Suara azan Subuh bergelayut. Salim muazin masjid melantunkan suara azan dengan tenang. Azannya tidak lama dan tidak panjang. Suaranya khas, melengking ada trebelnya. Terdengar melalui toa masjid hingga di permukiman Kampung Mlayu. Kampung yang tenteram di tepi Sungai Bengawan Solo.
Supinah membuka pintu rumah. “Kriek” suara pintunya khas menandakan hari sudah pagi. Supinah membuka pintu dalam sehari satu kali, yakni kala pagi tiba. Dan ditutup sekali dalam sehari, yakni kala pukul 21.00 menandakan hari sudah malam.
Memakai kebaya dan jarik, Supinah bergegas menuju warung Suginah, yang menjual beragam sayur. Tak memakai sandal, berjalan belepotan, khas warga bantaran Bengawan Solo. Saat berbelanja, Suginah bertemu Suprapti, kakak iparnya.
Selang 10 menit, Supinah bertemu Sucini, adik iparnya yang kebetulan juga mencari sayur-sayuran untuk memasak sayur lodeh terong. Datang juga Surini, memakai daster dengan dompet kecil diselipkan di ketiak. Surini masih ada hubungan besan dengan Suprapti. Ada juga, Sulastri, sepupunya juga mencari sayur-sayuran hendak memasak menir.
Ramailah pagi itu di warung Suginah, seperti pasar. Ada Supinah dengan suara ceplas-ceplos. Ada Suprapti kalau tertawa bikin kuping mendenging. Surini dengan suara keras. Juga Sulastri yang cerewet, ngomongnya tiada habis. Berhenti kalau sudah tertawa bareng.
Satu per satu, tetangga berdatangan juga membeli sayur-mayur. Ikan pindang, ikan pe, dan sayap ayam, tahu dan tempe, menjadi lauk yang jadi rebutan kala pagi.
Terong, jagung, kangkung, dan daun bayam, menjadi pilihan khas ibu-ibu Kampung Mlayu. Sengaja Suginah jarang sekali kulakan ikan-ikan Bengawan.
Maklum, Kampung Mlayu merupakan orang-orang Bengawan. Mereka rerata pencari ragam ikan bengawan. Jadi sudah bosan makan ikan-ikan Bengawan.
Potret ibu-ibu Kampung Mlayu ini terjadi saban hari. Saban pagi. Berbelanja seperti tempat cangkrukan. Ada guyonan, canda tawa, ludrukan, hingga rasan-rasan alias gosip. Maklum, emak-emak identik dengan gosip. Saking rasan-rasan tiada berkesudahan, bahkan berujung gegeran.
Bukan gegeran fisik. Tapi, padu guneman atau bertengkar saling bersuara lantang. Sampai suara gegeran mengalahi suara ledakan petasan. Ceplas-ceplos tiada batas. Tapi, dalam itungan hari, mereka sudah biasa lagi. Ketemu lagi di warung Suginah untuk berbelanja. Tiada dendam, tiada dengki bertubi-tubi. Tiada gegeran bersambung seperti sinetron. Seperti bermain sepak bola, adu gengsi hanya 2x45 menit. Selebihnya saudara.
Itulah keunikan emak-emak Kampung Mlayu. Apalagi, Supinah, Suprapti, Sucini, hingga Sulastri, masih bateh atau kerabat. Masih ada ada hubungan tali keluarga erat. Gegeran padu hanya 1x20 menit saat belanja. Namun, gegeran padu ini bukan saban hari. Jarang sekali.
Yang sering mereka justru saling guyonan. Ludrukan sampai Suprapti terpingkal-pingkal. Sucini sampai terbahak-bahak sampai lupa kalau ia belum sikat gigi pagi itu. Guyonan saat belanja seakan menjadi yang utama, menjadi pelepas suntuk kala di rumah kerap kali disuguhi suami masih mendengkur. Suami yang bangunnya kesiangan setelah semalam begadang dan mencari ikan di bengawan.
Tak heran asupan protein emak-emak Kampung Mlayu ini cukup tinggi. Hampir saban hari sarapan lauknya ikan dan udang bengawan. "Sampai kapanpun ikan wader, jambal, nila, dan udang, adalah lauk abadi," ujar Suprapti dengan senyum.
Seakan kelebihan protein itulah, tidak heran emak-emak Kampung Mlayu ini sering salah tingkah. Over acting sampai over ngomel-ngomel. Tapi, protein inilah yang membuat orang-orang Bengawan menjadi kuat. Menjadi semangat dan tidak penakut menghadang arus air bengawan.
Kuat menghadapi badai hidup. "Prap pinjam uang, Rp 250 ribu aja. Kas uang makan lagi habis. Si Tofa (suaminya) belum mendapat uang. Si Tofa akhir-ahir ini banyak main nomor togel. Berharap untung, tambah buntung," ujar Supinah tanpa malu-malu kepada kakak iparnya itu.
Kebetulan Suprapti baru dapat arisan RT. Suprapti pun memberi utang Rp 200 ribu. Itulah kehidupan warga Kampung Mlayu yang apa adanya. Kampung Mlayu terdapat 50 kepala keluarga (KK). Rumah-rumah warga berada di tepi Bengawan Solo. Banjir dari luapan Bengawan Solo sudah biasa, karena terjadi dalam setahun sekali.
Uniknya dari 50 KK itu rerata masih ada hubungan keluarga mulai besan, sepupu, atau kerabat. Maklum suami istri dari warga setempat ini rerata teman sekolah waktu kecil. Jadi jodohnya karena dulu teman sewaktu kecil. Istilah sekarang cinlok: cinta lokasi. Atau cinta monyet, karena sesama teman bermain.
Tidak ada yang berani mengusik atau menggoda para dara di Kampung Mlayu. Pemuda luar desa tidak ada yang berani pacaran dengan perempuan Kampung Mlayu. Karena, kalau ada pemuda luar desa naksir, tentu pemuda-pemuda Kampung Mlayu yang menghadang. Pasti diganggu ketika mencoba mendekati gadis-gadis Kampung Mlayu. Entah motornya dirusak, dipalak, atau dihadang agar tidak berani datang lagi.
"Pernah ada seorang anggota polisi naksir perempuan di kampung sini, tetap saja waktu hendak pulang, dihadang oleh lelaki bertopeng. Mereka mengatakan jangan dekati si Sulis anak Suprapti," ujar Sukijan, pemuda Kampung Mlayu.
Keunikan lain, Kampung Mlayu ini namanya selalu diawali huruf “Su”. Misalnya, Supinah, Suprapti, Surimi, Sulis, Suginah. Begitu yang lelaki, misalnya Sukijan, Sumarjan, Sujoko, Sulistyo, Suparman, dan Sutopo.
Musim hujan tiba. Sejak November saban hari kerap kali hujan. Desember pun diakronimkan (gede-gedene sumber), dan air Bengawan pun tumpah dan meluap. Banjir terjadi di Kampung Mlayu. Rumah-rumah warga terendam. Mereka mengungsi di tenda-tenda sederhana.
Warga Kampung Mlayu tidak bisa mencari ikan. Banjir memicu air Bengawan pasang, tentu sulit mencari ikan. Arusnya deras, ikan pun sulit memakan umpan. Pendapatan warga pun seret. Emak-emak pun utang sana-sini demi bisa membeli belanja sayuran.
Hingga utang ke bank titil. Atau utang koperasi jalan yang mondar-mandir di Kampung Mlayu. Emak-emak berani utang mingguan itu karena mereka yakin Maret-April sudah tidak lagi banjir. "Suami pasti mulai mencari ikan lagi dan dapat penghasilan. Jadinya kami berani pinjaman ke bank titil," ujar Sucini dengan wajah ceria usai menerima pinjaman Rp 1,5 juta.
Januari pun diakronimkan: hujan setiap hari. Saban Januari ketika sore hingga malam kerap kali hujan. Debit air Bengawan pun pasang. Lagi-lagi mereka sulit mendapatkan ikan sebagai mata pencaharian. Padahal, stok ikan bengawan yang dijual di pasar-pasar ini dari warga Kampung Mlayu.
Februari tiba, hujan pun masih menyapa. Warga Kampung Mlayu pun memprediksi April biasanya sudah kemarau. Tapi, fenomena La Nina terjadi tahun ini. Imbasnya hujan pun terjadi sampai Juni, hingga pertengahan tahun.
"Ndak tahu kenapa sampai Juni ini masih hujan, tentu sulit untuk kami mencari ikan," ujar Suparman sudah telanjur pinjam bank titil Rp 2 juta.
Prediksi warga Kampung Mlayu pun meleset. Masa panen ikan saat kemarau pupus. Sementara, para lelaki garang memakai motor sudah mondar-mandir mendatangi rumah-rumah warga mencari emak-emak Kampung Mlayu untuk membayar cicilan.
Suasana semakin terjepit. Utang menumpuk. Sejak itulah setiap jam 9 pagi usai memasak, rumah-rumah warga sudah ditutup. Jendela rumah juga ditutup rapat. Tidak ada yang berani ngobrol di teras rumah seperti biasanya untuk ngerumpi.
"Wah ini kenapa rumah warga sudah ditutup setiap jam 9 pagi," ujar Budi jasa tagih bank titil dengan kaget.
Setiap ada suara motor dengan pengendara motor memakai jaket hitam dan membawa tas, para emak-emak ini segera mlayu atau kabur dan masuk rumah dengan menutup pintu rapat.
"Hei ada Si Budi juru tagih datang, mlayu dan tutup pintu," ujar Sulastri kepada para kerabat dan tetangganya.
Kampung yang identik dengan lelaki berani dan emak-emak cerewet ini, ternyata takutnya sama juru tagih. Saban jam 9 pagi sudah tidak ada ngerumpi. Memilih menutup rapat rumah-rumah. (*)
*) Warga Bojonegoro suka membaca koran ketika pagi.
Editor : M. Yusuf Purwanto