Perkembangan olahraga lari kian meluas. Tak hanya bagi yang punya basic olaharaga. Salah satunya Run in Cotton, menggaungkan bahwa olahraga lari tak harus mahal.
DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Bojonegoro
SEKITAR 25 anak muda tampak berlari di seputaran Bojonegoro Kota, pada Minggu pagi (9/2). Tak seperti lari pagi pada umumnya, muda-mudi ini mengenakan pakaian yang tak lazim bagi pehobi olahraga.
Bahkan, pakaian yang dikenakan lebih bernuansa tongkrongan, anak band, dan kegiatan yang secara umum jauh dari olahraga.
Ternyata, hal itu justru yang menjadi gerakan yang digaungkan di perkumpulan anak muda melalui ‘Run in Cotton’ . Dengan hanya mengenakan kaus katun atau bahkan seadanya, gerakan ini menggabungkan olahraga, dan gaya pakaian kasual yang dipengaruhi kaum urban.
Gerakan kreatif ini mulai digaungkan di kota-kota seperti Jakarta, Surabaya, dan Bali, untuk merayakan gaya hidup sehat untuk semua kalangan. Salah satu inisiator ‘Run in Cotton’ di Bojonegoro yakni Angger Bilal Prakoso, pria asal Kelurahan Mojokampung, Kecamatan Kota.
Menurutnya, gerakan ini bermula saat melihat semakin banyaknya pehobi lari di Bojonegoro. ‘’Tapi kalau kita ikut ritme para pelari sekarang yang penuh dengan barang-barang mahal, tentu tidak bisa. Sampai akhirnya kami menemukan cotton in run,” cerita pria yang juga berprofesi sebagai guru olahraga itu.
Pria yang akrab disapa Angger tersebut meyakini, bahwa kegiatan lari sebenarnya merupakan olahraga yang murah. Hal itulah yang mencoba kembali dikampanyekan bersama teman-temannya.
‘’Dengan lari yang tidak harus pakai outfit yang mahal, kalau rerata punya kaus katun ya pakai saja. Tidak perlu pakai jersey,” imbuhnya.
Akhirnya, gerakan lari tersebut, mulai dilaksanakan pertama kali pada Minggu lalu, dengan jarak 5 kilometer, sudah bisa menyedot animo lebih dari 25 orang. Tak hanya itu, menyadari gerakan lari dengan kaus ini, mendapat antusiasme dari rerata anak muda di skena musik, kesenian, dan berbagai kalangan.
Dengan slogan ‘slow pace’ (kecepatan lambat), para pelari lebih mengutamakan kegembiraan selama berolahraga. Angger berharap, bahwa olahraga lari ini bisa dinikmati oleh seluruh kalangan, khususnya anak-anak muda di Bojonegoro untuk hidup sehat.
Seperti rerata pehobi lari di Run in Cotton, yang sebagian besar merupakan anak tonkrongan. Hal itu mencoba diseimbangkan dengan aktivitas lari, tanpa perlu takut dicap ikut-ikutan. ‘’Karena anak muda tentu identik dengan nongkrong, ngopi,” pungkasnya. (dan/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana