Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Lembar Budaya: Kartini Kembali, Membawa Mimpi

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 21 April 2024 | 22:30 WIB
AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO
AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO

 

Oleh
Muhammad Azhar Adi Mas’ud
Mahasiswa S-1 Sastra Indonesia, UNESA

 

Rintik-rintik air menghujam bumi. Mengiringi suasana sore. Membungkus kota kabupaten kecil itu. Mobil-mobil berlalu lalang dijalan. Menyibak hujan yang mendera. Payung-payung mengembang beriring langkah cepat orang-orang yang menerobos hujan. Sebagian yang lain berteduh di emperan toko, di halte bus sepanjang jalan raya, atau entah dimana saja berharap hujan segera reda.

Sebuah sedan putih meluncur ditengah guyur rintik air semakin deras. Seorang perempuan mengenakan setelan blouse, jas putih, berkaca mata, dan rambut tertata rapi duduk di kursi penumpang. Sementara itu di kursi pengemudi, duduk seorang pria yang berusia lebih tua, sang sopir pribadi. Mobil itu terus melaju, hingga tiba didepan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di kota kabupaten itu. Mobil berhenti tepat didepan lobi rumah sakit.

Dengan tergesa, perempuan yang berprofesi sebagai dokter berusia sekitar 30 tahun itu turun dari mobil sedan putih. Kanopi didepan lobi rumah sakit melindunginya dari guyur rintik air. Ia segera masuk kedalam, di ruangannya, beberapa perawat dan beberapa dokter tengah menunggu. Ternyata, ia adalah dokter bedah, dan mereka tergabung dalam Tim Operasi Bedah yang akan menangani seorang kakek tua yang terkena Usus Buntu.

Sebelum prosedur operasi dilakukan, terlebih dahulu salah seorang perawat menyerahkan berkas data pasien kepada dokter itu. Perempuan itu memeriksa sejenak berkas tersebut. Ternyata pasiennya berasal dari salah satu desa terpencil di kecamatan yang jaraknya jauh dari pusat kota. Desa Godong Arum namanya. Membaca nama desa tersebut dan nama pasiennya, sejenak ia teringat memori masa kecilnya. Ruang operasi telah siap, operasi harus segera ia lakukan.

***

Pagi itu, seorang anak perempuan berusia 10 tahun tampak berjalan di pinggir jalan setapak yang tidak terlalu luas, ditemani kabut. Namanya Kartini. Ya, ia sendiri memang dilahirkan tepat pada peringatan Hari Kartini, 21 April. Ia semula tak tahu siapa itu Kartini, tapi semenjak gurunya bercerita tentang sosok Kartini seorang pejuang pendidikan bagi perempuan, ia terinspirasi dengan Kartini.

Kartini tinggal bersama neneknya yang ia panggil Si Mbok. Berdua, mereka tinggal di Dusun Ngaler, Desa Godong Arum. Kartini duduk dibangku kelas 5 SD, setiap pagi ia harus berjalan sejauh 1,4 KM melewati area ladang tembakau hingga kemudian sampai di sekolahnya yang terletak di jalan raya utama.

Godong Arum letaknya tak jauh dari bantaran sungai Bengawan Solo, bisa dibilang desa itu terpencil dan penduduknya rata-rata masih hidup dalam kemiskinan. Bahkan, listrik baru saja mengaliri desa itu, barang-barang seperti TV dan Sepeda Motor masih menjadi hal yang mewah dan hanya sedikit orang yang punya. Terdapat tiga dusun didesa tersebut. Dusun Ngaler yang letaknya bersebelahan langsung dengan bengawan. Dusun Mbako yang terletak disebelah Dusun Ngaler dipisahkan ladang tembakau dan agak jauh dari bengawan. Serta Dusun Jati yang lokasinya dekat hutan Jati.

Hidup serba sederhana bersama sang nenek membuat Kartini tak banyak mengeluh. Di sekolah, Kartini bahkan ikut membantu dengan berjualan kue cucur bikinan Si Mbok. Saat berangkat ke sekolah Kartini biasanya membawa satu keranjang kue cucur dan akan menjajalkannya kepada teman-teman satu sekolahnya saat istirahat tiba.

Ibunya telah tiada sejak usia Kartini 5 tahun, ayahnya entah kemana, sejak Kartini lahir ia tak pernah melihat sosok ayahnya. Setiap Kartini bertanya kepada Si Mbok nya, ia selalu mengatakan bahwa ayah Kartini telah minggat. Kini hanya Kartini yang tinggal bersama Si Mbok.

Setiap pagi, Kartini berjalan kaki, seperti pagi-pagi biasanya, kadang ia berangkat bersama Srini, sahabat Kartini. Namun, Srini kini tak bisa lagi berangkat sekolah bersama Kartini karena Srini terpaksa putus sekolah keluarganya tak punya biaya. Banyak memang anak-anak di kampung ini yang terpaksa harus berhenti sekolah, tak jarang itu dilakukan karena mereka bekerja membantu perekonomian keluarga, apalagi bagi mereka yang tidak memiliki orang tua lengkap, beruntung Kartini meski tak memiliki orang tua dan hanya tinggal bersama neneknya, untuk biaya sekolah ia masih dibiayai pamannya yang merantau di Ibu Kota Provinsi. Ketika sedang asyik, berjalan sendiri, suara itu menyapa Kartini.

“Nduk, mau ke sekolah ya? Ayo bareng sama bapak aja!” ucapan itu menghentikan langkah kaki Kartini.

Mata kecil bocah itu menangkap sesosok pria yang menghentikan sepeda ontel miliknya. Tampak pria itu mengenakan topi dan kaos serta celana panjang. Dari raut mukanya orang itu ramah.

“Jangan takut, bapak bukan orang jahat. Bapak mau ke Pasar Wedus. Hari ini hari Jumat, Pasar Wedus buka. Nanti bapak lewat jalan raya, lewat depan sekolahmu, ayo naik!” ucap pria itu.

Awalnya Kartini ragu-ragu tapi akhirnya ia menyetujui ajakan pria tersebut karena melihat orang tersebut adalah orang yang ramah.

“Bapak, namanya siapa?” tanya Kartini.

“Nama Bapak, Sujono, kamu siapa namanya?” Pak Sujono balik bertanya.

“Kartini” jawabnya singkat.

“Itu apa, yang kamu bawa?” tanya Pak Sujono.

“Kucur pak” jawab Kartini singkat.

“Walah, walah, kamu jualan kucur to. Wah kebetulan bapak suka kucur, berapaan?” tanya pria tersebut.

“satunya 500 rupiah saja pak” jawab Kartini.

“Yawes nanti bapak beli ya” tandas Pak Sujono.

Pak Sujono adalah seorang makelar kambing yang setiap hari Jumat pergi ke Pasar Wedus yang letaknya di desa sebelah untuk menawarkan jasanya membantu para pembeli mencari kambing yang diinginkan. Pak Sujono tinggal di Dusun Jati yang jaraknya cukup jauh dari Dusun Ngaler tempat Kartini tinggal.

Angin sepoi-sepoi mengantarkan sepeda Pak Sujono melaju. Kartini yang sudah duduk di boncengan belakang sambil tangan kanannya mengapit kue kucur yang diwadai besek bambu. Sedangkan tangan kirinya memegang erat baju Pak Sujono. Sesampainya di sekolah, Pak Sujono membeli dagangan Kartini, 10 kue kucur dihargai 5.000 rupiah.

Ternyata, setiap Jumat pagi, Kartini selalu berpapasan dengan Pak Sujono dijalan saat ia berangkat sekolah. Dan berkali-kali pula Kartini diantarkan Pak Sujono ke sekolahnya. Dalam perjalanan itu mereka saling bertukar cerita, Kartini menceritakan latar belakang keluarganya. Tentang Si Mboknya, juga tentang Bapaknya yang tak pernah ia ketahui apakah masih hidup atau telah mati. Kartini juga bercerita kepada Pak Sujono keinginannya terus bersekolah dan menjadi orang sukses agar bisa membanggakan Si Mboknya.

Pernah suatu pagi Jumat, ketika sedang dibonceng Pak Sujono, Kartini tiba-tiba bertanya. “Pak, Kartini ingin jadi dokter? Kata teman-teman, itu sulit karena harus punya uang banyak, dan perempuan lebih baik jadi bidan atau perawat”

“Tidak ada yang sulit kalau Kartini mau berusaha, jadi Kartini harus berusaha keras. Bapak jadi teringat sama perjuangannya R.A. Kartini, pahlawan perempuan, dulu tidak ada perempuan yang bisa sekolah di zamannya, saat itu jadi perempuan serba sulit, tidak boleh belajar, tidak boleh keluar rumah. Tapi dengan gigih dan semangat akhirnya Kartini bisa sekolah bahkan jadi pahlawan, kamu maukan jadi seperti R.A. Kartini?” nasehat Pak Sujono.

“Mau pak, namaku Kartini, pasti aku bisa jadi seperti R.A. Kartini!” ucap Kartini.

“Nah, bagus itu, jadi ayo sekarang kita berangkat sekolah. Mulai wujudkan mimpimu dengan rajin belajar, sungguh-sungguh belajar di sekolah!” ucap Pak Sujono menyemangati.

****

Hari-hari berjalan silih berganti. Pak Sujono masih sering berjumpa dengan Kartini. Hingga suatu pagi di Jumat seperti biasa. Pak Sujono kembali pergi ke Pasar Wedus. Di jalan, di tempat biasa ia bertemu dengan Kartini hari itu Pak Sujono tak melihat Kartini di sana. Ke mana Kartini? Apa ia tidak sekolah hari ini? Mustahil Kartini bolos sekolah!. Batin Pak Sujono.

Karena rasa penasarannya, Pak Sujono memutuskan pergi ke sekolah Kartini dan bertanya kepada beberapa temannya di mana Kartini. Akhirnya Pak Sujono bertemu dengan salah seorang teman Kartini. Ia mengatakan bahwa Kartini kini tidak lagi bersekolah di sekolah itu karena pamannya telah membawa Kartini untuk tinggal bersamanya setelah nenek Kartini meninggal Senin yang lalu. Mendengar hal tersebut Pak Sujono akhirnya paham mengapa Kartini tidak berangkat sekolah hari itu. Pak Sujono berharap Kartini mampu mewujudkan mimpinya terus bersekolah hingga menjadi orang sukses.

***

Malam itu, operasi berjalan lancar. Selesai jalannya operasi dokter perempuan itu masih harus bertugas menangani pasien yang lain hingga sift malamnya selesai pada pukul empat pagi. Dokter perempuan itu masih ada di kantornya, seharunya ia telah pulang dari RSUD sejak empat jam yang lalu. Tapi kini ia masih tampak berjalan dari ruang kerjanya menuju kamar salah satu pasiennya. Ya, pasien yang tadi malam ia operasi karena penyakit usus buntu. Seorang kakek paruh baya. Ia ingin membuktikan secara langsung bertanya pada Si Kakek, ini karena ia teringat masa lalunya.

Ia ketuk pintu kamar Si Kakek, tak ada jawaban, ia buka pintu itu, hanya ada Si Kakek yang berbaring, sepertinya keluarganya sedang keluar. Sosok kakek itu tampak tak asing bagi dokter perempuan tersebut. Ia merasa seperti sosok itu berasal dari masa lalu, sosok yang tak asing dan berpengaruh pada masa kecilnya.

“Selamat Pagi Pak Sujono” ucap dokter perempuan itu.

Mendengar ada orang lain yang memanggilnya Si Kakek tersebut perlahan membuka mata, awalnya ia tak mengenali dokter perempuan itu, baru ketika si dokter perempuan menyebukan namanya Kartini dan dulu pernah tinggal di Godong Arum bersama Si Mboknya, kakek tersebut baru teringat akan sesuatu.

Tiba-tiba kedua mata Si Kakek itu mulai basah dengan air mata, ia teringat bahwa dokter perempuan di depannya adalah Kartini, anak kecil perempuan yang sering ia antar naik sepeda ke sekolah. Si Kakek mencoba bangun dari tempat tidur dan ingin memeluk sosok dokter perempuan di depannya itu. Melihat reaksi Si Kakek, dokter perempuan yang bernama Kartini itu memintanya tetap berbaring. Antara kaget, terharu dan tidak percaya melihat  dan bertemu kembali dengan Pak Sujono. Pria yang setiap Jumat mengantarkannya sekolah dimasa SD nya.

Dengan haru, Kartini mencium punggung tangan Pak Sujono sambil berkata. “Iya pak, ini Kartini, Kartini sekarang berhasil meraih mimpi Kartini, Kartini kembali ke sini buat mengabdikan diri jadi dokter beberapa bulan yang lalu. Kartini juga sempat mengunjungi Godong Arum, mencari bapak, tapi Kartini malah ketemu bapak di sini” ucap Kartini sambil terharu. Kepingan-kepingan peristiwa kembali tersusun dalam memori Kartini.  Kini Kartini berhasil mewujudkan mimpinya, seorang perempuan yang berhasil menjadi dokter, menjadi pahlawan bagi orang lain. Kartini serasa merasakan kembali ketika ia dibonceng Pak Sujono, ketika ia melewati area hutan jati, ladang tembakau, dan ketika angin berhembus menerpa.

TAMAT.

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#dokter #21 April #cerpen #kartini #hari kartini #godong #Cerita #Mimpi #Bedah