Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Lebaran Ketupat: Tradisi Unik Penuh Makna di Pulau Jawa

Yuan Edo Ramadhana • Selasa, 1 April 2025 | 19:00 WIB
Photo
Photo

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Setelah Hari Raya Idul Fitri, masyarakat Muslim di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, memiliki tradisi unik yang dikenal sebagai Lebaran Ketupat. Tradisi ini dilaksanakan seminggu setelah Idul Fitri dan menjadi simbol kebersamaan serta ungkapan syukur. Pada perayaan ini, warga biasanya membawa ketupat yang disajikan dengan berbagai pelengkap seperti sayur sambal goreng, serundeng, atau bubuk kedelai. Ketupat yang telah disiapkan kemudian didoakan bersama sebelum dinikmati, sesuai dengan filosofi ketupat dalam budaya Jawa.

Sejarah Lebaran Ketupat

Menurut NU Online, tradisi Lebaran Ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga kepada masyarakat Jawa. Tradisi ini berkembang sejak zaman Wali Songo dengan memanfaatkan budaya slametan yang sudah dikenal luas di Nusantara. Budayawan Zastrouw Al-Ngatawi menjelaskan bahwa Sunan Kalijaga memperkenalkan tradisi ini sebagai bentuk syukur kepada Allah, sekaligus sebagai sarana untuk bersedekah dan menjaga silaturahmi di hari Lebaran.

Pada masa itu, Sunan Kalijaga mengenalkan dua istilah, yaitu "Bakda Lebaran" dan "Bakda Kupat". Bakda Lebaran berlangsung pada tanggal 1 Syawal, di mana masyarakat merayakannya dengan salat Idul Fitri dan berkunjung ke rumah saudara serta tetangga untuk bersilaturahmi. Sementara itu, Bakda Kupat dilaksanakan 7 atau 8 hari setelah Lebaran Idul Fitri, yang ditandai dengan memasak dan membagikan ketupat sebagai bentuk kebersamaan dan keberkahan.

Makna Filosofis Lebaran Ketupat

Lebaran Ketupat bukan hanya sekadar perayaan memasak dan menyantap ketupat, tetapi juga memiliki makna mendalam dalam budaya Jawa. Tradisi ini erat kaitannya dengan konsep "laku papat" atau empat tindakan yang menjadi refleksi kehidupan spiritual setelah menjalani ibadah di bulan Ramadan. Keempat tindakan tersebut adalah:

  1. Lebaran – Menandakan bahwa bulan Ramadan telah berakhir dan umat Muslim kembali kepada fitrah.
  2. Leburan – Bermakna melebur atau menghapus dosa-dosa dan kesalahan dengan saling memaafkan.
  3. Laburan – Berasal dari kata "kapur" atau "labur", yang melambangkan kesucian hati setelah menjalani ibadah puasa.
  4. Luberan – Menggambarkan kelimpahan rezeki dan ajakan untuk berbagi dengan sesama.

Tradisi yang Terus Dilestarikan

Hingga saat ini, tradisi Lebaran Ketupat masih dijaga dan dilakukan oleh masyarakat di berbagai daerah, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Perayaan ini tidak hanya menjadi ajang untuk bersilaturahmi, tetapi juga sebagai bentuk pelestarian budaya leluhur yang mengajarkan nilai-nilai kebersamaan, kesederhanaan, dan keikhlasan.

Dengan adanya tradisi ini, masyarakat diajak untuk tidak hanya merayakan Idul Fitri sebagai momen kemenangan secara spiritual, tetapi juga sebagai kesempatan untuk berbagi kebahagiaan dan mempererat hubungan sosial. Lebaran Ketupat menjadi pengingat bahwa kebersamaan dan saling berbagi adalah bagian dari kehidupan yang harus terus dijaga dan diwariskan ke generasi berikutnya. (oss/mgg)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Lebaran Ketupat #kebersamaan #kedelai #Bakda Kupat #ketupat #Lebaran #Serundeng #jawa #idul fitri #hari raya #Tradisi