Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Tingkatkan Imun dengan Ketumbar

M. Yusuf Purwanto • Minggu, 12 Februari 2023 | 18:37 WIB
KELAINAN GENETIK: Burung puyuh albino memiliki prospek yang cukup bagus untuk dibudidayakan.  (ANJAR DWI PRADIPTA/RDR.LMG)
KELAINAN GENETIK: Burung puyuh albino memiliki prospek yang cukup bagus untuk dibudidayakan. (ANJAR DWI PRADIPTA/RDR.LMG)
LAMONGAN, Radar Lamongan  - Rintik hujan mengiringi perjalanan menuju ke rumah peternak puyuh albino di Desa Bakalanpule, Kecamatan Tikung, Syaiful Rizal, kemarin (11/2). Syaiful dengan sumringah menyambut kedatangan wartawan koran ini.  Saat masuk ke gerbang rumahnya, terlihat tiga kandang. Dua kandang dengan tiga tingkat, serta satu kandang dengan dua tingkat.

Lebar kandang sekitar 60 centimeter (cm), dengan panjang sekitar 90 cm. Kandang tersebut memiliki tinggi yang berbeda antara depan dan belakang. Tinggi sisi depan sekitar 25 cm, serta sisi belakang tingginya sekitar 18 cm. Di dalam kandang tersebut terdapat ratusan ekor burung puyuh albino.

Dia mengaku sudah beternak burung puyuh albino sejak Tahun 2018. Meski memiliki kelainan genetik, tapi burung puyuh albino tidak mudah stres dibandingkan puyuh normal.

‘’Kemudian pakannya juga mudah, bisa dicampur dengan pakan fermentasi,’’ tuturnya kepada Jawa Pos Radar Lamongan, kemarin (11/2).

Penggunaan pakan fermentasi, membuat dia bisa lebih untung dan menghemat bajet. Burung puyuh normal ketika diberi pakan fermentasi, maka persentase bertelurnya maksimal hanya 75 persen. Sedangkan, burung puyuh albino persentase bertelurnya bisa mencapai sekitar 80 persen.

Keuntungan lainnya, dengan pakan fermentasi membuat kandang tidak berbau. Sebab,  pakan tercerna dengan bagus oleh puyuh. Sehingga saat keluar tinggal ampasnya. Selain itu, jika tanpa pakan fermentasi, seratus ekor burung puyuh menghabiskan pakan selama 12 hari.

‘’Tapi kalau dikasih tambahan pakan fermentasi bisa sampai 25 hari. Jadi banyak keuntungannya dan kotoran tidak terlalu bau,’’ ucap Rizal, sapaan akrabnya.

Rizal biasa membersihkan kadang dua hari sekali. Untuk penetasan, dalam satu kandang berisi 20  ekor betina dan lima pejantan. Sedangkan, jika untuk petelur maka satu kandang bisa diisi hingga 35 ekor burung puyuh albino.

‘’Biasanya puyuh usia 45 hari itu sudah bisa bertelur,’’ katanya.

Rizal mengaku, sempat menemui kendala dalam beternak burung puyuh albino. Saat awal beternak, dia kesulitan menetaskan telur. ‘’Puyuh albino ini barang langka, jarang ada yang bisa mengembangbiakkan,’’ ucapnya.

Namun, kini Rizal sudah tidak menemukan kendala lagi. Terakhir, Rizal mampu menetaskan sekitar 140 butir telur, dengan 87 ekor burung puyuh albino yang bisa hidup. Penetasan telur puyuh albino memakan waktu hingga 17 hari.

‘’Untuk patokan suhu sekitar 100 fahrenheit,’’ imbuhnya.

Sedangkan, obat flu bagi burung puyuh albino yakni cukup menggunakan merica yang dicampurkan ke pakan. Selain itu, Rizal tidak menggunakan obat-obatan untuk meningkatkan imun burung puyuh albino ini. Dia hanya menggunakan ketumbar, yang dinilainya cukup efektif karena berbahan alami.

‘’Ketumbar dikasih setiap dua hari sehari yang dicampur pakan,’’ terangnya. (sip/ind) Editor : M. Yusuf Purwanto
#budidaya #burung #telur #puyuh #albino