Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Obor Sewu di Kepala Kami: Cerita tentang Udeng Khas Bojonegoro yang Menyatukan Sejarah, Identitas, dan Masa Depan

Yuan Edo Ramadhana • Kamis, 24 Juli 2025 | 22:06 WIB
OBOR SEWU: Udeng motif obor sewu Saminsurosentiko ini akan digunakan ASN Pemkab Bojonegoro di hari tertentu. (YANA DWI KURNIYA WATI/RADAR BOJONEGORO)
OBOR SEWU: Udeng motif obor sewu Saminsurosentiko ini akan digunakan ASN Pemkab Bojonegoro di hari tertentu. (YANA DWI KURNIYA WATI/RADAR BOJONEGORO)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Setiap hari Rabu pekan pertama ada yang berbeda di Kantor Pemkab Bojonegoro. Di atas kepala para apartur sipil negara (ASN) melilit kain hitam dengan motif khas. Bukan sekadar pelengkap, ini adalah udeng Obor Sewu, ikat kepala yang kini menjadi simbol baru wajah birokrasi Bojonegoro.

Obor yang Menyala dari Pinggiran

Asal-usul udeng ini bukan dari kota. Ia lahir di sebuah dusun kecil bernama Jepang, di Kecamatan Margomulyo, tanah kelahiran komunitas sedulur sikep, atau yang dikenal sebagai kaum Samin. Di sanalah hidup orang-orang yang memilih jujur sebagai prinsip utama, lebih memilih diam daripada gaduh, dan memaknai hidup sebagai perjalanan tenang bersama alam.

Adalah Sugeng Wardoyo, seorang dosen ISI Yogyakarta, yang menggali motif ini lewat riset mendalam pada 2019. Ia bertanya pada para sesepuh, mencermati simbol-simbol, lalu menggambar satu motif yang kemudian diberi nama Obor Sewu, yakni “seribu cahaya”.

Obor merupakan simbol penerangan hidup. Seribu berarti ajaran ini tak akan padam. Ia akan terus menyala, selama masih ada yang mau menyalakan.

Dari Dusun ke Gedung Pemerintah

Pada 14 Maret 2024 ditandatangani sebuah surat edaran Bupati Bojonegoro yang bersejarah. Mulai 1 April, seluruh ASN Bojonegoro diwajibkan mengenakan udeng khas Samin setiap Rabu pekan pertama.

Keputusan ini bukan basa-basi. Pemerintah daerah ingin budaya tak hanya diperingati tiap Agustus atau tampil di panggung festival. Budaya harus hadir di ruang kerja, di rapat-rapat, di pelayanan publik. Itulah kenapa udeng ini penting.

Bagi para perajin di Dusun Jepang, kabar ini seperti cahaya yang membuka harapan. Dulu udeng dibuat hanya kalau ada kenduri atau acara tradisi. Sekarang pesanan semakin meningkat, seiring semakin meluasnya penggunaan udeng.

Kepala yang Berisi, Kepala yang Berbudaya

Apa arti memakai udeng? Bagi sebagian orang, mungkin ini hanya soal formalitas. Tapi bagi seorang ASN, udeng ini diharapkan bisa mengubah cara pandangnya. Bekerja bukan cuma cari gaji, tapi keberadaanya merupakan bagian dari sejarah. Karena membawa ajaran leluhur yang harus terus ditanamkan dalam etos kerjanya.

Obor Sewu bukan hanya hiasan kepala. Ia adalah simbol. Bahwa Bojonegoro tidak melupakan siapa dirinya. Bahwa dari dusun sunyi, lahir semangat yang kini menjelma cahaya dalam tata kelola pemerintahan.

Karena pada akhirnya, tidak ada yang lebih kuat dari seribu cahaya yang dinyalakan bersama—di kepala, di hati, dan dalam langkah-langkah kecil membangun daerah agar semakin maju dan berkembang. (feb)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#udeng #asn #pemkab bojonegoro #obor sewu #samin surosentiko #sedulur sikep #bojonegoro #ISI Yogyakarta #samin