Agus Rowandi, salah satu pembudidaya tanaman hias di Jalan Pahlawan, Kelurahan Sukomulyo memperlihatkan beragam tanaman wijayakusuma. Sayangnya, saat wartawan koran ini ke sana, seluruh bunga wijayakusuma belum berbunga. Sebab, seluruh wijayakusuma yang berbunga sudah laris terjual.
‘’Untung-untungan orang yang memiliki tanaman hias wijayakusuma ini bisa berbunga miliknya, jadi jodoh-jodahan,’’ tutur Agus kepada Jawa Pos Radar Lamongan, kemarin (13/5).
Agus menjelaskan, tanaman wijayakusuma ini banyak menyimpan mitos. Banyak yang mempercayai jika melihat waktu bunga mekar pertama kali dan mendengar suaranya, maka orang tersebut akan sukses dan rejekinya banyak.
‘’Banyak pecinta wijayakusuma menunggu momen itu, karena bukan rahasia lagi, dipercaya seperti itu,’’ ujar Agus.
Agus mengatakan, tanaman wijayakusuma ini unik, yakni tidak bisa ditebak kapan berbunga. Apalagi, menurut dia, saat berbunga hanya pada malam hari. Karena itu wijayakusuma juga dikenal sebagai ratu malam atau queen of the night.
‘’Bunganya ini hanya kuat sehari, terkadang ada orang rela menunggu untuk melihat bunga ini,’’ ucapnya.
Tak jarang para pecinta bunga rela begadang semalaman, karena hanya ingin melihat momen bunga pertama kali mekar. Sebab, banyak yang penasaran dengan mitos yang tersimpan pada bunga tersebut.
Meski begitu, diakuinya, wijayakusuma ini juga cukup bagus dan indah, untuk sebagai penghias depan rumah. Bunga ini juga bisa sebagai tanaman gantung, atau juga bisa ditanam di tanah.
‘’Mudah juga cara memperbanyaknya, dipotong dan ditancapkan, sudah bisa tumbuh,’’ katanya.
Agus mengaku, bunga wijayakusuma ini sejenis kaktus yang kuat di tanah kering. Sehingga, saat hujan tidak perlu disiram. Ketika musim kemarau penyiramannya juga tidak membutuhkan banyak air.
‘’Pokoknya tidak boleh kena air banyak-banyak, nanti busuk tanamannya,’’ imbuh Agus.
Untuk media tanam bisa memakai sekam dan kompos. Kemudian juga dilakukan perawatan tiap hari. Jika ingin cepat berbunga bisa diberi perangsang bunga seperti NPK. ‘’Tapi tidak pasti berbunganya,’’ ujarnya. (sip/ind) Editor : M. Yusuf Purwanto