RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Dalam beberapa tahun terakhir, pengaruh influencer dalam kehidupan sehari-hari semakin terasa.
Rekomendasi figur di media sosial kerap lebih menentukan pilihan publik dibanding saran keluarga, teman dekat, bahkan pendapat ahli. Dari keputusan membeli produk hingga membentuk opini sosial, suara influencer sering kali menjadi rujukan utama.
Fenomena ini kerap dipersepsikan sebagai dampak budaya digital yang dangkal. Namun, sejumlah penelitian di bidang psikologi sosial dan komunikasi menunjukkan bahwa mudahnya orang terpengaruh influencer bukanlah fenomena baru, melainkan bentuk baru dari mekanisme psikologis lama yang kini bekerja dalam medium yang berbeda dan jauh lebih intens.
Dari Media Massa ke Media Sosial: Mekanisme yang Sama, Konteks yang Berbeda
Konsep parasocial interaction pertama kali diperkenalkan oleh peneliti komunikasi Donald Horton dan Richard Wohl dalam jurnal Psychiatry pada 1956. Pada masanya, teori ini digunakan untuk menjelaskan hubungan semu antara audiens dan figur media massa seperti penyiar radio, pembawa acara televisi, atau selebritas layar lebar.
Horton dan Wohl tidak membahas media sosial yang memang belum ada waktu itu, melainkan menjelaskan mekanisme psikologis dasar: kecenderungan manusia membangun rasa kedekatan emosional melalui paparan berulang terhadap figur yang hadir secara konsisten di media.
Mekanisme inilah yang kemudian menemukan bentuk baru di era digital. Studi-studi lanjutan dalam Journal of Social and Personal Relationships menunjukkan bahwa media sosial tidak menciptakan hubungan parasosial dari nol, melainkan memperkuat dan mempercepatnya.
Frekuensi unggahan yang tinggi, konten personal, serta ilusi interaksi dua arah melalui komentar dan pesan langsung membuat kedekatan semu terasa lebih nyata dibanding era media satu arah.
Dalam konteks ini, influencer tidak dipersepsikan sebagai figur publik yang jauh, melainkan sebagai “orang yang dikenal” dalam ruang digital.
Jalan Pintas Kognitif di Tengah Ledakan Informasi
Pengaruh influencer juga berkaitan dengan cara otak manusia mengelola informasi. Daniel Kahneman, peraih Nobel Ekonomi, dalam rangkaian riset yang dipublikasikan di Psychological Review dan dirangkum dalam Thinking, Fast and Slow, menjelaskan bahwa manusia cenderung mengandalkan proses berpikir cepat (System 1) untuk menghemat energi mental.
Di tengah banjir informasi digital, influencer berfungsi sebagai penyederhana keputusan. Mereka mengemas pilihan kompleks seperti produk, gaya hidup, bahkan sikap moral, menjadi narasi singkat yang mudah dipahami.
Penelitian Alter dan Oppenheimer dalam Psychological Science (2009) menunjukkan bahwa informasi yang mudah diproses (cognitive fluency) cenderung dinilai lebih benar dan lebih dapat dipercaya, terlepas dari kedalaman substansinya. Dalam kondisi ini, rekomendasi influencer terasa meyakinkan bukan karena paling akurat, melainkan karena paling mudah dicerna.
Social Proof dan Validasi Popularitas
Selain kedekatan emosional, pengaruh influencer diperkuat oleh mekanisme social proof. Konsep ini banyak dibahas dalam riset Robert Cialdini dan dipublikasikan di Journal of Personality and Social Psychology. Manusia cenderung menilai suatu pilihan lebih tepat ketika melihat banyak orang lain melakukan hal yang sama.
Di media sosial, jumlah pengikut, like, dan komentar berfungsi sebagai sinyal sosial. Penelitian dalam Computers in Human Behavior menunjukkan bahwa metrik popularitas meningkatkan persepsi kredibilitas, meski tidak selalu berkorelasi dengan kualitas informasi.
Dengan kata lain, popularitas sering dibaca otak sebagai bentuk validasi kolektif.
Influencer sebagai Referensi Identitas Diri
Pengaruh influencer tidak berhenti pada konsumsi produk. Riset tentang identitas sosial dalam Journal of Personality and Social Psychology menjelaskan bahwa individu membentuk konsep diri melalui asosiasi dengan figur dan kelompok tertentu.
Mengikuti influencer tertentu sering kali berarti mengadopsi gaya hidup, nilai, dan aspirasi yang direpresentasikan. Dalam konteks ini, influencer berfungsi sebagai simbol identitas, bukan sekadar komunikator. Audiens tidak hanya mengikuti konten, tetapi juga mencoba mendekati versi diri yang mereka bayangkan.
Emosi Mendahului Evaluasi
Sejumlah penelitian dalam Journal of Consumer Research dan Emotion Review menunjukkan bahwa pesan yang memicu emosi positif cenderung diterima lebih cepat, sementara evaluasi kritis sering tertunda. Konten influencer yang personal dan naratif memanfaatkan mekanisme ini.
Ketika emosi terlibat, otak lebih fokus pada cerita dan kedekatan, bukan pada verifikasi atau perbandingan sumber.
Fenomena Psikologis, Bukan Sekadar Tren Digital
Berbagai temuan tersebut menunjukkan bahwa mudahnya orang dipengaruhi influencer bukan tanda menurunnya rasionalitas publik. Sebaliknya, ini mencerminkan bagaimana mekanisme sosial dan kognitif lama bekerja lebih kuat dalam lingkungan digital yang dirancang untuk mempertahankan perhatian.
Masalah muncul ketika kedekatan emosional disamakan dengan kompetensi, dan popularitas dianggap sebagai otoritas.
Pengaruh influencer adalah hasil pertemuan antara psikologi manusia dan desain platform modern. Memahaminya bukan untuk menolak kehadiran influencer, melainkan untuk menyadari bagaimana kepercayaan terbentuk dan kapan keputusan kita benar-benar diambil secara sadar, bukan sekadar mengikuti arus perhatian. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari