Gangguan Bipolar Bukan Sekadar Perubahan Suasana Hati

Andhika Feriawan • Dipublikasikan Senin, 26 Oktober 2026 | 16:45 WIB
Gangguan bipolar juga kerap disalahartikan sebagai kondisi ketika seseorang mengalami perubahan emosi secara cepat. (MAGNIFIC)
Gangguan bipolar juga kerap disalahartikan sebagai kondisi ketika seseorang mengalami perubahan emosi secara cepat. (MAGNIFIC)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Gangguan bipolar merupakan kondisi kesehatan mental yang ditandai dengan perubahan suasana hati secara episodik, mulai dari peningkatan energi dan aktivitas yang berlebihan hingga perasaan sedih mendalam, kehilangan minat, dan kelelahan. Kondisi ini bukan sekadar perubahan suasana hati biasa karena dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari, hubungan sosial, pendidikan, hingga pekerjaan seseorang.

Gangguan bipolar juga kerap disalahartikan sebagai kondisi ketika seseorang mengalami perubahan emosi secara cepat. Padahal, perubahan suasana hati pada gangguan bipolar memiliki pola, durasi, dan tingkat keparahan tertentu yang memerlukan pemeriksaan profesional.

Menurut artikel tinjauan ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal The BMJ pada 2023 berjudul Diagnosis and Management of Bipolar Disorders, gangguan bipolar memengaruhi sekitar 2 persen populasi dunia. Kondisi ini dapat berlangsung berulang dan menjadi penyebab gangguan fungsi serta penurunan kualitas hidup jika tidak ditangani dengan tepat.

Mengenal Gejala Gangguan Bipolar

Gangguan bipolar ditandai oleh episode mania atau hipomania dan episode depresi. Kedua kondisi tersebut memiliki karakteristik yang berbeda.

Baca Juga: 10 Karakteristik Kepribadian yang Terlihat dari Cara Seseorang Berbicara

1. Episode Mania atau Hipomania

Mania merupakan kondisi ketika seseorang mengalami peningkatan suasana hati, energi, dan aktivitas secara tidak biasa. Pada fase ini, seseorang dapat merasa sangat bersemangat, memiliki banyak ide, serta merasa mampu melakukan berbagai hal tanpa mengenali keterbatasannya.

Gejala mania dapat meliputi berkurangnya kebutuhan tidur, berbicara lebih cepat, pikiran yang berpindah-pindah, meningkatnya rasa percaya diri secara berlebihan, hingga perilaku impulsif seperti berbelanja tanpa mempertimbangkan konsekuensi keuangan.

Pada kondisi yang lebih berat, episode mania dapat disertai gangguan penilaian terhadap kenyataan dan membutuhkan penanganan medis segera.

Sementara itu, hipomania memiliki gejala serupa, tetapi tingkat keparahannya lebih ringan dibandingkan mania. Meski demikian, hipomania tetap dapat memengaruhi perilaku dan fungsi seseorang.

2. Episode Depresi

Pada fase depresi, seseorang dapat mengalami kesedihan berkepanjangan, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, merasa tidak berharga, serta mengalami perubahan pola tidur dan nafsu makan.

Gejala lainnya meliputi kesulitan berkonsentrasi, kelelahan, perasaan bersalah berlebihan, dan menurunnya kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari.

Dalam kondisi tertentu, episode depresi juga dapat disertai pikiran tentang kematian atau bunuh diri sehingga membutuhkan pertolongan profesional.

Gejala depresi pada gangguan bipolar dapat menyerupai depresi mayor. Karena itu, riwayat episode mania atau hipomania menjadi bagian penting dalam proses diagnosis.

Apa Penyebab Gangguan Bipolar?

Hingga kini, gangguan bipolar belum diketahui memiliki satu penyebab tunggal. Para peneliti menilai kondisi ini melibatkan interaksi berbagai faktor biologis, genetik, dan lingkungan.

Tinjauan ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal American Journal of Psychiatry pada Maret 2026, berjudul Bipolar Disorder: An Update on Neurobiology and Treatment, membahas hubungan berbagai sistem biologis dengan gangguan bipolar.

Penelitian tersebut menyoroti sejumlah bidang yang terus dipelajari, termasuk faktor genetik, fungsi otak, peradangan, respons terhadap stres, metabolisme energi, serta ritme sirkadian atau jam biologis tubuh.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa gangguan bipolar merupakan kondisi yang kompleks. Namun, berbagai mekanisme biologis yang dibahas dalam penelitian masih terus diteliti dan tidak dapat digunakan untuk menentukan penyebab pasti pada setiap individu.

Baca Juga: Orang yang Jarang Mengunggah Kehidupan Pribadi di Media Sosial Biasanya Punya Sifat Ini

Selain faktor biologis, stres dan gangguan pola tidur dapat berperan dalam munculnya atau memburuknya episode suasana hati pada sebagian orang yang rentan. Meski demikian, stres saja tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan seseorang mengalami gangguan bipolar.

Mengapa Gangguan Bipolar Sering Sulit Dikenali?

Salah satu tantangan dalam penanganan gangguan bipolar adalah proses diagnosis yang tidak selalu mudah. Sebagian orang lebih dahulu mencari pertolongan ketika mengalami depresi, tetapi tidak menyadari bahwa periode peningkatan energi atau aktivitas sebelumnya mungkin berkaitan dengan hipomania atau mania.

Artikel tinjauan yang diterbitkan dalam jurnal JAMA pada 2023 dengan judul Diagnosis and Treatment of Bipolar Disorder: A Review menjelaskan bahwa gangguan bipolar ditandai dengan episode depresi dan mania atau hipomania yang dapat terjadi berulang.

Kesamaan gejala depresi bipolar dengan depresi mayor dapat menyulitkan proses identifikasi. Oleh karena itu, tenaga kesehatan perlu mengevaluasi riwayat perubahan suasana hati, durasi gejala, pola tidur, perilaku, serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.

Diagnosis tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan tes kepribadian, unggahan di media sosial, atau perubahan emosi yang dialami dalam waktu singkat.

Pemeriksaan oleh psikiater atau tenaga kesehatan mental yang kompeten diperlukan untuk membedakan gangguan bipolar dari kondisi lain yang memiliki gejala serupa. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
bipolar penyakit jiwa emosi depresi kesehatan