Sekilas tak ada yang spesial pada bangunan rumah menghadap selatan itu. Tapi ketika naik ke lantai dua, terdapat sekitar sepuluh kotak kayu berukuran 40 centimeter (cm) x 50 cm, yang di sekelilingnya terdapat sejumlah lebah.
Selanjutnya, Afif mengenakan topi loreng dengan jaring penutup wajah warna hijau. Pria 30 tahun itu dengan cekatan membuka salah satu kotak. Setelah diangkat, barulah tampak gerombolan lebah di sarangnya. Afif mengenakan pelindung wajah, sebab lebah apis cerana lebih agresif dibanding jenis lebah budidaya lainnya.
‘’Lebah di dalam ini ada tiga yakni lebah pekerja, lebah jantan, dan ratu lebah. Tentunya mempunyai peran masing-masing,’’ tutur Afif kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (14/10).
Afif menjelaskan, karakteristik tiga jenis lebah tersebut. Lebah pekerja berwarna kuning dengan garis hitam, yang bertugas mencari bunga untuk dihisap sari madunya. Sedangkan, lebah jantan memiliki warna hitam dan ukurannya lebih besar, yang bertugas mengawini ratu lebah.
‘’Jadi saya memberi ram besi, dengan tujuan yang bisa keluar hanya lebah pekerja saja,’’ imbuh Afif.
Awalnya, Afif membudidayakan lebah klanceng pada Tahun 2019. Setahun berikutnya, Afif melirik budidaya lebah apis cerana, yang kebanyakan menganggap sulit untuk dibudidayakan. Setelah mencoba, Afif membuktikan jika lebah apis cerana mudah dibudidayakan.
‘’Hasil madu lebah apis cerana tentunya lebih mahan dibandingkan madu yang lainnya,’’ ucap Afif.
Selain sulit dibudidayakan, hal lain yang membuat madu apis cerana lebih mahal yakni produksinya lebih sedikit dibanding lebah jenis lainnya. Afif biasa menjual madu beserta sarangnya. Itu dilakukan agar konsumen lebih percaya, jika madu yang dijualnya benar-benar asli. Harga madu dari lebah apis cerana Rp 109 ribu per 450 gram.
‘’Dalam tiga bulan ini, pohon sono di depan rumah banyak yang berbunga, sehingga bisa memanen madu hingga 5 kg per kotak,’’ terangnya. (mal/ind)