Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Cerpen Radar Bojonegoro: Si Kakek dan Kucing Hitam oleh Ahmad Zaini

M
Penulis: Muhammad Suaeb❯
Grafis lembar budaya (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Grafis lembar budaya (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

Advertisement

Karya: Ahmad Zaini


Pohon rindang pagi itu lengang. Kakek yang biasa berteduh di situ tidak tampak. Hanya kucing hitam yang biasanya pulas di pangkuan lelaki itu yang terlihat. Mata kucing tak setajam sebelumnya. Kali ini sayu. Matanya redup. Ia bersedih karena sang majikan tidak bersamanya. Kucing mengeong gelisah. Ia memanggil-manggil Kakek. Hingga matahari sore menjingga, kucing itu masih gelisah sendiri dengan mondar-mandir mengitari pohon yang diperkirakan sudah berusia ratusan tahun.

Advertisement

Hari mulai gelap. Kakek belum juga datang. Daun-daun pohon terdiam enggan menari bersama hembus angin malam. Pohon tersebut pun merasakan hal sama dengan kucing. Lelaki yang biasanya berteduh dan bermalam di bawahnya tak kunjung datang.

Dari kejauhan terlihat bayangan sosok tua berjalan terhuyung-huyung. Dia sepertinya telah mengalami sesuatu. Semakin dekat semakin jelas. Ternyata Kakek itu yang datang sembari memegangi perut yang bersimbah darah.

“Tolong, tolong!” serunya lirih lantaran energinya terkuras.

Sesampai di bawah pohon, Kakek tumbang. Dia ambruk di gelaran karung yang biasanya digunakan sebagai alas tidur.

Kucing kesayangan menghampirinya. Ia mengeong keras mengundang perhatian orang yang melintas. Namun, malam yang prematur belum memberi keleluasaan orang-orang keluar rumah. Masyarakat masih menahan diri biar masa yang menurut mitos kurang baik itu berlalu terlebih dahulu. Baru lima belas atau tiga puluh menit kemudian, orang-orang berani keluar rumah.

Tampak dua orang sedang berjalan mendekati kakek yang masih meringkuk. Kucing hitam peliharaan lelaki itu seketika melompat ke depan kedua orang yang ternyata sepasang suami-istri. Suara kucing semakin kerap dan keras menggugah kesadaran kedua orang tersebut. Muncul firasat yang tidak enak berada di sekitarnya. Si suami duduk sambil mengelus bulu kucing yang sudah tak jelas warnanya karena gelap. Kucing itu pun bergerak sambil memepet kaki kanan laki-laki. Kucing membimbingnya ke arah kakek yang tak sadarkan diri.

“Bu, ke sini!” lelaki terkejut kemudian memanggil istrinya. Si istri mendekat. Dia kaget setelah melihat suaminya memangku sosok Kakek yang biasanya mereka lihat duduk di bawah pohon.

“Kenapa kakek ini?” tanya istrinya dengan raut kapanikan.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer