Komoditi tebu biasanya areanya di dekat hutan. Dia mencontohkan, komoditi tebu banyak ditemui di Kecamatan Sambeng, Mantup, Ngimbang, dan Kembangbahu. Wilayah-wilayah yang selalu tanam tebu setiap tahunnya. Kemudian untuk tembakau juga sama, wilayahnya paling banyak Bluluk, Modo, Kedungpring, dan Mantup.
Bakrudin mengatakan, dua komoditi ini hanya diminati petani tertentu. Sebab untuk tebu misalnya, hanya panen satu kali. Panen tercepat usia 10 bulan, serta normalnya 12 bulan untuk kualitas gula tertinggi. Menurut dia, beberapa tahun lalu ada penurunan luasan tebu. Karena harga yang tidak bersahabat dengan petani sehingga tidak bisa melakukan sewa lahan.
‘’Dua tahun lalu sempat ada penurunan, tapi sekarang sudah normal meski belum ada peningkatan luasan,” ujarnya.
Jika melihat kondisi tahun lalu, kemungkinan petani memiliki semangat tinggi untuk tanam. Sebab tebu tahun lalu harganya cukup tinggi yakni Rp 69.500 per kuintal. Harga tebu disesuaikan dengan kualitas rendemennya. Semakin tinggi, pastinya semakin mahal.
‘’Kalau dari survei sementara, kemungkinan minatnya masih tinggi, minimal luasan sama dengan tahun lalu sekitar 3.300 hektare (ha),” ucapnya.
Terkait laporan luasan, diakuinya, kemungkinan akhir Februari. Sebab sudah masuk musim penghujan. Bakrudin menambahkan, untuk komoditi perkebunan tetap harus ada. Mengenai luasan memang disesuaikan dengan modal petani juga.
‘’Harapannya dari pabrik bisa memberikan akses permodalan untuk memudahkan petani dalam masa tanam dan perawatannya,’’ terangnya. (rka/ind) Editor : M. Yusuf Purwanto