Oleh: Suwarto
Ketua Ranting VII PGRI Kecamatan Soko, Tuban
Bumi rupanya masih menyimpan makhluk asing penuh misteri yang belum pernah dilihat sebelumnya. Penampakan mesterius seorang pemuda berkumis tebal perokok terwe atau gelinter dewe dalam bahasa jawa masih sering muncul tiba-tiba di lahan sawah sebelah selatan dukuh Gambor. Kemunculannya kadang di waktu malam setelah magrib dan tengah malam.
Petani menjumpai hal itu ketika mereka mengairi sawahnya. Ia muncul di permukaan bumi hanya orang-orang tertentu yang kebetulan melihatnya. Biasanya yang tahu ia muncul adalah pemilik sawah . Munculnya sosok aneh tersebut merupakan penomena sendir bagi petani. Biasanya kalau sosok pemuda berkumis tebal itu menampakkan diri pertanda akan ada kemarau panjang.
Konon, waktu kemarau panjang sinar mentari yang tajam menusuk bumi. Bumi meronta kepanasan bagaikan terbakar api neraka sehingga bumi kering keronta. Tanaman ubi jalar di persawahan bumi sebelah selatan dukuh Gambor juga layu. Ubi jalar hidup tak mau matipun segan. Jangankan berisi pucuk daunpun mengalami kekeringan.
Tanaman ubi jalar adalah tanaman pokok petani. Daunnya laku dijual apalagi isinya. Maksud hati memeluk gunug apa daya tangan tak sampai. Waktu yang sudah ditunggu-tunggu untuk dipanen gagal karena musim kemarau yang panjang melandanya.
Petani sebelah selatan dukuh Gambor sudah berusaha agar ubi jalarnya bisa dipanen. Usaha untuk mendatangkan hujan berulangi kali denga ritual sesaji telah ditempuh. Sesaji menyembelih kambing lalu dipanggang, membuat minuman dawet 7 ngaron, panggang ayam 44 ekor, telur ayam 44 biji, jenang salak 7 tolok (boran) kupat lepet 44 ikatl, dan air kelapa gading satu kendi emas. Mbah Kromo konon orang yang dituakan memimpin upacara minta hujan dengan melafalkan doa-doa.
Selesai upacara sesaji kemudian imakan bersama dan bermunajad kepada sang Yang Maha Kuasa. Munajadnya tiada lain adalah minta hujan namun belum juga berhasil. Manusia hanya berusaha tapi Allah yang menentukan. Makin lama ubi jalar hampir mati semuanya. Kebutuhan sehari-hari sudah mendesak tak mau ditahan lagi. Kemudian petani memutuskan ubi jalarnya untuk segera dipanen. Ubi jalar digali ternyata hanya akar yang ada. Ubi tidak berisi. Petani menangis hampir putus asa.
Wajah Mbah Kromo mukanya pucat tak mampu lagi bersinar. Sesaji dan doa-doa yang dianggap mujarab tak mampu lagi menembus langit untuk menurunkan hujan. Sumber airpun eggan mengalir. Pepohonan banyak yang mati kekeringan. Hewan piaraan mati kehausan. Usaha petani minta hujan juga belum membuahkan hasil. Kepercayaan petani pada Mbah Kromo mulai luntur. Menganggap bahwa beliau sudah tidak mujarab lagi untuk dimintai tolong.
*
Sungai Bengawan Solo wajahnya ceria menyambut kehadiran seorang pemuda tampan berkumis tebal. Udara pagi berembun juga mulai menyapa sang pemuda yang lewat akan menyeberangi sungai bengawan itu. Ia tampak sopan dan berwibawa. Pancaran bola matanya teduh menciptakan ketentraman. Orang yang memandang pemuda itu merasa kagum.
“ Nak kamu akan kemana?” Pinta seorang nenek tua.
“ Oh ya Nek, aku akan melakukan perjalanan ke arah barat,insya Allah melewati Rengel.
“ Hati-hati ya Nak, semoga engkau bermanfaat.”
Oh ya Nek, terima kasih atas doanya. Jawab Seorang pemuda itu memberikan jawaban pujian.
Sepertinya seorang nenek tua itu dapat membaca aura yang tersirat pada wajah pemuda itu. Hanya berapa lepas sorotan bola mata memandang, pemuda itu sudah samapai di bibir Sungai Bengawan Solo. Pemuda tersebut sudah berada di dukuh Gemblo sedangkan orang-orang yang akan menyeberangi sungai masih berada di tempat. Mereka sambil menunggu tukang perahu.
Penumpang perahu yang lain sewaktu pemuda itu berada di sampingnya mereka saling bertanya.
“ Lo tadi ada ada anak muda yang tampan berkumis tebal, ia berada di belakangku, ketika ku lepaskan pandanganku ke depan ia sudah berada di sana.” Pinta seorang bakul sayur gendung.
“ Ya betul, Yong Jah. Yong adalah panggilan orang lebih tua. Seawak perahu ditakjubkan degan kelebihan yang dimiliki oleh seorang pemuda yang barusan bersama mereka tadi pagi. Ada yang beropini ia itu manusia atau tidak ya?.
“Hiiiii, gimana ini? Gumam sorang tukang perahu yang sudah separo baya, sambil ia menghisap rokonya yang hampir habis.
Pemuda itu kemudian menengok ke belakang dengan mengisyarakan tangannya diluruskan dari Dukuh Gemblo ke Dukuh Sembung yaitu bibir sungai di sebelah selatan.. Nenek tua yang juaga masih berada di perahu itu mengetahui.
“Wah besok dengan isyarat pemuda itu di sini akan terhubung. “Terhubung apa pinta tukang perahu.
“Ya akan ada semacam trerteg (jembatan) ” Kata nenek tua sambil ia seesekali batuk.
“ Oh gitu ya Nek, ya betul, tapi kapan ya mungkin saja kita yang sekarang masih berada di perahu ini pada sudah tiada semua.
” Maksud nenek, ya kita sudah meninggal dunia” tanyanya si abang tukang perahu.
***
Fenomena yang akan terjadi sudah dapat terbaca oleh orang-orang tertentu yang hatinya bersih. Kemajuan zaman yang selalu melangkahkan kakinya mencekeram dunia. Penomena itu sekarang jadi sebuah reliata. Dukuh Gemblo dan Semambung sekarang terhubung dengan sebuah jembatan. Jembatan itu adalah Jembatan Kare (Kanor dan Rengel).
Pemuda yang tampan berkumis tebal kemudian melanjutkan perjalannya ke arah barat daya. Konon perjalannnya Sampai di Dukuh Gambor Desa Jegulo kecamatan Soko Kabupaten Tuban. Di sebelah selatan Dukuh Gambar terlihat banyak petani sedang berami-ramai memanen ubi jalar. Ubi jalar yang dipanen sama tidak berisi. Petani ada yang kecewa ada juga yang bersabar. Melihat itu Pemuda yang tampan tadi mencoba melangkahkan kakinya ke arah keramaian petani. Ia cari tahu mengapa bisa terjadi.
“ Hai, kisanak Engkau dari mana, kami sudah melalukan apa yang kami bisa tapi belum juga bethasil. Pemuda itu hanya diam. Hai ki sanak, sebutan yang diberikan Mbah kromo pada pemuda itu. Tolong jika Anda punya pengalaman yang bisa membuat petani di sii bisa hidup.
“ Oh ya Mbah, aku coba akan memohon pada Allah SWT. “ jawabnya.
“ Allah itu siapa Nak, aku baru kali mendengar ucapan Allah dari bibiru yang manis? “ puji Mbah Kromo pada pemuda itu.
“ Allah itu, tuhan kita Mbah, Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala ala mini.” Tuhan.
“ Aku belum percaya Nak, kalau belum ada buktinya?”
Pemuda yang tampan berkumis tebal itu beriiyadhoh ( bertirakat). Ia melakukan puasa dan bertapa. Ia bertapa di tengah sawah. Bertapa tidak terhalang oleh dedaunan langsung meminta pada Allah SWT agar permohonannya dikabulkan. Batu Jejak ia bertapa sampai membekas tempat ia duduk. Batu itu masih tersimpan di bumi selatan Gambor.
Usai bertapa kemudian pemuda itu menemui Mbah Krtomo.
“ Mohon maaf Mbah, mari memulai menanam ubi lagi.” Kata pemuda pada petani.
“ Baik Nak kita mulai.” Jawab Mbah Kromo.
“ Wahai, saudaraku semua, ayo kita menanam ubi lagi.!” Ya Mbah jawab petani.
Sebelum menamam ubi pemuda itu mengajak pada semua petani terlebih dahulu untuk beristigfar sebanyak-banyaknya agar permohonannya dikabulkan. Alhamdulllah setelah berdoa, permohonannya dikabulakan. Tidak lama kemudian turun hujan. Kemudianpemuda bersama petani menanam ubi jalar. Pemuda selalu mengawal ketika petani akan meletakkan menanamnya ubi jalar dengan bimbingannya. Petani diajak dulu membaca Basamalah dan sholawat baru kemudian menanamkan ubi jalarnya.
Subhanallah ubi jalar yang ditanam bersama pemuda tadi hasilnya luar biasa. Haslnya melimpah ruah. Rasanya urih, enak, dan gempi. Petani meras puas dan terima kasih pada pemuda itu. Tanah persawahan menjadi hidup kembali. Sumber air yang tadinya kering muncul sumber baru. Pemuda juga meninggalkan sumur juga. Sumur itu sampai sekarang masih dimanfaatkan oleh petani.
Sebagai ucapan terima kasih pada pemuda itu. Para petani bersama Mbah Komo bersedia untuk mengikuti agama pemuda. Yaitu memeluk agama Islam. Pemuda yang sudah berbuat baik dengan para petani sampai berhasil berdoa bersama. Adanya sumber pengairan di lahan persawahan sebelah selatan dukuh Gambor. Para petani karena tidak tahu siapa nama serbenarnya pemuda tampan berkumis tebal itu. Keberhasillnya bertanam ubi jalar ada isinya dalam istilah bahasa jawa disebut bolot.
Pemuda yang tampan dan berkumis tebal itu diberikan panggilan oleh petani sekitarnya Joko Bolot. Joko bolot entah kemana perginya Mbah Kromo dan petani juga tidk ada yang mengetahui kemana beliau berkelana lagi. Daerah sekitar sana termasuk lokasi SMPN 2 Soko mayoritas orang menyebutnya SMP Bolot. (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana