SOFIA baru saja melihat unggahan sosmed Indi, teman sekolahnya. Indi mengunggah foto dirinya sedang menerima penghargaan dalam lomba menulis esai tentang lingkungan.
"Kamu mau langsung pulang atau ikut kami?" Seorang siswa mencolek pundaknya. Sofia menoleh dan melihat Citra di sebelahnya.
"Mau ke mana?"
"Diajak Naira syuting untuk produk yang endorse dia. Nanti kita ditraktir kalau feenya udah cair."
Naira adalah vlogger yang cukup terkenal di kotanya. Dia sering mendapatkan pesanan untuk mengulas produk khusus remaja. Kadang dia mengajak teman-temannya untuk membantu proses syuting.
"Ikut atau tidak?" Citra bertanya lagi. Sofia menggeleng cepat. Dia bergegas meninggalkan Citra dengan alasan ada acara keluarga sebentar lagi.
Padahal... tidak ada kegiatan atau siapapun yang sedang menunggunya.
Di rumah, Rayyan adiknya mengeluh lapar dan tidak ada makanan. Setelah berganti pakaian dia langsung ke dapur, mengecek bahan apa saja yang bisa dimasak. Dia menemukan ayam potong beku dan sayuran. Tanpa pikir panjang dia mengeluarkan semua bahan dan bumbu yang dia butuhkan, lalu mulai menyibukkan dirinya di depan kompor.
Hampir sejam kemudian, aroma ayam goreng mentega dan sup ayam yang hangat tercium jelas. Rayyan segera menata piring dan gelas di meja makan untuk mereka berdua.
Bel pintu berbunyi. Sofia mendengar suara yang familiar di telinganya. Itu suara Tiara, sepupunya. Dia membawa cokelat oleh-oleh abangnya yang baru pulang dari luar negeri. Rayyan menambahkan piring dan gelas untuk satu orang lagi. Sofia meletakkan panci di atas meja dengan alas rajut. Rambutnya yang acak-acakan diikat begitu saja agar tidak jatuh ke makanan.
"Hm... ini wangi banget." Tiara menghirup aroma merica tajam yang membuat hidungnya lega. Lalu matanya tertuju pada sepiring ayam goreng mentega yang sausnya mengilat. Dia mengeluarkan ponsel dari tasnya lalu mengambil beberapa foto dan video singkat.
Mereka bertiga makan sambil mendengarkan Rayyan menceritakan hal-hal lucu. Sofia tersenyum tapi seperti dipaksakan. Beberapa kali dia mengembuskan napas berat.
"Kamu ada masalah?" Tiara bertanya lagi setelah Rayyan selesai makan dan minta izin bermain di luar. Mereka melanjutkan obrolan sambil menikmati mochi buatan Sofia yang masih tersisa sebagian di kulkas.
"Kok orang-orang hidupnya enak banget, ya, Kak." Kata Sofia tanpa semangat. "Mereka bahagia, cantik, pintar, kaya, terkenal."
Tiara mendengarkan dengan saksama hingga selesai.
"Kenapa aku begini-begini saja? Nggak punya bakat, nggak cantik, orangtuaku nggak kaya."
"Tapi masakan kamu enak." Kata Tiara.
Memang benar masakan sepupunya itu enak. Dia sering mencicipinya setiap kali main ke rumah ini.
"Apa hubungannya?"
"Maksudku, tidak semua orang bisa memasak seenak masakan kamu. Itu juga bakat." Tiara menjelaskan sambil membantu membereskan peralatan makan yang selesai mereka gunakan.
"Fokus pada kelebihan diri sendiri saja." Kata Tiara lagi. "Orang lain bisa hebat karena mereka bekerja keras memperjuangkan cita-cita mereka, bukan hanya sibuk mengasihani diri."
"Apakah aku bisa hebat seperti mereka? Aku bahkan belum memulai, sedangkan mereka sepertinya sudah di puncak."
"Kenapa tidak? Tidak ada kata terlambat untuk memulai."
***
Sekolah akan mengadakan bazaar untuk memeriahkan acara pelulusan siswa kelas XII. Setiap kelas boleh ikut berpartisipasi menjual hasil karya mereka.
Naira akan membuat podcast, beberapa siswa mengajukan diri untuk menyumbang barang-barang milik mereka yang bisa dijual.
"Masakan kamu enak. Itu juga bakat." Sofia kembali teringat pada ucapan Tiara. Dia merenung sejenak di antara riuh suasana kelasnya. Setelah mengambil napas panjang dan mengembuskannya, dia mengangkat tangan.
"Saya mau berpartisipasi, Bu!" Katanya.
Semua pandangan kini tertuju padanya. Wajahnya memerah tapi dia tidak akan mundur. Sama seperti teman-temannya, dia juga memiliki bakat.
"Tentu saja. Nanti kita akan bahas lagi di grup, ya." Ucapan wali kelasnya sebelum mengakhiri pertemuan hari itu.
Diskusi pun dilanjutkan di grup obrolan WhatsApp. Ketua kelas sekaligus bertugas sebagai koordinator memberikan brainstorming. Konsep dikerjakan bersama yang filenya bisa diakses serta diedit secara online.
Indi membuat konsep stan ramah lingkungan dengan menggunakan bahan-bahan yang bisa didaur ulang dan bahan yang bisa terurai untuk dekorasi.
Sofia nanti akan membuat mochi bersama Chia. Mereka berdua ternyata memiliki hobi sama yaitu memasak dan membuat kue. Alih-alih menggunakan kemasan mika mereka harus menggunakan besek bambu.
"Kalau di besek, nanti mochinya nggak kelihatan dari luar. Bagaimana kita bisa menarik perhatian?" Keluh Sofia. Chia juga mengangkat bahu hampir menyerah.
"Kita bisa memikirkan cara lain yang menarik sekaligus ramah lingkungan." Yang lain menimpali.
"Bagaimana?"
Mereka saling pandang.
"Aku akan membuatkan materi promosi lalu Citra membuat video yang menarik bersama Naira. Kita lakukan promosi di media sosial sebelum Hari H. Bagaimana?"
Naira menambahkan dia akan melakukan live IG pada Hari H sebagai lanjutan promosinya.
Semua orang bertepuk tangan menyambut ide bagus itu.
***
Suara musik terdengar dari kejauhan. Stan bazaar berderet rapi di ujung lapangan yang berseberangan dengan panggung. Setiap stan ditunggu oleh 3-5 siswa dan wali kelas, memamerkan produk unggulan kelas masing-masing. Ada yang menawarkan jasa membuat sketsa di depan stan, juga jasa melukis jari dengan hena.
Di salah satu stan, Naira menyiapkan kamera dibantu oleh Citra. Dia mengeluarkan ponsel untuk mengecek apa saja yang harus dia sampaikan. Dia akan melakukan live IG menggunakan ponselnya, sementara Citra mengambil video menggunakan kamera untuk podcast.
"Wajahku udah kelihatan oke?"
Citra mengangguk dan memberikan kode kalau dia bisa memulai vlognya. Naira pun beraksi meliput bazaar milik kelasnya. Dia menyapa satu per satu siswa yang bertugas dan juga pengunjung. Hingga kamera ponselnya menyorot ke arah deretan mochi imut yang dikemas dalam besek bambu. Di bagian luarnya ditempeli kertas daur ulang bertulisan kutipan motivasi yang berbeda-beda.
"Hai, apakah kamu yang membuat ini?"
Sofia menatap ke arah kamera sambil melambaikan tangan. Dia mengambil satu kotak yang terbuka lalu menyodorkan ke arah kamera.
"Benar sekali. Ini adalah mochi buatan aku." Katanya sebelum mereka mulai tanya jawab lebih lanjut. Di tengah percakapan Sofia mengambil satu mochi menggunakan tusuk gigi dan menyuapkan pada Naira yang tampak terpana dengan rasanya.
Pupil matanya membesar, "Waaah... ini enak banget, teman-teman. Sumpah, kalian harus merasakannya sendiri. Ayo buruan ke stan bazaar kami!"
Acara bazaar berlangsung lancar. Wali kelas memberikan apresiasi atas kerja keras para siswa. Mulai dari yang membuat konsep, menyiapkan dekorasi, menyusun rencana anggaran, penyedia sarpras, bagian promosi, pengisi stan hingga vloggernya.
"Kalian hebat. Masing-masing memiliki keahlian berbeda namun saling mendukung dan melengkapi. Keberhasilan ini adalah milik kalian." Kata wali kelas yang disambut oleh tepuk tangan seisi kelas. Semua siswa bahagia. Kerja tim mereka membuahkan hasil yang sepadan dengan usaha yang mereka keluarkan.
Dengan langkah yang ringan Sofia meninggalkan tempat itu untuk pulang. Dia merasa lega. Rasa lelah dan stress mempersiapkan belasan kotak mochi sudah terbayar. Dia belajar menghargai bakat yang diberi Tuhan. Dia juga ikut bahagia untuk semua orang, tak ada lagi rasa iri maupun insekyur. Dia sadar bahwa setiap orang diciptakan berbeda untuk saling melengkapi. Seperti aneka bunga yang mekar bersama dengan warna berbeda, menjadikan taman indah.(*)
*JAMAATUN ROHMAH
Guru MTs Muhammadiyah 15 Lamongan