RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Bojonegoro bukan sekadar kota di pinggiran Bengawan Solo. Setiap sudut jalannya menyimpan jejak heroik para putra daerah yang bertaruh nyawa demi merah putih.
Tak hanya pahlawan nasional, nama-nama jalan di kota ini juga dihiasi dengan pahlawan lokal yang semangatnya tak kalah berkobar. Siapa saja mereka?
1. Lettu (Anumerta) Soejitno Koesoemobroto
Perjuangan: Perwira TNI asal Tuban yang gugur saat operasi militer menghadapi agresi Belanda di Bojonegoro (15 Januari 1949).
Penghormatan: Nama beliau diabadikan menjadi Jalan Lettu Soejitno, membentang dari Desa Mulyoagung Kecamatan Bojonegoro menuju Campurejo, dekat pusat kota.
Ciri jalan: Jalan ini merupakan jalur padat yang menghubungkan area pendidikan dan pemerintahan.
2. Lisman (TRIP – Tentara Republik Indonesia Pelajar)
Perjuangan: Gugur tanggal 7 Januari 1949 di Bukit Desa Beron (Rengel) dalam pertempuran melawan Belanda
Penghormatan: Diabadikan sebagai Jalan Lisman, terletak di pusat kota, menghubungkan Jalan Veteran - Jalan Lettu Suyitno, berdekatan dengan Stadion Letjend Sudirman.
3. Kopral Kasan
Perjuangan: Gugur saat mempertahankan wilayah Temayang dari serangan Belanda.
Penghormatan: Jalan ini dinamai Jalan Kopral Kasan, berada di Kelurahan Banjarejo, tidak jauh dari Stadion Letjen H. Soedirman.
Ciri jalan: Akses utama warga ke arah pusat olahraga dan rekreasi.
4. Serma (Sersan Mayor) Abdullah
Perjuangan: Rekan seperjuangan Kopral Kasan, gugur dalam operasi yang sama.
Penghormatan: Jalan Serma Abdullah berada di Kelurahan Pacul, mengarah ke area pemukiman padat penduduk dan pusat UMKM lokal.
5. Sersan Darsi
Perjuangan: Gugur dalam perjalanan mengantar laporan ke markas Komando Batalyon di Karangpacar.
Penghormatan: Nama beliau diabadikan menjadi Jalan Sersan Darsi, yang berada di kelurahan Banjarejo.
Ciri jalan: Jalan ini cukup ikonik karena dekat dengan kantor-kantor pelayanan publik.
6. Letda Suradji, Letda Mustajab, Serma Maun, Kapten Martono
Perjuangan: Mereka gugur dalam berbagai operasi militer saat mempertahankan Bojonegoro dari agresi Belanda antara 1947–1949.
Penghormatan: Nama mereka menjadi nama jalan seperti:
Jalan Letda Suradji – di kawasan Kauman
Jalan Letda Mustajab – di kawasan Ledok Kulon
Jalan Serma Maun – dekat Kecamatan Bojonegoro Timur
Jalan Kapten Martono – poros utama menuju Stasiun Bojonegoro
Infrastruktur Ikonik Bertema Pahlawan
Jembatan Sosrodilogo
Dinamai dari Raden Tumenggung Aria Sosrodilogo, penguasa lokal masa kolonial yang berperan strategis dalam sejarah Bojonegoro. Jembatan ini menjadi ikon penghubung antar sisi Bengawan Solo.
RSUD Dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo
Nama dokter dan pejuang kemanusiaan yang juga menjabat sebagai Menteri Kesehatan pada era Revolusi. Rumah sakit ini menjadi pusat rujukan terbesar di kabupaten.
Masyarakat Bojonegoro tak hanya berjalan di atas aspal, tapi di atas sejarah. Jalan-jalan itu bukan sekadar tempat berlalu-lalang, melainkan prasasti hidup dari jiwa-jiwa muda yang mengorbankan segalanya untuk negeri.
Mereka tak sekadar dikenang. Mereka hidup dalam nama jalan, dalam napas kota, dan dalam semangat setiap generasi muda Bojonegoro. (feb)
Editor : Yuan Edo Ramadhana