Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Membungkam Kesombongan

Hakam Alghivari • Minggu, 24 Desember 2023 | 20:27 WIB
Iilustrasi (AINUR OCHIEM/RDR.BJN)
Iilustrasi (AINUR OCHIEM/RDR.BJN)

Jam pulang sekolah pun tiba, terlihat dua bocah sedang ada janji saling bertemu di lapangan basket yang berada di belakang sekolah. Dua bocah itu mencoba beradu seni bela diri taekwondo.

Dan pertarungan mereka pun dimulai.

Bak! buak! dak! buk!

“Ukh, aakh. Sial, aku kalah lagi.” teriaknya sambil merengek kesakitan di bagian punggung dan kakinya.

“Seperti biasa kau masih lemah, perbanyak latihan sana.” ucap Azam, lalu menarik rambut Julian. “Hei, Julian. Latihanmu masih setengah-setengah gitu ingin mengalahkanku? Konyol sekali, jangan mimpi deh.”

“Jangan sombong kau, Zam. Mungkin saat ini aku tidak bisa menang darimu, tapi suatu saat kau akan kalah olehku.”

Julian memegang tangan Azam yang sedang menarik rambutnya, lalu ia menendang di bagian dada Azam.

Buk!

Azam yang tidak kuat menahan rasa sakit karena tendangan Julian yang begitu keras, seketika langsung melepas genggaman tangannya. “Kita akan bertemu di tournament taekwondo dua bulan lagi, disitulah aku akan mengalahkanmu dan akan menjadi juara sekaligus mematahkan kemenangan beruntunmu. Kau tidak pernah kalah sama sekali kan? Biar aku, orang yang pertama kali mengalahkanmu.”

Julian langsung pergi meninggalkan Azam yang sedang memegangi dadanya. Sepertinya ia merasa kesakitan, karena tendangan Julian yang sangat keras sekali.

Azam yang mendengar ucapan Julian pun merasa geram dan ingin membalasnya suatu hari nanti, tapi di sisi lain ia merasakan kekalahannya di masa yang akan datang. Mungkin karena tendangan Julian memberi  damage yang tidak seperti orang biasanya, melainkan seperti atlet professional.

Sesampainya di rumah, Julian langsung berganti pakaian dan lalu tidur. Saat ia berbaring di kasurnya, sakit bekas tendangan Azam di bagian punggungnya sangat amat terasa.

“Ukh, sialan. Ini sangat sakit sekali. Azam brengsek, suatu saat nanti akan kukalahkan dia.” gumamnya sambil memijat punggungnya yang sakit.

Julian akhirnya terpaksa tidur dengan posisi badan tengkurap. Saat tidur, ia bermimpi bertarung dengan Azam di ajang tournament taekwondo. Di mimpi itu dia menang melawan Azam, dengan serangan tanpa balas.

Tiba-tiba ia terbangun dari tidurnya dengan nafas terengah-engah dan badan yang dipenuhi keringat.

“Hah…kira-kira aku berlatih taekwondo yang paling efektif dimana ya? Hmm…mungkin lihat latihan lewat youtube aja deh. Barangkali tekniknya ampuh untuk melawan Azam.” ucapnya, lalu ia memandangi jam dindingnya yang menunjukkan pukul empat sore.

Julian membuka  youtube di handphonenya dan lalu mencari video tentang teknik bertarung taekwondo. Setelah beberapa menit mencari, akhirnya ia menemukan video yang mengajarkan teknik, mulai dari pemula hingga professional.

“Nah, akhirnya ketemu juga. Dengan belajar dari video ini, aku pasti bisa mengalahkan Azam yang sombong itu.”

Julian berlatih keras sampai larut malam. Ia sudah mempelajari beberapa teknik dasar taekwondo, yaitu seugi, jireugi, chagi, makki dan chigi.

“Huft…cukup segini saja untuk latihan hari ini, lumayan sih, yang terpenting udah ada perkembangan walaupun sedikit. Besok akan kulanjutkan lagi setelah pulang sekolah.”

Julian melepas pakaiannya yang basah sekali seperti terkena guyuran air karena keringatnya setelah latihan barusan, lalu ia bergegas untuk mandi dan mengompres memar lukanya yang tadi saat bertarung dengan Azam. Setelah selesai mengompres, Julian langsung makan dan lanjut tidur lagi. Karena merasa tidak ada tugas sekolah, ia memutuskan untuk istirahat agar lukanya perlahan membaik.

Keesokan harinya, sebelum berangkat ke sekolah, ia menelepon Ibunya yang sedang bekerja di luar kota. “Halo, Bu. Aku mau bertanya, kira-kira Ibu kapan pulang.”

“Wah, Anak kesayangan Ibu kangen ya? Mungkin tiga bulan lagi, Nak. Sabar ya sayang, kalau Ibu pulang, pasti kabari kamu kok. Semangat ya sekolahnya, jangan sampai bolos sekolah loh.” ujar ibunya dengan suara yang lembut.

“Iya Bu, lama sekali. Padahal baru seminggu ditinggal Ibu bekerja, aku sudah rindu sekali. Rindu masakan, suara lembut dan selalu tidur di pangkuan nyaman Ibu. Jaga diri baik-baik disana ya, Bu.”

“Terima kasih perhatiannya, Nak. Kamu juga jaga diri baik-baik.”

Julian menutup teleponnya, lalu mengusap air matanya dan berangkat ke sekolah. Saat di tengah perjalanan, ia dicegat Azam.

“Hei Azam, mau apa kau?” tanya Julian dengan suara lantang.

“Aku hanya ingin menawarkanmu. Minggu depan, ayo kita bertarung. Kau mau mengalahkanku dan mematahkan kemenangan beruntunku kan? Apa kau siap, Julian? Aku harap itu bukan omong kosong belaka, hahahaha.”

Julian terdiam beberapa detik, memikirkan penawaran Azam secara matang-matang.

Lalu ia menjawab. “Baiklah, aku siap. Minggu depan, ayo kita bertarung. Akan kubuktikan, bahwa orang yang kau pandang lemah ini suatu saat akan menjadi awal kekalahanmu.”

Julian pun pergi meninggalkan Azam, karena dia tidak ingin terlambat datang ke sekolah, gegara meladeni si sombong itu.

Julian terus berlatih teknik bertarung  taekwondo saat pulang sekolah, berlatih hingga larut malam. Ia lakukan terus setiap hari, karena berambisi ingin mengalahkan Azam di pertarungan minggu depan.

Hingga akhirnya hari itu tiba, mereka berdua bertarung saat pulang sekolah di lapangan sepak bola. Julian dengan ambisi menghancurkan kesombongan Azam yang tidak pernah kalah sama sekali dan Azam ingin membuktikan bahwa tidak ada satu pun orang yang dapat mengalahkannya, dan menganggap dirinya adalah yang terhebat dan selalu menang.

“Kalau diantara kita ada yang jatuh di tanah, ia dinyatakan kalah. Apakah kau bisa menyanggupinya, Julian?” ucap Azam dengan nada yang sombong.

“Baiklah Azam, aku menyanggupinya.”

Julian dengan persiapan yang matang langsung menyerang kaki Azam, agar ia terjatuh, tapi ternyata tidak semudah itu. Azam yang sadar kalau Julian pasti melakukan itu, ia menghindarinya dengan cara melompat dan dengan kondisi seperti itu, Azam langsung melakukan tendangan  ke arah muka. Dengan reflek cepat Julian menahan tendangan kaki kiri Azam dengan kedua tangannya.

“Lumayan juga kau sekarang, tapi dengan teknik bodoh dan biasa saja seperti itu, apa kau bisa menjatuhkanku?” Azam yang semakin sombong dan ingin mengintimidasi Julian.

Julian langsung memegang erat kaki kiri Azam, lalu menekel kaki kanannya.

Bak!

Azam yang tidak menyadari itu hanya pasrah menerima tekelan Julian.

Bruk!

“Ukh, sialan. Kau curang Julian.” bentak Azam.

“Hah? Aku curang? Aku ini jenius loh, namun sebaliknya, kau yang bodoh tidak menyadari itu. Kau tidak bisa mengantisipasi seranganku, katanya tidak pernah kalah sama sekali? Toh sekarang akhirnya kalah. Hahahaha.”  ucap Julian yang membuat Azam semakin emosi sekaligus malu.

Dua bulan kemudian, tournament taekwondo pun tiba. Mereka berdua mengikuti tournament itu. Dengan penuh ambisi, mereka sama-sama menembus ke final. Dengan kerja keras Julian selama ini, ia akhirnya bisa merasakan menjadi juara untuk pertama kalinya dan sekaligus mematahkan kemenangan beruntun Azam. Ia pun akhirnya mengakui kekalahannya dan tidak menganggap remeh lagi Julian.

Di tournament selanjutnya, Julian merebut kembali gelar juara itu, selalu konsisten tiap musim. Dan membuat nama Azam dengan julukan tidak pernah terkalahkan, kini sudah tidak terdengar lagi.(*)

Penulis: Kevin Dias Syahputra

 

Editor : Hakam Alghivari
#pertarungan #taekwondo #bojonegoro #kesombongan #Sekolah