Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Lembar Budaya: Kembar Mayang

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 22 Juni 2025 | 01:30 WIB
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

 

Oleh:
SLAMET WIDODO
Guru MTs Negeri 3 Bojonegoro

Di ruang tamu, seluruh keluarga telah berkumpul.

Mereka duduk bersila di atas karpet yang digelar di ruangan luas itu, bercengkerama hangat sambil menikmati hidangan khas acara lamaran yang tersaji di atas piring-piring porselin. Suasana akrab, penuh tawa dan candaan kecil, menyelimuti pertemuan pagi itu.

Dekorasi bernuansa putih, dihiasi rangkaian bunga segar, tertata anggun di sisi ruangan—seolah mengingatkan bahwa hari ini bukan hari biasa. Hari ini adalah awal dari sesuatu yang, oleh banyak orang, disebut sebagai kebahagiaan untuk Raras.

Usai lantunan selawat yang diiringi tabuhan rebana, seorang pria paruh baya dari pihak laki-laki melangkah maju. Suaranya tenang, namun penuh wibawa. Tugasnya menyampaikan maksud dan tujuan mereka datang ke rumah Pak Hendrawan.

“Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, pada hari ini, Sabtu Kliwon, 8 Juni, saya mewakili Bapak Sastro Wibowo, bermaksud melamar putri dari Bapak Hendrawan, Raras Anjani, untuk menjadi pendamping hidup putra beliau, Bagas Wibowo. Selanjutnya, kami mohon Ndhuk Raras berkenan memberikan jawaban.” 

Hening. Semua mata tertuju pada Raras.

Ia duduk di sisi ibunya, menunduk dalam. Napasnya tertahan. Jemari ibunya menggenggam pelan, memberi kekuatan. Akhirnya... “Bismillahirrahmanirrahim, saya terima lamaran Mas Bagas Wibowo, putra Bapak Sastro Wibowo,” ujar Raras lembut, namun cukup jelas terdengar.

Baca Juga: Lembar Budaya: Nyadran

Tak ada sorak. Tak ada tepuk tangan. Hanya sunyi yang mengendap— menjadi selimut bagi hati yang menahan tanya.

Raras tetap menunduk. Senyum kecil terlukis di bibirnya, tapi matanya tak memantulkan cahaya. Seolah kata “terima” itu keluar bukan dari hati, melainkan dari pelajaran hidup tentang kepatuhan.

Bu Sastro lalu menyematkan cincin ke jari manis Raras, didampingi ibunya. Sebaliknya, Bu Hendrawan menyematkan cincin ke jari Bagas. Foto bersama pun diabadikan dengan latar dekorasi putih berbunga.

Raras tampak anggun dan bersahaja, mengenakan tunik krem bermotif geometris yang membalut tubuhnya. Kerudung tipis senada membingkai wajahnya yang teduh. Sarung batik hitam bermotif klasik berpadu merah bata dan putih mengalun tenang di kakinya, mempertegas kesan anggun nan bersahaja. Penampilannya sederhana, namun memancarkan wibawa seorang santriwati yang berilmu dan terjaga adabnya.

Sementara Bagas memakai batik hitam bercorak merah hati. Namun, ia hanya mengenakan celana jeans pudar sebagai bawahan. Rambut panjangnya terurai bebas, tanpa kopiah. Di antara mereka, tampak jurang kontras—baik dalam rupa, juga barangkali… dalam cara memandang masa depan.

Hari pernikahan telah ditetapkan para sesepuh: 3 November. Empat bulan lagi, jika semuanya berjalan sesuai rencana.

*

Acara lamaran telah usai. Tapi di balik pintu kamarnya, Raras masih terisak. Sejak Subuh hingga menjelang Zuhur, ia belum keluar. Matanya sembab, wajahnya tenggelam di peluk bantal.

Ketukan pelan membuyarkan sunyi. “Ndhuk… Raras, Ibu boleh masuk?”

“Nggih, Buk. Pintu mboten terkunci,” sahutnya lirih.

Begitu pintu terbuka, Raras langsung memeluk ibunya erat. Tangisnya pecah—tanpa suara, hanya air mata yang tak berhenti mengalir. Sang ibu membalas pelukan, lalu membimbingnya duduk di dipan.

“Ibu sudah tak setuju sejak awal. Kita orang kecil, Raras... tak sekufu dengan keluarga Pak Sastro. Bapakmu yang keras kepala. Tak mau mendengar saran ibu,” bisik sang ibu, sambil mengelus rambutnya. 

Raras menatap ibunya, bibirnya bergetar, “Kak Fikri... bagaimana, Ibu?”

Tangis kembali pecah. Sang ibu terdiam. Ia tahu nama itu akan muncul. Fikri—ketua OSIS yang dulu sering mengaji bersama Raras. Keduanya tumbuh dalam jalan sunyi, menjaga ayat-ayat  Allah. Fikri sudah hafal 20 juz, Raras 10. Cinta tumbuh dari zikir dan tilawah.

Baca Juga: Lembar Budaya: Sajadah Ibu Dibawa Terbang Malaikat

Dulu, sewaktu Raras masih duduk di bangku aliyah, ia sering bercerita banyak hal kepada ibunya. Termasuk kedekatannya dengan Fikri, kakak kelasnya itu.

Fikri telah lulus. Sebelum mondok ke Kudus, ia pernah berkata, “Al-Qur’an itu pencemburu, Raras. Mari beri tempat istimewa untuknya di dalam hati kita, tanpa ada yang lain.”

“Iya, Insya Allah, Kak,” Raras tersenyum manis.

Dan di malam terakhir mereka bertemu, saat kegiatan di sekolah, Fikri menatapnya dalam. “Jika hafalanku tuntas, insya Allah... aku dan orang tuaku akan datang melamarmu.”

Raras hanya mengangguk, sementara butiran bening menggantung di pelupuk matanya.

*

“Bu...! Ndhuk...!”

Teriakan Pak Hendrawan memecah keheningan rumah. Sepulang dari rumah Pak Sastro, ia tak mendapati istri dan anak perempuannya di ruang tamu ataupun dapur. Rumah tampak sepi.

Pak Hendrawan melangkah ke dapur—kosong. Tak ada siapa pun. “Dalem, Pak. Saya di kamar Raras,” jawab Bu Hendrawan dari balik pintu, lirih tapi terdengar jelas.

Perlahan, Pak Hendrawan membuka pintu kamar Raras. Ia berdiri di ambang, tak masuk, hanya memandangi dua wanita yang sangat ia cintai. Mata mereka sembab. Ia bisa menebak apa yang sedang terjadi. Tapi ia tak memilih untuk bertanya, melainkan berkata.

“Kamu ini, bocah wedok, Ndhuk. Mbok ya nurut sama orang tua,” suaranya berat, seperti menyimpan kekesalan" 

“Usiamu sudah dua puluh satu. Kalau tidak segera nikah, kamu mau jadi perawan tua? Mumpung ada yang datang melamar, anak orang kaya pula. Kurang apa coba?”

Ia jeda sejenak, namun tak memberi ruang bagi dua perempuan itu untuk bersuara.

“Hafalanmu juga sudah rampung. Kamu sudah cukup lama ngaji dan mengabdi di pondok.  Ibumu dulu juga begitu— malah belum khatam hafalannya, bapak sudah mengajaknya boyong dan nikah. Tapi nyatanya bisa disempurnakan setelah nikah, di rumah.”

Raras menunduk. Suaranya tak bisa keluar. Ibunya juga diam, hanya menggenggam tangan putrinya erat.

“Bagas itu anak tunggal. Satu-satunya pewaris harta Pak Sastro. Bapak tak mau menyia-nyiakan kesempatan besar ini. Makanya, Bapak menerima lamaran itu.”

Baca Juga: Lembar Budaya: Lor Kulon

*

Kabar tentang Raras dilamar Bagas anak juragan kaya dari desa sebelah itu, sampai juga ke telinga Fikri. Ia kaget dan tak percaya.

Malam itu, dalam sunyi tahajjudnya yang basah oleh air mata, di dalam kamar tempat ia mondok, Fikri menengadah: “Tidak... Raras tak mungkin mengingkari janji yang pernah kami ucapkan bersama...”

Ia menarik napas panjang, lalu bersujud lebih dalam.

“Ya Allah... Jika memang Raras adalah jodoh terbaik untukku, dekatkanlah kami dengan cara-Mu yang indah. Namun jika bukan dia yang Kau pilihkan, maka lapangkanlah hatiku, dan hadirkan wanita terbaik menurut-Mu, yang akan menuntunku pada keridhaan-Mu.”

*

Siang itu, Dusun Laraswangi digemparkan oleh kabar duka: Bagas, calon mempelai pria Raras, meninggal dunia. Isu yang merebak di masyarakat menyebutkan bahwa Bagas mengalami kecelakaan saat mengikuti balap liar. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tak tertolong. Dokter menyatakan bahwa dalam tubuh Bagas ditemukan jejak alkohol.

Pak Hendrawan sangat terpukul. Dengan suara gemetar, ia mengabarkan musibah itu kepada istrinya. Mereka berdua masih tak percaya, tragedi sebesar ini datang hanya seminggu menjelang hari pernikahan putri semata wayang mereka.

Bersama istrinya dan Raras, Pak Hendrawan datang melayat ke rumah duka milik Pak Sastro. Rumah besar itu penuh pelayat. Rekan-rekan bisnis dan kolega Pak Sastro berdatangan, menyampaikan belasungkawa yang mendalam. Di halaman, puluhan karangan bunga berjajar rapi, membingkai suasana duka yang menyelimuti rumah megah itu.

Jenazah Bagas telah dimasukkan ke dalam keranda kayu. Dipikul oleh empat orang kerabat, jenazah disiapkan untuk diberangkatkan ke pemakaman.

Baca Juga: Lembar Budaya: Kabut Di Haramain

Di depan pintu rumah, diadakan upacara pemberangkatan. Seorang lelaki berdiri tegak memayungi keranda dengan payung hitam, simbol kehormatan terakhir.

Di depannya, seorang remaja berjalan pelan, membawa setangkai kembar mayang— bunga sakral yang biasa digunakan dalam prosesi pernikahan. Namun kini, maknanya bergeser: tanda bahwa jenazah yang dibawa adalah seorang jejaka... yang belum sempat menjadi suami.

Raras berdiri diam. Tak ada air mata tersisa. Matanya hanya menatap nanar kembar mayang yang bergoyang pelan tertiup angin.

Seolah takdir telah menggelar pelaminan, namun mengubahnya menjadi pelataran pemakaman. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#lamaran #cerpen #kisah #rumah duka #nikah #pewaris #pernikahan #jodoh #pemakaman #Cerita #Calon Mempelai #keluarga