LAMONGAN, Radar Lamongan – Pawai ogoh - ogoh di Desa Balun, Kecamatan Turi menarik perhatian warga kemarin (21/3). Sebagian penonton pawai tersebut berasal dari warga luar desa setempat.
Istiqomah, asal Desa Bakalan Pule, Kecamatan Tikung, mengaku bersama warga desanya naik mobil pikap demi bisa melihat pawai ogoh-ogoh.
‘’Saya antusias dengan pawai ogoh-ogoh ini. Saya berharap ke depan bisa lebih meriah,’’ katanya.
Millen, warga Desa Made, Kecamatan Lamongan, mengatakan, sekitar tiga tahun pawai ogoh – ogoh ditiadakan karena pandemi Covid-19. Pawai itu kian mengukuhkan Desa Balun yang terkenal dengan Desa Pancasila.
‘’Dengan keberagaman agama, hindu, islam, dan kristen, dengan ini mereka semakin bertoleransi,’’ jelas perempuan 23 tahun ini.
Tadi, pemangku Pura Sweta Maha Suci Desa Balun, menjelaskan, pawai ogoh-ogoh ini dalam rangkaian nyepi. ‘’Puasa nyepi selama 24 jam, mulainya menjelang terbit matahari sampai terbit matahari lagi,’’ katanya.
Kemarin, ada 13 ogoh – ogoh diusung keliling desa. Empat ogoh – ogoh buatan umat hindu. Selebihnya, dari kelompok masyarakat. ‘’Filosofi ogoh - ogoh menggambarkan sifat manusia yang bersifat keangkaramurkaan. Tujuannya setelah bentuk itu kemudian kita bakar, adalah tujuanya mengembalikan sifat itu jadi baik,’’ jelasnya. (sip/yan) Editor : M. Yusuf Purwanto