Oleh:
SLAMET WIDODO
Guru MTs Negeri 3 Bojonegoro
Pagi itu, langit Dusun Laraswangi menggantung mendung kelabu. Rintik hujan baru saja reda, nyaris seperti air mata yang malumalu jatuh dari pelupuk langit. Mentari enggan menampakkan wajahnya, seolah turut berduka atas kepergian salah satu warganya.
Di depan rumah duka, deretan kursi plastik berwarna biru telah dipenuhi lelaki paruh baya.
Mereka mengenakan sarung, baju koko, dan peci hitam yang mulai memudar warnanya. Sebagian memilih duduk di teras rumah tetangga, membiarkan angin basah menyapu wajah mereka yang muram. Motor terparkir semrawut di tepi jalan tanah, pertanda datangnya orang-orang yang tergesa, bukan karena urusan duniawi, tetapi karena panggilan belasungkawa.
Sementara itu, para wanita berdatangan satu per satu, mengenakan kebaya sederhana dan kerudung ala kadarnya. Di tangan mereka tergenggam wadah kecil berisi beras, ditutup saputangan atau sepotong kain tipis. Setelah menuangkan isinya ke dalam karung yang tergeletak di teras, mereka menghampiri perempuan mungil yang berdiri di ambang pintu. Istri almarhum Pak Karta.
Pelukan hangat, jabatan tangan, dan bisikan doa mengalir dari satu hati ke hati lain. Suara lirih ucapan belasungkawa bersanding dengan isakkan yang tertahan.
“Sabar, Bu… tabah, ya…”
Subuh tadi, Pak Karta menghembuskan napas terakhirnya. Dalam keheningan yang belum sempat disapa ayam jantan, ia pergi dengan tenang. Menghadap Ilahi. Meninggalkan seorang istri yang setia, dan Genduk, putri semata wayangnya, yang baru saja ia nikahkan setahun lalu.
Kini, rumah sederhana itu menjadi saksi bisu dari kehilangan yang mendalam kehilangan seorang suami, seorang ayah, dan seorang kepala keluarga yang dikenal karena keteduhan sikap dan kebijaksanaannya.
Tubuh Genduk terbaring lemas di lantai, di antara para pelayat perempuan. Matanya sembab, terpejam. Gemuruh bacaan tahlil dari jamaah perempuan memenuhi ruangan rumah sederhana di sudut Dusun Laraswangi.
Maut tak pernah memandang usia. Bocah, muda, atau tua, semua akan merasakannya. Pak Karta menyerah pada maut di usia yang masih tergolong muda: 47 tahun. Ia telah berjuang melawan sakit paru-paru yang perlahan-lahan menggerogoti tubuhnya.
Penyakit itu datang diam-diam, menyelinap tepat di hari keempat puluh setelah pernikahan putrinya. Sejak hari itu, tubuhnya kian lemah. Dan pagi ini, ia pergi... bersama harapan yang belum sempat terwujud: menimang cucu pertamanya.
Di tengah suasana khusyuk, sebuah suara lirih namun terdengar jelas memecah keheningan.
“Sembrono…”
Ujar Mbah Rejo, sesepuh Dusun Laraswangi. Tubuhnya kurus, keriput menguasai wajahnya, usia sekitar tujuh puluh tahun. Ia duduk bersila di antara para pelayat laki-laki, menatap lurus ke depan.
Orang-orang yang duduk di dekatnya saling menoleh, terkejut sekaligus penasaran dengan maksud ucapannya. “Apa maksudnya, Mbah?” tanya Pak Sarman, memberanikan diri. “Pak Karta sembrono. Dia berani menumbalkan dirinya sendiri,” jawab Mbah Rejo, tenang namun serius.
Tatapan para pelayat kini sepenuhnya tertuju padanya. Rasa ingin tahu menguar dari mata mereka yang memerah karena duka.
“Jauh-jauh hari sudah saya ingatkan,” lanjut Mbah Rejo. “Agar mengurungkan niat menjodohkan anaknya. Arah rumah besannya itu, tepat di Lor Kulon… Dalam hitungan Jawa, arah itu seharusnya dihindari. Jika dilanggar, maka salah satu anggota keluarga akan menjadi tumbal.”
Hening. Tak ada yang berani menanggapi, seakan kalimat Mbah Rejo menggantung di udara, seperti awan gelap yang belum tuntas menumpahkan hujan.
*
Sore itu, langit Laraswangi berwarna tembaga. Burung-burung gereja ribut di dahan randu yang tumbuh di dekat surau. Di bawahnya, duduklah dua lelaki tua: Pak Karta dan Mbah Rejo. Asap kopi hitam mengepul dari cangkir seng yang catnya telah terkelupas. Angin pelan menggerakkan ujung sarung mereka.
“Jadi, sudah pasti?” tanya Mbah Rejo, pelan tapi mantap.
Pak Karta mengangguk. “Insya Allah. Lamaran minggu depan. Orang tua si laki-laki sudah sowan, dan rasanya cocok, Mbah.”
Mbah Rejo mendesah, memandang jauh ke arah barat laut. Lor Kulon.
“Ngger… aku iki wis tuwa. Ora kepengin nyegah rencana apik. Tapi ndayani, Karta… rumah besanmu itu lor kulon persis. Arah sing kudu dihindari. Lakumu kudu dibatalke. Siji wae… demi keselamatanmu, anakmu, dan keluargamu.”
Pak Karta terdiam. Jemarinya menggenggam cangkir erat-erat. “Aku tahu, Mbah. Tapi… tidak ingin menjadikan adat luwih luhur ketimbang masa depan anakku.”
Mbah Rejo menoleh cepat. “Iki dudu mung adat, Karta. Iki pitung-pitungan. Iku pamong dusun. Arah lor kulon wis luwih saka puluhan taun dihindari, karena memang ndadekke bala.”
Pak Karta menatap mata Mbah Rejo. Dalam, lurus, namun tak gentar.
“Mbah, aku percaya sama hitungan Jawa. Aku juga tidak menghilangkan warisan nenek moyang. Tapi anakku, Genduk, dia jatuh cinta. Dan calon suaminya itu, pemuda apik, Mbah. Kerjaan mapan, anake wong sugih. manut karo wong tuwa.”
Sejenak senyap. Hanya bunyi sendok mengaduk gelas di kejauhan yang mengisi celah percakapan mereka.
“Aku lebih rela aku sing ketiban, Mbah,” suara Pak Karta nyaris berbisik. “Asal anakku bahagia. Yen ono tumbal, biar aku. Dudu Genduk. Dudu ibune.”
Mbah Rejo menggeleng pelan, napasnya berat. “Semono sayange kowé karo anakmu, ya, Karta?”
Pak Karta tersenyum, lelah tapi tulus. “Aku ora duwe dunya. Ora iso menehi warisan emas. Tapi aku bisa nyekeli keputusan. Iki caraku mberkahi langkah anakku. Yen perlu, nyawaku dadi tumbal, aku ridho…”
Mbah Rejo menunduk, tangan tuanya bergetar sedikit saat meraih rokok linting dari saku. Ia tahu, keputusan itu tak akan bisa diganggu gugat. Dan di dalam hatinya yang renta, tumbuh doa lirih agar langit berbelas kasihan pada cinta seorang ayah.
*
Baca Juga: Lembar Budaya: Pamali
Raka datang ke rumah duka dan duduk di antara para pelayat. Dari kejauhan, ia menyaksikan Genduk dipapah berdiri di samping suaminya yang memanggul keranda ayahnya, Pak Karta, yang akan diberangkatkan ke makam. Genduk tampak lemas, nyaris tak mampu berdiri. Air mata menetes deras membasahi pipinya.
Semoga Allah Swt. menambah kesabaran untukmu, Nduk. Dan semoga engkau bahagia bersama lelaki pilihan ayahmu; gumam Raka dalam hati, menunduk dengan perasaan pilu.
Ia teringat janji yang pernah mereka ikrarkan berdua, untuk membangun rumah tangga bersama, menua dalam cinta yang saling menjaga.
Namun takdir berkata lain. Enam bulan lalu, Pak Karta tak memberi restu hubungan mereka. Alasannya tegas: perbedaan status dan harta. Padahal, saat itu Genduk sudah mencintai Raka sepenuh hati.
Penolakan itu menjadi luka pertama yang belum benar-benar sembuh. Maka ketika Genduk kembali memperkenalkan seorang pemuda yang menurut Pak Karta lebih mapan secara ekonomi dan lebih matang dalam tanggung jawab, ia tak kuasa lagi menolak. Ia tak ingin membuat hati anaknya kecewa untuk kedua kalinya. (*)
Laraswangi, 15 Mei 2025
Editor : Yuan Edo Ramadhana