Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Melihat Restorasi Situs Perahu Besi Ngraho, Calon Ikon Baru Pariwisata di Gayam, Bojonegoro

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 1 Juni 2025 | 02:04 WIB
(Dok. Pemerintah Kecamatan Gayam)
(Dok. Pemerintah Kecamatan Gayam)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Tahun ini, Pemerintah Kecamatan Gayam merestorasi salah satu cagar budaya melalui program Percaya (Pelestarian Cagar Budaya). Kali ini, cagar budaya yang dilestarikan adalah situs perahu besi kuno di Desa Ngraho, Kecamatan Gayam, Bojonegoro. Lokasinya berada di kompleks punden, pemakaman Eyang Suro Projo, atau lebih dikenal sebagai Mbah Pung.

“Situs perahu kuno akan diangkat untuk inovasi pelestarian cagar budaya, serta inovasi cagar budaya. Harapan ke depannya, Kecamatan Gayam punya trip (paket perjalanan) wisata budaya. Seperti beberapa desa lain, kami juga punya destinasi wisata, yakni perahu besi di Desa Ngraho,” jelas pihak Pemerintah Kecamatan Gayam.

Perahu besi tersebut pertama kali ditemukan di area sungai Bengawan Solo oleh salah satu warga setempat. Yakni Towo Rahadi pada 2013 lalu. Dengan bantuan masyarakat setempat, Towo mengangkat perahu dan menempatkannya di punden Mbah Pung. Serta merawat situs tersebut hingga saat ini.

Tidak seperti kebanyakan perahu zaman dulu yang terbuat dari kayu. Perahu besi tersebut diyakini sebagai satu-satunya perahu besi zaman dulu yang ada di Indonesia. Selain itu, perahu besi tersebut juga satu-satunya yang ditemukan di perairan sungai, alih-alih laut.

“Makanya kami angkat menjadi inovasi,” lanjut pernyataan resmi.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Kecamatan Gym (@kecgayam_bojonegoro)

Perahu besi ini berukuran panjang 24 meter dan lebar 4 meter. Berbeda dengan perahu modern yang umumnya sudah menggunakan las untuk menyambung bagian-bagiannya. Perahu besi ini masih dibangun menggunakan teknik keling, yakni menyambung lembaran besi dengan paku.

Sebagai catatan, teknik keling digunakan cukup lama dalam sejarah pembuatan perahu dan kapal. Menurut arsip Lloyd’s Register, penggunaan las untuk membangun kapal, baru dimulai pada era 1920an. Sebelum akhirnya ramai diadopsi setelah Perang Dunia II.

Saat ini keadaan perahu besi di Desa Ngraho tersebut lebih terjaga. Dengan adanya kanopi yang telah dipasang untuk menutupi perahu dari cuaca buruk. Selain itu, meskipun perahu masih memiliki banyak retak sesuai kondisinya saat ditemukan, kini perahu telah dibersihkan kembali dan dicat ulang dengan warna hitam. (edo/cho)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#pariwisata #keling #Wisata #bengawan solo #perahu #las #Cagar Budaya #wisata budaya #ngraho #bojonegoro #gayam #Besi