargai 50 ribu?” Subur bingung dengan uang yang diberikan oleh ibunya tidak sesuai dengan pesanan dari Pak Carik.

’’Ya itu adanya segitu, lha bayarnya baru panjer aja kok. Ya segitu wajar. Itu kan satu snack mintanya 50 ribu, tapi duitnya yang baru dikasih segitu. Ya tiap snack kita patok makanan dengan harga 35 ribu wae, tapi nanti sisa pembayarannya tetap kita minta ke Pak Carik sesuai yang dijanjikan,” Bu Sophia mencoba memberi penjelasan kepada anaknya.

’’Kok kaya ngono to, Mak. Ngapunten nggih, Mak. Bukannya aku mau menggurui, tap ikan ini enggak sesuai pesanan. Harusnya ya kita tetap jelasin apa adanya kalau ini panjer kurang dan harusnya penuh sesuai pesanan satu snack senilai 50 ribu.”

’’Ya enggak bisa kayak gitu, Le. Udah to kamu manut aja sama Mamakmu ini. Masak malah kita yang jadi repot. Pokoknya ini sana dibeli di pasar sesuai pesan Mamak tadi gitu lho.”

’’Ya enggak bisa kayak gitu, Mak. Mboteng pareng, Gusti Pangeran bisa marah Harusnya kita kan ngomong apa adanya ke Pak Carik, Mak. Apa kalau enggak uangnya kita talangi dulu, Mak, karena ini yang dikasih baru panjer aja.”

Baca Juga: Lembar Budaya: Ruwatan Tanpa Kelir

’’Gak……. gak bisa ngono kuwi, Le. Kalau kayak gitu kita yang rugi. Pokoknya aku enggak mau nalangi, Le. Udah…… udah…. kamu nurut aja sama Mamakmu ini. Inget lho bikin orang tua terutama ibu sampai sedih tu enggak disukai sama Gusti Pangeran nanti. Udah sana ke pasar.”

Subur terpaksa harus mengikuti kehendak ibunya. Mau bagaimana lagi, ancaman dari ibunya telah memadamkan keberaniannya. Subur terpaksa tutup mulut dengan permainan yang dibuat oleh Bu Sophia.

Subur telah masuk ke dalam siasat yang dibuat oleh ibunya sendiri. Subur tak dapat lagi berkutik, dirinya hanya bisa pasrah. Dia khawatir kalau Gusti Pangeran memarahinya kelak. Subur memohon pada Gusti Pangeran, agar mau memaafkannya dengan alasan tindakannya bagian dari wujud patuh terhadap orang tua. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Pesanan #pelanggan #pagelaran #Jasa #uang #Desa #cerpen #kisah #sumber makanan #seserahan #usaha #snack #hajatan #Cerita #Makanan