Kepala Dinas Perhubungan Lamongan Heruwidi menjelaskan, pengelolaan terminal tipe C memang sulit karena hanya menangani MPU elf. Kemudian untuk jumlah transportasi tersebut setiap tahun mengalami penurunan.
Dia mencontohkan elf jurusan Paciran Tuban. Empat tahun lalu jumlahnya mencapai 120 unit. Kini berkurang 50 persen karena memang tingkat kebutuhan dari kendaraan tersebut menurun. Masyarakat memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi.
''Akibatnya secara retribusi berkurang signifikan dan membutuhkan pembenahan,'' tutur Heruwidi kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (4/9).
Dia menjelaskan, ada enam terminal yang dikelola Pemkab. Yakni Babat, Ngimbang, Paciran, Pasar burung, Sukodadi dan Brondong. Dari enam terminal ini sebenarnya masih aktif tapi minim kontribusi.
Sehingga, dari enam terminal ini tidak semua bisa menyetorkan pendapatan asli daerah (PAD). Seharusnya untuk terminal ini dibebani PAD. Namun, diakuinya, kini belum bisa maksimal karena memang untuk pemanfaatan kurang efektif.
“Kami belum bisa menyebut secara angka, tapi berusaha untuk menyetorkan PAD,” imbuhnya.
Terkait pemeliharaan, Heruwidi menuturkan memang kurang optimal. Tahun depan akan dilakukan pemeliharaan bertahap dan memperbaiki pelayanan agar bisa memberikan kontribusi yang sesuai untuk daerah. “Kita sudah mewajibkan ke MPU untuk masuk ke terminal tapi memang kondisinya kebutuhan jasa angkutan umum ini terus mengalami penurunan,” tuturnya.
Heruwidi menambahkan, untuk terminal tipe C memang butuh banyak perbaikan. Selain fisik, terminal tipe C ini butuh banyak pembenahan dan evaluasi lapangan. Karena secara kebutuhan harus dievaluasi juga sehingga tidak memberatkan dan tetap bisa mengutamakan pelayanan. (rka/ind) Editor : M. Yusuf Purwanto