Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Lembar Budaya: Pamali

Yuan Edo Ramadhana • Sabtu, 10 Mei 2025 | 21:49 WIB
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

 

Oleh:
Slamet Widodo
Guru MTs Negeri 3 Bojonegoro

 

Di dusun Laraswangi, pagi-pagi embun masih enggan lepas dari pucuk daun jati, seorang lelaki paruh baya duduk berselonjor di serambi rumah joglo. Matanya menatap sayu dua anak perempuannya yang sedang menjemur pakaian di halaman. Kembar. Mirip. Seperti dua bulan sabit yang jatuh beriringan ke bumi. Namanya Salsabila dan Salwa.


SEJAK kecil, keduanya tak pernah terpisahkan. Baju harus sama, warna sepatu tak boleh beda, bahkan ketika bermain masak-masakan, mereka selalu bergiliran jadi ibu. Sang ayah, Pak Wirya, kadang tersenyum haru, kadang juga gelisah diam-diam.

"Pak, bolehkah kami taaruf?" tanya Salwa suatu sore, disusul anggukan pelan dari Salsabila.

Pak Wirya terdiam lama. Tapi ia tahu, waktu tak bisa dicegah. Anak-anaknya bukan lagi bocah kecil yang bisa ia gendong satu-satu. Maka dengan doa, ia mengizinkan.

Taaruf pun berjalan lancar. Kedua pemuda itu, masing-masing membawa angin ketenangan. Soleh, santun, dan memuliakan wanita. Jodoh, kata orang, memang cermin dari diri sendiri.

Tibalah saat pembicaraan mengarah pada akad nikah.

"Pak, kami ingin menikah bersama. Sekaligus. Satu hari. Satu pesta. Satu keberkahan," pinta Salsabila dengan mata berbinar.

Namun, wajah Pak Wirya menggelap.

"Pamali, Ndhuk," jawabnya perlahan. "Orang Jawa percaya, kalau orang tua menikahkan dua anak dalam tahun yang sama, apalagi dalam satu hari, maka nyawanya akan jadi tumbal. Ayah bisa sakit, bahkan mati."

"Tapi itu cuma mitos, Pak... Bukankah takdir ada di tangan Allah?" Salwa mencoba meyakinkan.

Pak Wirya menatap langit. "Benar, tapi tradisi kadang jadi bagian dari doa-doa nenek moyang. Tak semua bisa dilawan dengan logika."

Malam itu, Pak Wirya berdiri lama di depan mushola kecil di samping rumah. Doanya lirih, tangisnya senyap.

Namun hati dua anaknya telah bulat. Mereka tetap ingin menikah bersamaan. Bahkan meski seluruh sesepuh kampung menasihati, bahkan meski ibunya pun berurai air mata, keduanya bersikukuh.

Hari pernikahan pun digelar. Sebuah tenda besar berdiri di tengah pekarangan. Pagar janur kuning menghiasi jalanan dusun. Warga Laraswangi ramai bergotong royong. Dan Pak Wirya... tersenyum datar, seolah ingin menyimpan luka agar tak menyentuh wajah anak-anaknya.

Akad nikah berlangsung khidmat. Salsabila dan Salwa duduk bersisian dalam balutan kebaya putih. Tangis haru pecah saat Pak Wirya mengucapkan ijab kabul dua kali. Suaranya nyaris serak. Tapi tak ada yang menyangka, itulah suara terakhirnya yang terdengar lantang.

Tiga hari usai pesta, tubuh Pak Wirya melemah. Ia demam tinggi. Nafasnya pendek-pendek. Dokter berkata, ini hanya kelelahan. Tapi ada yang lain di mata sang ibu.

"Mbah Kung-mu dulu juga begitu... setelah menikahkan dua anaknya di tahun yang sama," bisiknya lirih.

Dan benar saja, di malam Jumat, Pak Wirya menghembuskan nafas terakhir. Dalam tidur. Dalam sepi. Dalam doa-doa panjang yang tak sempat ia rampungkan.

***

Kepergian Pak Wirya mengguncang dusun Laraswangi. Tak sedikit warga berbisik lirih saat mengiringi jenazahnya menuju pemakaman di lereng bukit.

“Sudah dibilangi… tapi anak-anak zaman sekarang anggap remeh adat,” gumam seorang bapak tua.

Salsabila dan Salwa berdiri di samping pusara ayahnya dengan mata sembab. Mereka merasa kehilangan arah. Masing-masing memegang ujung kerudung saudarinya, seperti dulu mereka berpegangan tangan saat takut pada gelap.

Malam-malam sesudahnya sunyi. Rumah joglo itu kehilangan nadinya. Ibu mereka duduk lebih sering di depan foto almarhum suaminya, bibirnya hanya menyebut nama Allah. Ia tak pernah menyalahkan kedua anaknya. Tapi luka kehilangan, siapa yang bisa pura-pura sembuh?

Salsabila mulai jarang bicara. Salwa lebih banyak membaca Al-Qur’an sambil menahan air mata yang menetes di mushaf. Suaminya masing-masing berusaha menenangkan, tapi keduanya tahu: hanya taubat dan kerelaan yang bisa menuntun jiwa mereka kembali pulih.

Suatu malam, mereka berdua menghadap ibu mereka. Bersimpuh, dengan mata sembab dan suara bergetar.

“Ibu… maafkan kami.”

Ibu mereka hanya mengusap kepala keduanya. Lalu berkata, “Kalian tidak salah. Kalian hanya terlalu yakin, bahwa semua bisa dibantah dengan niat baik. Padahal, niat pun perlu ilmu, dan keberanian perlu dibarengi kerendahan hati.”

Hari-hari berlalu. Salsabila dan Salwa mulai menapaki hidup baru. Tapi mereka tak ingin kehilangan jejak ayahnya dalam langkah-langkah mereka. Maka mereka sepakat: mengenang ayah bukan hanya dengan tangis, tapi dengan amal.

Salsabila mengusulkan untuk membangun perpustakaan kecil di pojok mushola dusun, tempat ayahnya dulu sering mengaji anak-anak. Salwa mengusulkan taman baca untuk ibu-ibu muda, agar melek ilmu dan tak hanya bergantung pada cerita turun-temurun yang tak terverifikasi.

Mereka menamai dua tempat itu: Pojok Wirya dan Taman Ibu Sakinah.

“Bapak mungkin wafat karena pamali, tapi kita hidup untuk menghapus pamali lain yang keliru,” kata Salwa suatu hari.

“Tapi kita tak akan pernah menghapus adab,” balas Salsabila. “Tradisi boleh dikaji, tapi orang tua tak boleh dilawan. Harus ditata dengan hikmah.”

Mereka mulai menulis ulang kisah hidup ayah mereka. Tentang perjuangannya mengangkat martabat keluarga, mendidik dua anak perempuan tanpa pernah membedakan. Tentang malam-malam tahajudnya, dan tentang senyumnya di hari pernikahan yang diam-diam menyimpan perpisahan.

Kisah itu disebarluaskan. Di kampus, di majelis, di radio lokal. Tentang cinta yang tidak egois. Tentang pilihan yang tidak melulu soal benar atau salah, tapi tentang bijak atau terburu-buru.

Dan dari Laraswangi yang tenang, cerita itu mulai dikenal. Tak lagi hanya sebagai kisah pamali, tapi sebagai pelajaran tentang kesadaran spiritual: bahwa hidup bukan untuk menang atas takdir, tapi untuk tunduk dalam hikmah-Nya.

Suatu subuh, saat kabut masih menggantung di bawah langit, ibu mereka tersenyum sambil menatap dua anak perempuannya.

“Bapak kalian pergi tidak sia-sia,” katanya lirih. “Kalian sudah membayar semua dengan cara yang tak bisa digantikan orang lain: dengan iman, ilmu, dan amal.”

Salsabila menatap Salwa. Salwa menunduk pelan. Dan untuk pertama kalinya, setelah sekian lama, mereka berdua tersenyum bukan karena ingin bahagia… tapi karena telah berdamai. (*)

 

Laraswangi, 25 April 2025

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#pamali #ijab kabul #akad nikah #kembar #cerpen #kisah #taaruf #dusun #pernikahan #jawa #takdir #menikah #orang tua #Cerita #ilmu #Tradisi