Kepala Disnakkan Lamongan, Wahyudi, menjelaskan, BEF menduduki peringkat pertama kasus terbanyak pada ternak di Lamongan. Penyakit ini biasa menyerang ternak sapi. Penularannya melalui vektor nyamuk.
Menurut dia, BEF sangat dipengaruhi perubahan iklim dan lingkungannya. Penyakit tersebut akan berkembang pesat pada saat terjadinya kenaikan suhu lingkungan.
Wahyudi menjelaskan, gejala BEF di antaranya hipersalivasi, anoreksia, dan demam. Jika terserang lebih dari tiga hari, maka biasanya langsung tumbang. ‘’Tingkat keparahannya biasanya diketahui 3-5 hari. Kalau sudah dilakukan penanganan, bisa langsung sembuh,” jelasnya.
Wahyudi mengatakan, penyakit ini disebabkan virus RNA beruntai tunggal. Virus ini biasa berkembang pada musim penghujan serta dapat dikenali dengan kehilangan nafsu makan dan minum, pembengkakan sendi yang bisa menyebabkan pincang.
Virus ini berisiko pada sapi bunting karena bisa mengakibatkan keguguran. Saat menyerang sapi perah, maka bisa menurunkan produksi susu. Menurut dia, virus ini bisa dicegah dengan peningkatan imunitas, vaksinasi, dan menjaga sanitasi lingkungan.
“Tingkat kesembuhannya lebih tinggi jika langsung tertangani, sehingga harus langsung dilaporkan,” ujarnya.
Selain BEF, jenis penyakit yang banyak ditemukan pada ternak di Lamongan adalah scabies. (rka/yan) Editor : M. Yusuf Purwanto