Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Lembar Budaya: Rekonsiliasi Kaum Semut

Hakam Alghivari • Minggu, 3 Maret 2024 | 19:15 WIB
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RDR.BJN)
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RDR.BJN)

Oleh: Ahmad Zaini

Di sebuah tanah lapang kaum semut berkumpul. Mereka mengadakan pertemuan akbar untuk mengangkat pemimpin. Berbagai golongan semut menyodorkan kriteria pemimpin masa depan. Golongan semut merah mengajukan rangrang merah. Golongan semut hitam mengajukan rangrang hitam. Ada pula sekelompok semut merah yang menyodorkan nama dari golongan sendiri. Demikian juga semut hitam.

Kriteria umum pemimpin yang sudah mereka sepakati  adalah kuat, jujur, adil, bijaksana, dan prorakyat. Kriteria tersebut sudah menjadi keharusan apabila kaum semut ingin hidup merdeka dan sejahtera. Kaum semut menyadari bahwa mereka ini lemah dari segala aspek. Kehidupannya sering terusik makhluk lain. Ekonominya juga tidak menentu. Terkadang tergantung dari pemberian pihak lain. Namun, mereka hanya mempunyai keunggulan dalam kesatuan dan kebersamaan. Mereka akan menggunakan keunggulan ini untuk mengangkat derajat dan martabat hidup kaumnya.

Perwakilan golongan semut hitam berdiri di podium. Mereka berceramah untuk memperkenalkan calon yang diusung dari golongan semut hitam.

”Ini calon pemimpin kami. Sosok kuat, adil, jujur, sosial tinggi, dan tanggung jawab,” tuturnya.

Kaum semut di tanah lapang itu saling pandang. Lebih-lebih golongan semut merah. mereka kurang setuju apabila kaumnya dipimpin semut hitam.

”Kami kurang setuju. Semut hitam kurang tegas dan kurang berani dalam melindungi rakyat. Kami khawatir apabila kaum kita dipimpin semut hitam, kaum kita dalam bahaya. Semua bangsa semut akan menjadi bulan-bulanan bangsa lain. Harga diri kita akan diinjak-injak,” sanggah perwakilan golongan semut merah.

”Kita ini makhluk lemah. Kita tidak mungkin berkacak pinggang terhadap bangsa lain. Kita harus pasrah terhadap keadaan. Tubuh kita kecil. Kaki dan tangan kita tidak berotot. Gerak kita juga kurang lincah karena terbebani perut buncit. Kita tidak butuh calon pemimpin pemberani karena kita akan dikucilkan bahkan ditindas bangsa lain. Kita butuh calon pemipin yang pandai berdiplomasi. Pemimpin yang kalem dan menyejukkan,” kata perwakilan semut hitam.

Perdebatan dua golongan semut ini semakin memanas. Mereka menyodorkan calon masing-masing sebagai pemimpin kaumnya. Dua kubu semut ini hampir saja bertikai. Untung saja rangrang hitam dan rangrang merah datang meredakan emosi mereka.

Kaum semut tidak perlu berangan-angan yang muluk-muluk. Cukup dengan hal  sederhana kehidupannya sudah bahagia dan sejahtera. Maka dari itu, tak perlu mengangkat calon pemipin yang kuat dan pemberani. Mereka menyadari bahwa sekuat-kuatnya pemimpin mereka, tak akan berdaya jika berhadapan dengan kaum burung dan unggas. Mereka tetap akan menjadi santapan empuk bagi golongan yang haus kekuasaan dan kemenangan itu.

”Maki dari itu kawan, kita mengangkat golonga kami saja, semut merah,” tegas semut merah.

Rangrang hitam dan rangrang merah tertawa terbahak-bahak. Mereka geli mendengar usulan semut merah yang mengajukan wakil dari golongannnya yang menjadi pemimpin.

”Jangan tertawa dulu rangrang. Meskipun kami bertubuh kecil dan berperut buncit, kami punya keberanian. Kami berani menyerang siapa pun termasuk dari bangsa lain yang menginjak-injak martabat kaum semut,” ucapnya bernada tinggi.

”Kalau begitu kami juga punya wakil. Kami yakin bisa memimpin negeri ini dengan baik. Penduduk pasti aman dan sejahtera. Perekonomian akan meningkat,” sanggupnya.

Semua semut dan rangrang tertawa terpingkal-pingkal. Mereka tidak habis pikir pada semut hitam. Semut Hitam itu penjilat. Mereka tidak punya pendirian. Semut hitam juga tidak punya keberanian. Semut hitam itu selalu pasrah dengan keadaan. Yang terpenting bagi mereka itu adalah makanan dan minuman manis.

”Hahahaha. Kami sangat tidak setuju. Semut hitam dan semut merah tidak boleh menjadi pemimpin kaum semut. Kalau diperbolehkan, kami khawatir semut pudak yang lembut itu juga akan mencalonkan diri,” kata rangrang merah sambil melirik ke sekumpulan semut pudak yang mengintip dari balik daun rerumputan.

Semua kaum semut mengajukan calon pemimpin. Mereka menghendaki pemimpin kaum semut dari golongannya. Semut merah, semut hitam, sampai semut pudak pun ingin menjadi pemimpin. Semua golongan semut tergila-gila menjabat sebagai sosok nomor satu tanpa melihat kemampuannya. Sampai-sampai semut pudak yang lembut dan malas itu ingin menjadi pemimpin meskipun malu-malu.

”Kalau begitu, semua golongan semut berhak menjadi pemimpin. Silakan masing-masing golongan semut menunjuk salah satu perwakilan untuk ikut bersaing dalam pemilihan pemimpin semut. Kita seleksi untuk menentukan yang terbaik,” pungkas pemimpin sidang demi menampung aspirasi kaum semut.

Keputusan pemimpin sidang bijaksana. Semua aspirasi golongan semut terwadahi. Kaum semut berunding untuk menyusun agenda. Mereka ingin mendapatkan pemimpin yang sesuai dengan kriteria.

Masing-masing golongan menyusun stretegi pemenangan calon pemimpin. Mereka membuat trik jitu untuk meraup suara terbanyak. Rata-rata dari golongan itu menawarkan kesejahteraan hidup kaumnya. Ada pula yang memberi iming-iming roti, gula, nasi, madu. Semua serba gratis.

Adu pengaruh tak terelakkan. Visi-misi masa depan kaum semut dikemukakan oleh para kontestan. Mereka beradu pendapat untuk saling mengalahkan. Sorak-sorai para partisan bergemuruh saat jagoannya lantang menyuarakan janjinya kepada semua semut yang hadir di tanah lapang.

Persaingan berebut pengaruh dan dukungan memercikkan api kecemburuan. Kata-kata yang terlontar saat adu gagasan sering menyinggung perasaan calon lain. Para pendukung masing-masing kandidat tidak terima kubunya dijatuhkan oleh kubu lawan. Bahkan banyak beredar kabar yang tidak benar sampai di telinga mereka tentang kejelekan jagoannya.

”Itu fitnah. Calon pemimpin dari kubu kami tidak pernah melakukan itu,” ucap ketua timses semut merah.

”Sabar. Jangan marah dulu kawan. Kita dengarkan dulu berita tidak benar dari kubu sebelah sambil mengumpulkan data untuk menjawab semua berita yang bernada menuduh tersebut,” kata tim penasihat meredakan amarah ketua tim sukses.

Suasana semakin meruncing ketika beberapa kelompok dari kaum semut mengadakan kampanye terakhir. Mereka saling mengkalim bahwa jagoannya paling baik di antara para calon yang ada. Mereka saling sindir satu sama lain sehingga hampir saja terjadi bentrok fisik. Untung saja rangrang merah dan rangrang hitam mampu meredakan ketegangan di antara mereka.

Kaum semut berdiam diri. Mereka mendengarkan pidato rangrang merah dan rangrang hitam. Rangrang merah yang mendapat kesempatan pertama menyampaikan pentingnya persatuan dan kesatuan sesama kaum semut. Rangrang hitam yang medapatkan kesempatan berikutnya juga menyampaikan hal sama. Namun, dia lebih menekankan pada nilai-nilai kebersamaan kaum semut dalam meningkatkan kesejahteraan hidup kaumnya.

Setelah mendengar isi pidato rangrang merah dan rangrang hitam, para calon dari semut merah dan semut hitam tahu diri. Mereka  menyadari kekurangan dan kelemahan masing-masing. Dua kandidat dari semut merah dan semut hitam mundur dari kontestasi pilihan ini. Tinggal dua kekuatan besar rangrang merah dan rangram hitam yang melaju dalam pemilihan calon pemimpin kaum semut.

Dua calon yang cukup berpengalaman ini tidak perlu adu argumen tentang visi-misinya. Mereka saling memahami kekuatan dan kelemahan masing-masing. Mereka paham bahwa adu argumen di depan umum dapat memercikkan api perseteruan sebagaimana golongan semut merah dan hitam yang hampir saja bertikai. Bila hal ini dilakukan, maka perang besar akan melanda kaum semut. Rangrang merah dan rangrang hitam memiliki bala tentara sama-sama banyaknya. Mereka kuat-kuat dan pemberani.

Semua golongan dari kaum semut berkumpul di lapangan. Tanpa ba-bi-bu mereka bersepakat memilih rangrang hitam sebagai pemimpin kaum semut. Rangrang hitam di samping kuat, berani, juga terkenal bijaksana. Tidak pernah semena-mena terhadap kaum lain.

Rangrang hitam resmi sebagai pemimpin kaum semut. Rangrang Merah ikhlas menerima pesaingnya sebagai pemimpin. Semua golongan kaum semut memberi ucapan selamat kepadanya. Mereka bersorak gembira atas penobatan rangrang hitam sebagai sosok nomor satu dalam kaumnya. Tidak ada golongan semut yang sakit hati karena merasa dicurangi. Mereka ikhlas dan siap membantu sang pemimpin baru untuk menyejahterakan kaum semut.

Dalam pidatonya, Rangrang Hitam paham bahwa dirinya saat bukan hanya pemimpin golongan rangrang hitam, melainkan pemimpin seluruh kaum semut. Rangrang Hitam bertekad akan mengayomi dan menyejahterakan semua kaum semut. Tidak membeda-bedakan ukuran fisik dan warna kulit.

Setelah mendengar sambutan kemenangan Rangrang Hitam, kaum semut larut dalam rasa haru. Mereka saling berjabat tangan dan berangkulan sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan. Mereka melupakan persaingan saat pencalonan dari masing-masing golongan. Kaum semut bersepakat menanggalkan identitas dan nama golongan demi merajut kebersamaan dalam mewujudkan cita-cita luhur pendahulunya. Yakni, kesejahteraan kaum semut. (*) 

 

Wanar, 24 Februari 2024

 

Ahmad Zaini merupakan guru di SMKN 1 Lamongan. Dia juga sebagai ketua Lesbumi PCNU Babat serta sebagai anggota Kostela dan FP2L Lamongan. Peraih penghargaan gubernur Jawa Timur sebagai pemenang GCC tahun 2021 dan 2022 ini tinggal di Wanar, Pucuk, Lamongan.

Editor : Hakam Alghivari
#cerpen #kisah #radar bojonegoro #kumpulan cerpen #semut